Amanat Rektor Universitas Al-Ahgaff kepada Wisudawan

Oleh : Mohamad Abdurrouf

Sudah semestinya, dilabeli oleh para ulama sebagai seorang wisudawan bukan perkara enteng. Wisuda berarti standar keilmuan yang dianggap oleh para ulama sudah ada dalam diri mahasiswa. Ibarat melamar seorang gadis, si bapak pasti akan memastikan bibit, bebet dan bobot dulu sebelum mengakadkan. Masalahnya, si bapak ini bukan orang gampangan dan punya standar yang tak gampang pula. Putri yang hendak dilamar adalah ilmu sekaligus amanat untuk menanggungnya. Wisudawan sanggup menanggungnya. Untung saja mereka ini bukan gunung, yang dulu pernah tak sanggup menanggung amanat yang dibebankan Penguasa Alam.

Rektor Universitas Al-Ahgaff, Habib Profesor Abdullah bin Muhammad Baharun yang biasa kami panggil Abuya, hadir dalam acara wisuda angkatan 21. Beliau memberikan plakat kepada mahasiswa tingkat akhir untuk mewisuda mereka. Dalam amanatnya, ada beberapa poin penting yang disampaikan.


Pertama, Abuya mengucapkan selamat dan mengingatkan untuk selalu bersyukur atas nikmat ilmu yang diraih. Ilmu memang nikmat dan selalu asyik bagi tiap pengagumnya. Namun di saat yang sama, ia adalah amanat, tanggungan dan beban untuk “dinafkahi”, ditunaikan dan tidak dikhianati. Jika seseorang telah diberi pemahaman tentang Al-Quran, hadis, tafsir, fikih, ushul fikih, tarikh, cara ijtihad, dekat dengan ulama; dan dia menduga bahwa Allah telah memberikan nikmat yang lebih agung kepada orang lain, bukankah hakikatnya ia sedang su’udzan kepada Allah?


Kedua, beliau memberikan wejangan dan mewanti-wanti kepada semua muridnya. Ada beberapa hal yang diperingatkan. Semuanya urusan penting dan tidak main-main.
Agama bukan barang dagangan. Bukan pula pernak-pernik dunia yang membikin laku tidaknya si pedagang. Tidak seperti; kau pergi ke Tarim untuk kulakan lalu menjualnya dengan harga tinggi. Jika orang kaya datang, kau sambut amplop itu dengan segala fatwa kemudahan. Jika si miskin sowan, kau tempatkan ia di pinggir, berdampingan dengan fatwa yang aduh memberatkan. “Jangan sampai kau jual agamamu, kau tukar dengan dunia bagi orang lain (pesuruhmu),” larang beliau.


Kehormatan santri bukan gara-gara ia telah membaca kitab dari koma sampai titik, meneliti hadis dari alif sampai ya’, mempelajari dalil dari tanda tanya sampai tanda seru. Kehormatan terbesar terletak pada nisbat keilmuan. Ilmu yang ia pikul bernisbat bukan kepada sembarang tokoh, melainkan kepada dia yang paling mulia dunia akherat. Kehormatan ini tidak berjasad pada dirimu sendiri, tapi pada sumbernya yaitu Rasulullah. Lalu dengan dalih dan dalil apa, atau lewat kaedah yang mana, kau berani menggunakan ilmu itu untuk mengkhianati sumbernya?


Beliau juga sekali lagi, bahkan sering, memperingatkan akan posisi kita dengan politik. Bahwa ia adalah rumah bagi ketidak-akuran dan jungkir balik, tempatnya pecah belah. Jati dirinya adalah adu kepentingan yang tiada akhir. Politik paling bejat adalah mempermainkan agama. Sedangkan tugas kita adalah menjaga, menyatukan dan memperkuat hubungan hati antar saudara. Dari segi ini hakikat kita berbeda dengan kepentingan politik. Maka memperbutai agama lalu mendandaninya demi kepentingan mereka adalah kesalahan. “Seorang hakim dan politikus tidak akan memberimu imbalan, kecuali jika mereka mengambil dua kali lipat dari pengorbanan agamamu,” tandas Abuya.


Tapi di sinilah kita akan dicoba. Rintangan adalah keniscayaan bagi setiap ksatria. Seorang yang telah memproklamasikan bahwa dirinya beriman, mustahil kalau cobaan tidak mendatanginya. Apalagi bagi seseorang yang memikul amanat keilmuan dari Rasulullah. Ibarat penagih utang, cobaan itu tidak sekadar di ambang pintu lagi, tapi dia sudah adu pukul dengan tuan rumah.
Dan untuk memenangkan pertarungan sampai mati ini, kita tidak bisa maju gelanggang sendirian. Kita butuh pertolongan Allah. Selalu jaga hubungan baik dan takwa kepada-Nya. Kita juga harus selalu bersabar.


Tapi ini bukan berarti selamanya kita adalah musuh politik. Dalam beberapa kesempatan lain, Abuya menyatakan bahwa kita juga sesekali akur dengan politik. Beliau memisalkan politik sebagai api. Kita selalu diperingatkan bahwa ia panas dan membakar. Namun kita juga sesekali membutuhkannya untuk menanak nasi, misalnya. Beliau menyatakan ketegasannya, “Kami tidak anti politik dan pemerintah. Namun kami anti terhadap mereka yang memainkan dan menjadikan agama tunduk mengikuti hawa nafsu para politikus dan penguasa.”


Ketiga, Abuya melepas para wisudawan untuk dititipkan kepada inayah Allah. Tidak ada penjagaan yang lebih teliti dan hati-hati dari penjagaan Allah. Seorang ayah terkadang kesulitan untuk menjaga semua anak-anaknya. Tapi itu tidak sukar bagi Allah. Maka Abuya menitipkan anak-anaknya kepada Allah.


Terakhir, beliau menutup amanatnya dengan doa dan harapan. Abuya mendoakan semua yang terbaik kepada para wisudawan dan semua muridnya, agar selalu dalam perlindungan Allah dan selalu dekat dengan Rasulullah.
Dan berakhirlah. Rasa-rasanya, tidak ada lagi yang bisa lebih menggenapi nikmat ini. Pertemuan ini bukan suatu keganjilan sampai perlu digenapkan. Mendengar nasihat beliau juga bukan nikmat yang kurang sampai butuh disempurnakan.

Post a comment

0 Comments