BIOGRAFI RINGKAS HABIB AHMAD BIN UMAR AL ATHOS

Oleh Muh. Sisma Fitra N.
 
Segala puji bagi Allah SWT yang maha Esa dan Satu, yang maha Kekal dan tidak akan hancur lagi fana. Dan sholawat serta salam tercurahkan kepada Sayyidina Muhammad, kekasih Tuhan langit dan bumi. Serta demikian semoga tercurah kepada keluarga dan sahabatnya.

Dibawah ini adalah ringkasan dari Biografi al Habib Ahmad bin Umar al Athos yang kami kumpulkan dan cuplik dari yang tertulis dan kami saksikan dari sosok Habib Ahmad bin Umar.
Adapun pemicu dari pengumpulan ini adalah rasa sedih dan nikmat yang agung atas cinta yang yang Allah anugerahkan rasa cinta itu kepada para auliya dan sholihin.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai pecinta secara hakikat, dan dikumpulkan kelak kita dengan orang yang kita cintai. Amin.

BINTANG YANG TAK DIKENAL ITU BERNAMA AHMAD BIN UMAR




Al Habib Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Abdullah bin Tholib al Athos dilahirkan di Hijrein pada tahun 1362 H, Ibundanya adalah as Syarifah Syaikhoh binti al Habib Abdullah bin Hasan bin Salim Muslim al Kaff yang merupakan Imam dan Khotib di masjid Jami’ Hijrein, dan beliau meninggal pada tahun 1390 H.

Al Habib Ahmad bin Umar tumbuh dibawah pengawasan dan bimbingan Ibundanya dan kakek dari jalur Ibundanya. Dikarenakan sang Ayah al Habib Umar bin Ahmad al Athos melakukan safar ke negri al Haromain as Syarifain pada tahun 1364 H dan tinggal di Makkah al Mukarromah selama sekitar tujuh tahun.

Al Habib Ahmad bin Umar memulai masa belajarnya di Ma’laamah as Syaikh Abubakar Baawajiih bin Afiif di Hijrein. Beliau mengawali belajar al Qoidah al Baghdadiyyah kemudian al Mushaf as Syariif. Kemudian setelah Ayahandanya kembali dari Haromain pada tahun 1370, al Habib Ahmad hanya menjumpai Ayahandanya selama dua tahun, dan pada masa itu pula Ayahandanya lebih banyak menghabiskan masanya diatas ranjang karena sakit.
Dan setelah wafatnya sang Ayahanda pada tanggal 4 Muharram 1373 H beliau memasuki madrasah ta’lim untuk meneruskan belajarnya yaitu di Ma’lamah yang berada di samping masjid Jami’, yang diantara pengajar disana adalah Sayyidi al Habib al Khol Saliim bin Muhammad bin Salim Muslim al Kaff, Syaikh Muhammad bin Abi Bakar Baawajiih bin Afiif. Al Habib Ahmad juga belajar di madrasah Ibn Mahfudh di Khorikhr.

Pada Tahun 1375 H, al Habib Ahmad bin Umar menuju kota Tarim bersama saudara-saudaranya yaitu Habib Muhammad dan Habib Syaikh tinggal di Rubath Tarim dibawah pengawasan as Saadah Alawiy dan Muhsin putera al Habib Ahmad bin Abdullah al Kaff, beliau tinggal di RIbath Tarim sekitar dua tahun. Beliau belajar di Ribath Tarim berbagai kitab matan fiqih dan nahwu dihadapan para masyayikh Rubath, seperti al Habib Hasan bin Abdullah as Syathiriy, al Habib Abubakar bin Abdullah As Syathiriy, dan as Sayyid Ahmad bin as Syekh Ahmad bin as Syaikh Abubakar bin Salim dan as Syaikh Awadh Baafadhol, dll.
Dalam usia beliau tiga belas tahun, beliau sudah mendalami dalam membaca dan mentelaah. Hingga ketekunan itu terlihat dengan banyaknya tulisan beliau disetiap majelis ilmu yang beliau hadiri, dan buku tulis serta penanya menjadi hal yang wajib menjadi teman beliau disetiap beliau duduk di majelis.



Di akhir tahun 1377, beliau menuju Arab Saudi di kota Riyadh dan tinggal disana sekitar delapan tahun. Umur beliau sekitar lima belas tahun. Dan beliau kembali menuju Hijrein di tahun 1385 dan tinggal di Hijrein sekitar satu tahun, dan kembali menuju Arab Saudi dan tinggal di kota Dammam sekitar tigapuluh empat tahun.
Ketika kedatangan Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf di kota Dammam di dalam kunjunganya keliling Saudi Arabia sekitar tahun 1396 H, Habib Abdul Qodir mengadakan majelis mingguan. Pada saat itu di Dammam terdapat banyak Saadah Alawiyyin dan pencari ilmu. Diantaranya adalah al Habib Abdurrahman bin Mushtofa al Muhdhor, al Habib Sholeh bin Abdurrobuh al Junaidi, al Habib Muhammad bin Abdullah Baharun, al Habib Husein bin Ahmad Baagil, al Habib Husein bin Thohir al Haddad, al Habib Ahmad bin Muhammad bin Tholib al Athos, al Habib Abdullah bin Ahmad bin Hadun al Athos, al Habib Ahmad bin Abdillah bin Haduun al Athos, al Habib Abdullah bin Ali bin Hadun al Athos, al Habib Husein Shofi as Segaff, Habib Muhammad bin Agil as Segaff, al Habib Muhammad Athos al Habsyi, al Habib Husein bin Salim al Muhdhor, al Habib Husein bin Umar al Muhdhor, al Habib Alawiy bin Isa al Haddad, al Habib Idrus bin Hasan al Idrus, al Habib Muhammad bin Salim al Hamid, as SYekh Said bin Muhammad al Faqiih al Amudiy, as Syekh Umar Salimin Bamas’ud, as Syekh Abubakar Baasaudaan, dan lain sebagainya masih banyak lagi para penghidup cahaya keilmuan dan semoga Allah merahmati semuanya dari mereka. Amin

Majelis ketika itu diadakan setelah maghrib hari Jumat dan setelah sholat Jumat, adapun majelis yang diadakan setelah sholat Jumat bertempat di Sayyid Isa bin Alawiy al Haddad, sampai beliau pindah ke kakeknya. Kemudian berpindah ke kediaman as Sayyid al Kariim Idrus bin Hasan al IDrus dan majelis ketika itu dihadiri hadirin dalam jumlah yang besar.
Lebih dari yang kami sebutkan tadi, bahwa majelis juga dihadiri oleh Saadah dari keluarga as Segaff, keluarga al Habsyi, keluarga al Idrus, keluarga al Kaff, dan lain sebagainya.
Setelah kepergian Sayyid IDrus bin Hasan al Idrus ke Negri Hadhramaut, Majelis berpindah kerumah Sayyid Muhammad Baalawiy akan tetapi majelis mulai berkurang, karena sebagian telah Allah panggil dan sebagian yang lain telah berpindah dari Dammam. Sedangkan Majelis yang diadakan setelah Maghrib hari Jumat pada awalanya berpindah dari rumah-kerumah, hingga akhirnya menetap di kediaman Sayyid Husein bin Ahmad Baagil Assegaf.
Bulan Rabiul Awal di Dammam pada saat itu seperti hari raya, di hari Jumat awal bulan itu menjadi perayaan yang besar akan lahirnya baginda Nabi Muhammad SAW di rumah Sayyid Idrus bin Hasan al Idrus. Dan malam ke-12 menjadi malam perayaan Maulid Nabi di rumah Munshib as Sayyid Abdullah bin Ali Hadun al Athos, malam ke-13 bertempat di rumah Sayyid Husein bin Salim al Muhdhor, dan hari lainya yang mempunyai susunan khusus yang diadakan di kota tersebut.

Pada saat itu, al Habib Ahmad sangat berhasrat kepada majelis ilmu. Bahkan beliau telah membaca banyak kitab kepada para masyayikh yang tercantum diatas. Beliau menunjukan kegemaran yang sangat tinggi dalam mentelaah, membaca dan menulis. Ketika itu tidak banyak karangan datuknya; Habib Ali bin Hasan al Athos yang tersedia. Dan ketika mulai tersedia, bertambah hasrat kecintaan itu untuk mentelaahnya. dan dimulailah masa beliau menulis ulang kitab-kitab Habib Ali sampai tersedia banyak karangan Habib Ali yang tersedia dan tersebar. Beliau memulai meneliti, mencetak, mempelajari berbagai naskah makhtutot, sehingga tidak ada naskah yang tersisa yang tercecar dan salah tulis. Beliau menulis satu kitab dengan membandingkan lebih dari satu naskah makhtutot. Demikian beliau pelajari, telaah dan teliti semampu beliau dan menyebarkanya kepada para pecinta. Beliau juga gemar dalam kirim-mengirim pesan kepada keluarganya, dan yang dicinta di Jawa, Hadhramaut dan Saudi, kesemuanya itu demi untuk mencari doa, dan mengetahui kabar. Dan telah terkumpul kumpulan surat pesan hingga tiga jilid, dan setiap jilid ukuranya tidak kurang dari 400 halaman. Didalamnya terdapat kabar sanak kerabat, kumpulan tentang berita duka, kelahiran, pernikahan, dan kabar tentang perjalanan. Beliau tinggal di Dammam sekitar tiga puluh tahun, dan bekerja disana di berbagai perusahaan.

Pada tahun 1416 H beliau berpindah dari Dammam ke kota al Ahsaa atas permintaan perusahaan tempat beliau bekerja. Dan pada tahun 1425 H beliau berhenti dari bekerja di perusahaan karena usianya yang mengharuskan pensiun. Dan setelah itu, beliau berpindah-pindah antara Hadhramaut dan Saudi. Dan kebanyakan beliau tinggal di Mukalla. Semasa beliau tinggal di MUkalla beliau sering menghadiri majelis disana, dimulai dari majelis mingguan, bulanan seperti majelis Hadhroh al Habib Sholeh bin Abdullah al Hamid di Diis, majelis tersebut dipimpin oleh al Habib Abdullah bin IDrus al Hamid dan puteranya al Munshib Ali bin Abdullah al Hamid. Beliau juga gemar hadir di majelis ihda Asyariah di kediaman habib Muhsin bin Ali al Muhdhor, dan di jumat akhir di setiap bulan beliau hadir di Qubbah al Habib Ahmad bin Muhsin al Haddar. Beliau juga mempunyai hubungan baik dengan al Habib al Waliy as Shofiy Hasan bin Ahmad al Jufri dan anak-anaknya, yang mana mereka ini adalah yang berjasa atas didirkanya berbagai peringatan acara di Mukalla. Hubungan yang baik itu juga beliau jalin dengan Habib Hasan bin SHoleh al Jufri dan anak-anaknya.

Di masa beliau tinggal di MUkalla, beliau menyusun kitab tentang biografi al Habib Sholeh bin Abdullah al Hamid (Shohibu Amd), biografi al Habib Ahmad bin Muhsin al Haddar, biografi al Habib Salim bin Umar al Athos (Shohibu Syihr), dan ringkasan perjalanan tahunanya. Dan kesemua itu telah beliau selesaikan dan sebarkan kepada yang beliau cintai.
Sedangkan tentang Ziarah tahunan datuknya Habib Ali bin Hasan al Athos di kota Masyhad, beliau terakhir kali ziarah pada tahun 1385 H, masa terakhir kali beliau menginjakan kaki di Negri Hadhramaut 14 tahun silam. Dan pada tahun 1424 beliau ikut berpartisipasi kembali dalam musim ziarah Masyhad Habib Ali bin Hasan. Beliau juga bersaham atas pembacaan kitab-kitab datuknya Habib Ali bin Hasan al Athos dan banyak membagikanya disana. Beliau menyiapkan kesemua itu dari Mukalla dan menghadirkan kitab dari Saudi untuk dibawa ke Masyhad. Beliau juga mengumpulkan qosidah-qosidah yang berkaitan dengan ziarah baik yang digubah oleh Habib Ali bin Hasan ataupun yang digubah untuk Habib Ali bin Hasan.
Pada bulan Rajab tahun 1428 H, beliau mendirikan majelis pembacaan kitab SHohih Bukhori di kota Hijrein dari awal Rajab dibacakan hadir dalam majelis tersebut hadirin yang banyak, dan majelis itu diakhiri pada tanggal 17 bulan Rajab. Demikian beliau meniru dari yang dilakukan kakeknya al Quthb al Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib al Athos yang mengadakan majelis serupa di Pekalongan Jawa Tengah.

Setelah tinggal di Mukalla beliau kembali ke al Ahsaa Saudi hingga sekitar tahun 1439 atau 1440 beliau tinggal di kota Tarim, pada usia senjanya beliau memilih Tarim sebagai negri yang tenang dari hiruk-pikuk masalah dunia. Sekalipun dalam periode tertentu beliau kembali ke al Ahsaa. Akan tetapi beliau sering mengatakan, Tarim lebih beliau sukai karena ketanangan yang ada didalamnya. Beliau memilih tinggal sendiri di Tarim, dan ditemani beberapa pelajar dan pecintanya yang masih menimba ilmu di Tarim duduk setiap sore dan setelah maghrib bersama sembari membaca kitab-kitab karangan beliau dan Habib Ali bin Hasan al Athos. Disamping itu juga, beliau gemar menghadiri majelis-majelis di kota Tarim dan sekitarnya. Di masa beliau tinggal di Tarim, beliau menulis sebuah karangan biografi Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf demikian karena usaha beliau dalam menjalin hubungan dengan orang yang dulu pernah berhubungan dengan salaf beliau.

Hingga pada penghujung Ramadhan 1441 H beliau berpamitan meninggalkan kota Tarim, menuju kampong halamanya Hijrein untuk merayakan hari raya Idul Fitri disana bersama sanak-saudara beliau. hingga kabar duka itu tersampaikan kepada kami pada Dhuhur 5 Syawal 1441 H. Beliau telah berpamitan untuk selamanya. dan memenuhi panggilan Allah SWT, menemui datuknya Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib, Habib Ali bin Hasan al Athos dan Rasulullah SAW di SUrga-Nya yang tertinggi.

Beliau dikebumikan hari Jumat 6 Syawwal 1441 H di Kota Hijrein, pemakaman yang beliau impikan dan sering ceritakan. Hingga Allah takdirkan kota itu hadiah untuk beliau, dan dekat pula dengan pusara para salaf beliau di kota itu.
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk, dan andaikan tidak karena petunjukNya tidak ada petunjuk itu terlimpah kepada kita.

PENUTUP

Demikian Biografi singkat yang kami susun bertepatan dengan hari wafat beliau, yang masih akan terus kami sempurnakan. Sehingga jika terdapat kesalahan kami mohon maaf dan masukan para pembaca
Semoga catatan ringkas ini bisa memberikan manfaat kepada para pembaca, dan obat kerinduan dari sedihnya perpisahan dari yang kita cintai al Habib Ahmad bin Umar al Athos. Teriring doa diujung catatan ini semoga beliau diampuni segala salah dan dosanya, dan diterima segala amal salehnya.

Tarim, 6 Syawal 1441 H
Pecinta Habib Ahmad,
Fitra Sisma


Post a comment

0 Comments