Fawaid Lughoh Al-Arabiyyah

Mari bergabung bersama kami di akun media sosial kami untuk mendapatkan update wawasan serta ilmu

Funun Lughoh

Nun Wiqoyah

"Nun Wiqoyah"⁣ Apabila ada Ya' Mutakallim bersambung dengan kalimat Fi'il ( baik bertemu langsung dengan akhir kalimat Fii'il atau bertemu dengan kalimat yang bertemu dengan akhir kalimat Fi'il).⁣Atau Ya' Mutakallim bersambung dengan Isim Fii'il, Maka Diantara keduanya (Ya' Mutakallim dan Fi'il atau Isim Fi'il) harus dipisah dengan Nun yang dinamakan "Nun Wiqoyah"; karena Nun tersebut menjaga akhir dari fi'il atau isim fi'il yang bertemu dengan ya' mutakallim dari dibaca kasroh. ⁣Contoh : أَكْرَمَنِي dan أَكْرَمْتَنِي dan وعَلَيْكَنِي.⁣

Lafadz Amma

" Lafadz أََمَّا"⁣Lafadz "أََمَّا" merupakan huruf syarat dan khobar, dan dia menduduki kedudukan Adat (Alat) syarat dan Fi'il syarat, oleh karena itu Imam Sibaweh menafsirkannya dengan "مَهْمَا يَكُ مِن شَيْء" (bagaimanapun kondisinya), adapun yang jatuh setelahnya menjadi jawab dari syarat, oleh karena itu harus disebutkan bersama dengan Fa' Jawab.⁣ Contoh : "أَمَّا زَيْدٌ فَمُنْطَلِقٌ" Asalnya "مَهْمَا يَكُ مِنْ شَيْء فَزَيْدٌ مُنْطَلِقٌ.⁣ Lafadz "أََمَّا" ditempatkan pada tempatnya مَهْمَا يَكُ مِنْ شَيْء" maka menjadi "أَمَّا فَزَيْدٌ مُنْطَلِقٌ".⁣ Kemudian fa' ditempatkan bersama dengan khobar maka menjadi "أَمَّا زَيْدٌ فَمُنْطَلِقٌ"

Mufrodat

Furuq Lugoh

Perbedaan antara السَّمْعُ dan الْاسْتِمَاعُ

•Lafaz الْاِسْتِمَاعُ digunakan untuk memperoleh sesuatu yang didengar dengan cara memperhatikannya agar dipahami, jadi tidak boleh mengucapkan : إِنَّ اللهَ يَسْتَمِعُ (Sesungguhnya allah ta'ala sengaja/mencoba mendengarkan).⁣ •Lafaz ُالسَّمَاع digunakan kepada kata yang didengar Contoh : لَمَّا سَمِعْتُهُ مِنَ الْحَدِيْثِ (ketika saya mendengarkannya dari hadits (kata yang didengar), nyanyian disebut juga kata yang didengar (سماع ), dan digunakan kepada arti mendengarkan contoh: سَمِعْتُ سَمَاعًا (saya mendengarkan pendengaran), sebagaimana kamu mengatakan: سَمِعْتُ سَمْعًا (saya mendengarkan pendengaran).⁣ • Tambahan : Lafad ُالتَّسَمُّع digunakan mencari pendengaran seperti lafad التَّعَلُمِّ berarti mencari ilmu.⁣

Perbedaan Antara التكرار dan الإعادة

Lafaz "التَكرار" digunakan atau dipakai untuk mengulang suatu perkara, entah itu satu kali atau lebih. Sedangkan lafaz "الإعادة" itu untuk mengulang suatu perkara satu kali saja.⁣ Ketika ada orang yang berkata "Si Fulan sedang mengulang" dengan menggunakan lafaz "أَعَادَ" maka maksud pengulangan tersebut hanya satu kali pengulangan saja. Apabila ada orang berkata seperti tadi, tetapi dengan menggunakan lafaz "َكَرَّر", maka perkataannya tersebut dianggap tidak ada kejelasan, apakah mengulanginya hanya sekali saja atau lebih.⁣

Maka katakanlah "أَعَادَهُ مَرَّاتٍ" bukan "كَرَّرَهُ مَرَّاتٍ", karenanya ulama ahli fiqh mengatakan: "اَلأَمْرُ لاَ يَقْتَضِي التَّكْرَارَ وَالنَّهْيُ يَقْتَضِي التَّكْرَارَ"⁣ dengan menggunakan lafaz "التكرار" bukan dengan lafaz "الإعادة".⁣

📖📚 Referensi:⁣ 1. Al Furuq Al Lughowiyah, Lil Imam Adib Abi Hilal Al Askary. __________________⁣⁣

Perbedaannya السُّرْعَةُ dan العَجَلَة

Makna (السُّرْعَة) itu adalah mendahulukan suatu perkara yang memang sebaiknya untuk didahulukan, inilah yang benar, bukan malah memperlambat sesuatu (ُالإبْطَاء), karena itu adalah suatu kesalahan.⁣

Sedangkan makna daripada "العَجَلَة" itu ialah mendahulukan suatu perkara yang memang tidak pantas untuk didahulukan, perbuatan ini tidaklah dibenarkan, sebaliknya, perlahan-lahan "الأَنَاة" itulah yang dibenarkan.⁣

Referensi 📚📖:⁣ Al-Furuq Al-Lughowiyah, Syeikh Abu Hilal Al-Askari. __________________⁣⁣

Qul wa laa Taqul

قُلْ : "تَعَارَفَ مُحَمّدٌ وَ عَلِيّ" ⁣ "Muhammad berkenalan dengan Ali"⁣ وَ لَا تَقُلْ : "تَعَارَفَ مُحَمَّدٌ بِعَلِيّ"⁣ ⁣

لِأنّ "تَعَارَفَ" مِنْ أَفْعَالِ الْمُشَارَكَةِ الّتِيْ لَا تَسْتَنِدُ إِلّا إِلَى اثْنَيْنِ أَو أَكْثَرِ، وَ مِنْهُ الآيَةُ (يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا) أي لِتَتَعَارَفُوْا.⁣

Fi'il musyarokah adalah kata kerja yang butuh kepada 2 pelaku atau lebih, contohnya seperti kalimat : "تَعَارَفَ" (berkenalan)⁣

Maka, pemakaian yang benar adalah: ⁣ "تَعَارَفَ مُحَمّدٌ وَ عَلِيّ" ⁣

Dengan menjadikan kedua lafadz ٌمُحَمّد dan عَلِيّ menjadi fa'il bagi kata kerja (تَعَارَفَ), bukan dipisah dengan huruf ba'.⁣

Pemakaian yang salah adalah:⁣ " تَعَارَفَ مُحَمّدٌ بِعَلِيّ"⁣

Contoh pemakaian lain (yang benar) :⁣ ⁣ "قَدْ تَعَارَفْتُ أَنَا وَ هُوَ قَبْلَ الْتِحَاقِنَا بِجَامِعَةِ الأَحْقَافِ"⁣ ⁣ "Aku sudah berkenalan dengan dia sebelum kami masuk ke universitas Al-Ahgaff"⁣ ⁣ _________

قُلْ : الشَّرِيْعَةُ السَّمْحَةُ⁣
⁣ "syari'at/hukum yang mudah"⁣

و َ لَا تَقُلْ : الشّرِيْعَةُ السَّمْحَاءُ

لِأنّ وَزْنَ "فَعْلَاءُ" لَفْظٌ مُؤَنّثٌ وَرَدَ مِنْ كَلِمَةٍ كَانَ مُذَكّرُهَا بِوَزْنِ "أَفْعَلُ"، وَ لَيْسَ فِيْ الْعَرَبِيّةِ لَفْظُ "أَسْمَحُ" وَ إِنّمَا فِيْهَا "سَمْحُ" وَ مُؤنّثَهُ "سَمْحَةٌ"⁣

Dalam kaedah ilmu nahwu, lafadz muannats yang berwazan " فَعْلَاءُ" berasal dari lafadz yang mudzakarnya berwazan "أَفْعَلُ"⁣ Seperti pemakaian kalimat "أَحْمَرُ" maka muannatsnya adalah "حَمْرَاءُ", contoh pemakaiannya : "تِلْكَ السَّيَّارَةُ الْحَمْرَاءُ" ⁣

Maka, jika lafadz mudzakarnya bukan berwazan "أَفْعَلُ" maka muannatsnya bukan "فَعْلَاءُ" ⁣

Maka, kesalahan yang sering terjadi adalah penggunaan kalimat "سَمْحَاءُ". ⁣ padahal di dalam bahasa arab tidak terdapat kalimat "أَسْمَحُ", yang ada adalah kalimat "سَمْحٌ" sehingga pemakaian yang benar adalah "الشّرِيْعَةُ السّمْحَةُ" bukan "الشّرِيْعَةُ السّمْحَاءُ"⁣

"قُلْ : "كَلّفْتُهُ الْقِيَامَ بِكَذَا"⁣⁣

"aku memaksanya untuk mengerjakan sesuatu"⁣⁣

وَ لَا تَقُلْ : "كَلّفْتُهُ بِالْقِيَامِ بِكَذَا"⁣⁣ لِأَنّ "كَلّفَ" يَتَعَدّى بِنَفْسِهِ إلَى الْمَفْعُوْلَيْنِ.⁣⁣ ⁣⁣

الفِعْلُ المُتَعَدّي بِنَفْسِهِ ⁣⁣ (fiil yang butuh kepada maf'ul bih tanpa perantara huruf jarr) adakalanya butuh kepada 1 maf'ul bih (object), adakalanya butuh kepada 2, dan terkadang 3 maf'ul bih⁣⁣

⁣⁣

Dan fi'il كَلّفَ adalah salah satu diantara fi'il yang butuh kepada 2 maf'ul bih (object). maka, pemakaian yang benar adalah:⁣⁣ "كَلّفْتهُ الْقِيَامَ بِكَذَا" ⁣⁣ Yaitu, dengan menjadikan lafadz "القيام" sebagai maf'ul bih kedua tanpa bantuan huruf jarr.⁣⁣

Kajian Bahasa

Post a comment

0 Comments