Jangan Sia-Siakan Hari Rayamu

Penulis :
Syahrul Romadhon
Santri Pon-Pes Darussalam, Jatibarang, Brebes.


Muqodimah


Bismillahirrohmanirrohim

Segala puji bagi Allah swt Tuhan semesta alam, yang menciptakan siang dan malam, kebahagiaan dan kesengsaraan, kehidupan dan kematian. Dialah sang raja diraja, seluruh makhluk tunduk dihadapan-Nya, tidak ada yang mampu menandingi kekuasaan-Nya, Dia lah Tuhan yang Maha Cinta. Jalla wa ‘ala.

Sholawat serta salam kepada Nabi agung Muhamad saw, kekasih Allah, yang maha dicintai Allah, hingga Allah jadikan syarat untuk mencintai-Nya adalah mencintai Nabi Muhamad saw, kalau bukan karenanya dunia ini tak akan diciptakan, Nabi yang sangat mencintai umat, yang menunjukkan jalan kebenaran bagi orang yang tersesat, Nabi pemberi syafaat. Shollallohu ‘alaihi wasallam.

Pada kesempatan kali ini, berkat taufiq dan ‘inayah Allah, saya akan menuliskan sedikit pengetahuan tentang Hari Raya Idul Fitri dan apa saja yang harus dilakukan untuk menyambut kedatangannya.

Sebenarnya sudah banyak dari para penulis yang menulis tentang hal ini, diantaranya guru saya sendiri Abuya Syaikh Soleh bin Muhammad Basalamah, hafidzohullah wa ro’ah. Akan tetapi dalam tulisan yang sangat ringkas. Maka disini saya hanya sedikit menguraikan hal-hal yang menurut saya perlu diuraikan dan menambahkan apa yang belum ditulis di dalam tulisan guru saya untuk menambah wawasan bagi khalayak umum.

Maka, tulisan ini mencangkup beberapa pembahasan :

1.            1. Himbauan dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri.

2.           2. Keistimewaan Hari Raya Idul Fitri.

3.            3. Kiat-kiat dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri.

Mudah-mudahan tulisan ini singkat tapi bermanfaat.


 

Pembahasan Pertama

Himbauan dalam Merayakan Hari Raya Idul Fitri.

 

Penting kiranya saya mengingatkan kepada sesama umat Nabi Muhammad saw sebagai tanda kasih sayang, bahwa banyak dari kita keliru dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri, bahkan sampai melakukan hal-hal yang dilarang oleh syariat. Na’udzubillahi min dzalik. Apakah salah kita mengekspresikan kegembiraan kita dengan datangnya hari raya ini? Jawabannya adalah tidak, kita sangat diperbolehkan bahkan diperintah untuk mengekspresikan kegembiraan kita ketika mendapat karunia keistimewaan apapun untuk diri kita, terlebih ketika mendapatkan karunia bisa menemui Hari Raya Idul Fitri. Allah swt berfirman dalam Al-Qu’ran :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُون

يونس: ٥٨

Artinya : “katakanlah ( ya Muhammad ) kepada manusia : dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” ( Q.S. Yunus, ayat 58 )

 Tapi, semua punya aturan dan batasan-batasannya, tidak melampaui dan juga tidak mengurangi.  Mungkin faktor utama yang menyebabkan adanya kekeliruan bahkan kesalahan dalam menyambut hari raya adalah sedikitnya pengetahuan kita tentang betapa hebat dan istimewanya Hari Raya Idul Fitri.

Kalau di kampung saya khususnya, adat dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri itu dengan mengadakan acara takbir keliling, dan dari pihak pemerintah setempat berinisiatif mengadakan lomba bagi setiap mushola, bagi yang paling meriah dan kreatif  dalam acara takbir keliling, maka akan mendapatkan hadiah, hal ini bertujuan agar masyarakat lebih bersemangat. Dan realitanya pun seperti itu, seluruh penduduk kampung sangat bersemangat, baik tua maupun muda, pria maupun wanita, kecil maupun dewasa. Kemudian bagaimana hukum takbiran yang seperti itu?


Hukum Takbir Keliling

Hukum takbiran pada Hari Raya Idul Fitri itu disunahkan, seperti yang dikatakan oleh Syaikh Wahbah Azzuhaili dalam kitabnya ‘Al-Fiqhu Al-Islam wa Adillatuh’, bahwasanya para ulama bersepakat tentang disunahkannya bertakbir pada Hari Raya Idul Fitri.

اتفق الفقهاء على مشروعية التكبير في العيدين في الغدو إلى الصلاة. الفقه الإسلامي وأدلته)2/ 531(

Pendapat ini dikuatkan dengan ayat Al-Qur’an dan juga Hadits Nabi Muhamad saw.

:قال الله تعالى

وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 ١٨٥البقرة:

Artinya :”Dan hendaknya kamu mencukupkan bilangannya dan hendaknya kamu mengagungkan Allah swt atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S Al-Baqarah, ayat 185 )

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله: « زيّنوا أعيادكم بالتكبير». رواه الطبراني والنسائي.

Dari sohabat Abi hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, nabi Muhammad saw bersabda : “Hiasilah hari-hari raya kalian dengan bertakbir.” ( H.R. Athobarony dan Annasai )

 

عبد الله بن عمر اخبره ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يكبر يوم الفطر من حين يخرج من بيته حتى يأتي المصلى. رواه البيهقي

Diriwayatkan dari sohabat Abdullah bin Umar bahwa Rosulullah saw bertakbir pada Hari Raya Idul Fitri dari mulai beliau keluar rumahnya sampai ke tempat sholat.”

( H.R. Al-Bayhaqy )

Setelah kita tahu hukum bertakbir pada hari raya, kemudian bagaimana hukumnya jika bertakbir tersebut dilakukan di jalan atau yang kita kenal dengan takbir keliling ?

«وقال الجمهور : يكبر في المنازل والمساجد والأسواق والطرق ...»  الفقه الإسلامي وأدلته) 2/ 531(

Jumhur ulama mengatakan bahwa bertakbir itu boleh dilakukan dimana saja, kapan saja baik di rumah-rumah, masjid-masjid, pasar-pasar dan di jalanan, seperti ‘ibaroh yang saya paparkan diatas. Dan ibaroh diatas juga dikuatkan oleh ayat Al-Quran :

 :قال الله تعالى

 ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

آل عمران: ١٩١

Artinya :”(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (berdzikir) dalam keadaan berdiri, atau duduk atau berbaring dan mereka bertafakkur tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) :”ya Tuhan kami,tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari api neraka.” (Q.R Ali Imron, ayat 191 )

 

Dari sini bisa kita tarik kesimpulan, bahwa takbir keliling itu hukumnya boleh. Tapi, apakah kebolehan ini mutlak? Maka kita lihat dulu fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang. Jika, dalam acara tersebut terdapat hal-hal yang dilarang oleh syariat, maka hukum kebolehan ini masih di pertimbangkan.

Apa contoh hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam masalah ini?

Seperti ‘al idza’ yaitu mengganggu atau menyakiti. Jika dalam acara takbir keliling itu sampai mengganggu atau menyakiti orang ataupun yang lain seperti hewan dari segi ketenangan dan selainnya. Maka lebih baik ditiadakan acara takbir keliling tersebut. Tapi, melihat hal itu sudah menjadi adat masyarakat, dan masyarakat pun menerima bahkan mendukung acara tersebut, berarti dalam masalah ‘idza’ ini tidak diberlakukan.

Dan masih banyak hal lagi yang dapat menjadi pertimbangan dalam hal ini, saya hanya memberikan satu contoh saja.


 

 

Pembahasan Kedua

Keistimewaan Hari Raya Idul Fitri

 

Merupakan sebuah anugerah yang sangat istimewa jika seseorang dipertemukan dengan Bulan Suci Ramadhan, apalagi sampai mendapati puncak dari Bulan Ramadhan tersebut. Yaitu Hari Raya Idul Fitri. Hari yang dipenuhi dengan kebahagiaan dzohiron wa bathinan, maka sangatlah beruntung jika amal-amal kita diterima pada hari itu.

Banyak sekali Hadits-Hadits yang menerangkan tentang keistimewaan bulan tersebut, diantaranya: 

 

عن سعيد ين أوس الأنصاري عن أبيه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:«إذا كان يوم عيد الفطر وقفت الملائكة على أبواب الطريق فنادوا: اغدوا يا معشر المسلمين إلى رب كريم يمن بالخير ثم يثيب عليه الجزيل لقد أمرتم بقيام الليل فقمتم،وأمرتم بصيام النهار فصمتم وأطعتم ربكم فاقبضوا جوائزكم،فإذا صلوا نادى مناد: ألا إن ربكم قد غفر لكم فارجعوا راشدين إلى رحالكم،فهو يوم الجائزة ويسمى ذلك اليوم في السماء يوم الجائزة". - وفي رواية: "رب رحيم" بدل "رب كريم" - . فقال: "قد غفرت لكم ذنوبكم كلها». رواه الطبراني.

Dari Sa’id bin Aus Al anshory, meriwayatkan dari ayahnya, Rasulullah saw bersabda :” ketika datang Hari Raya Idul Fitri, para malaikat berdiri menunggu di setiap pintu gang, seraya berseru :” bergegaslah kalian wahai kaum muslimin menuju Allah yang Maha Karim yang akan menganugerahkan kepadamu kebaikan, membalasmu dengan penghormatan dan pemberian yang besar. Sungguh kalian telah diperintahkan untuk bangun malam, kalian laksanakan. Kalian diperintahkan untuk berpuasa di siang harinya, kalian laksanakan. Sungguh kalian sudah mentaati Tuhanmu, maka ambillah hadiah-hadiah untuk kalian.” Ketika mereka sholat ada suara memanggil :”Ketahuilah, bahwa Tuhan kalian telah mengampuni dosa-dosa kalian. Maka pulanglah ke rumah-rumah kalian dalam keadaan bergembira.”  Hari raya adalah hari berhadiah, dan dikenal dilangit sebagai hari jaizah.”  ( H.R Athobarony )

 

عن أبي أمامة رضي الله تعالى عنه مرفوعا قال : قال رسول الله  : «من أحيا ليلتي العيدين ، لم يمت قلبه يوم تموت القلوب». هكذا جاء في رواية الشافعي وابن ماجه، وقال النووي حديث ضعيف، ولكن الأحاديث الضعيفة يتسامح في فضائل الأعمال.

  Dari Abi Umamah rodhiyallah ‘anhu, bahwa Nabi Muhamad saw bersabda :

“Barang siapa yang menghidupkan dua malam hari raya ( Idul Fitri dan Idul Adha ), maka hatinya tidak akan mati disaat semua hati manusia mati.” (H.R imam syafi’i dan ibnu majah)

Dalam Hadits ini Imam Nawawi berkomentar di dalam kitabnya “Al-Adzkar” bahwa Hadits ini adalah Hadits dho’if, akan tetapi bukan berarti kita tidak boleh menggunakannya sebagai dalil. Perlu diketahui, bahwa dalam fadhoilul a’mal kita diperbolehkan menggunakan  Hadits dho’if, tentunya dengan syarat-syarat tertentu. Hal ini banyak diterangkan dalam kitab-kitab mustholahul hadits.

 

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال : قال رسول الله  «من أحيا الليالي الأربع وجبت له الجنة وهي ليلة التروية وليلة عرفة وليلة النحر وليلة الفطر» أي ليلة عيد الفطر وليلة عيد النحر. أخرجه ابن عساكر.

Dari Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda :

“Barang siapa yang menghidupkan empat malam, maka berhak baginya Syurga. Yaitu malam Tarwiyah (malam ke-8 bulan dzulhijjah), malam Arofah (malam ke-9 bulan dzulhijjah), malam Idul Adha dan malam Idul Fitri.” (H.R. Ibnu ‘Asakir )

Dari Hadits-Hadits ini, kita bisa mengetahui bahwa Hari Raya Idul Fitri mempunyai keistimewaan tersendiri dibanding hari-hari yang lain.


 

Pembahasan Ketiga

Kiat-Kiat dalam Menyambut Datangnya Hari Raya Idul Fitri

 

Setelah kita mengetahui tentang keistimewaan Hari Raya Idul Fitri baik siang maupun malam harinya, muncul satu pertanyaan. Bagaimana cara kita untuk bisa mendapatkan keistimewaan pada malam tersebut?

Dan seperti inilah kiat-kiat untuk mendapatkannya :

 

1.       Memperbanyak membaca takbir, tahmid, dan tahlil.

Anjuran yang pertama dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri juga menghidupkan malamnya adalah dengan memperbanyak membaca dzikir, dzikir apapun yang kita bisa. Namun ada dzikir-dzikir yang khusus dianjurkan pada hari raya. seperti takbir, tahlil, tahmid, dan taqdis.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله  زيّنوا أعيادكم بالتكبير. رواه الطبراني والنسائي.

Dari sohabat Abi Hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad saw bersabda : “Hiasilah hari-hari raya kalian dengan bertakbir.” ( H.R Athobarony dan Annasai )

عن أنس رضي الله عنه مرفوعا قال : قال رسول الله   زينوا العيدين بالتهليل والتكبير والتحميد والتقديس. أخرجه السيوطي.

Dari sohabat Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhumaa, Nabi Muhammad saw bersabda : “ Hiasilah dua malam hari raya dengan bertahlil, bertakbir, bertahmid dan bertakdis” (H.R. Al-Imam Assyuyuti )

Keterangan :

·       Yang dimaksud dengan takbir/takbiran adalah kalimat الله أكبر

·       Yang di maksud dengan tahlil, tahmid, dan taqdis adalah kalimat :

 سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر

·       Waktu yang di sunahkan untuk bertakbir / takbiran pada Hari Raya Idul Fitri adalah dari mulai terbenamnya matahari ( maghrib ) sampai takbirnya imam untuk sholat Idul Fitri.

·       Membaca takbir, tahlil, tahmid atau pun taqdis itu tidak diharuskan pada tempat tempat tertentu seperti masjid dan lain sebagainya. Melainkan, disunahkan pada waktu kapanpun dan di tempat manapun kecuali waktu atau tempat yang memang tidak diperbolehkan melakukan hal-hal tersebut. Hal ini dikatakan oleh Al-Imam Nawawi dalam kitabnya ‘Al-Adzkar’.

Ada satu faedah kenapa kita pada malam Hari Raya Idul Fitri sangat dianjurkan untuk banyak-banyak berdzikir terutama membaca takbir/takbiran. Dari keterangan yang saya dapatkan dari guru saya, murobbi arwahi Abuya Syaikh Soleh bin Muhamad Basalamah, bahwa pada malam Hari Raya Idul Fitri merupakan malam dimana para syaithon dilepas kembali oleh Allah swt setelah sebulan lamanya dibelenggu. Syaithon pun akan langsung menggoda manusia pada malam tersebut, makanya banyak kita melihat orang-orang pada malam tersebut banyak yang bermaksiat kepada Allah swt, jangankan orang lain, kita pun sama. Maka dari situlah Rasulullah saw sangat menganjurkan kita untuk banyak-banyak berdzikir khususnya dzikir-dzikir yang sudah disebutkan diatas. Dengan tujuan selain meraup pahala yang banyak juga untuk membentengi diri kita dari godaan syaithon pada malam tersebut.

 

2.           Sholat Tasbih.

Anjuran yang kedua dalam rangka menyambut hari raya dan menghidupkan malamnya adalah dengan melaksanakan sholat Tasbih. Dan para ulama salafussholeh sangat menganjurkan untuk melakukan sholat Tasbih pada malam hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Tata cara sholat Tasbih :

Sholat Tasbih adalah sholat  sunnah empat rokaat yang didalamnya dibacakan tasbih sebanyak 300x, yang disetiap rokaatnya dibacakan tasbih sebanyak 75x. adapun cara membaca tasbih didalam rukun sholat tersebut terdapat dua cara :

a.             Cara yang pertama yaitu membaca tasbih sebanyak 15x dilakukan setelah membaca Al-Fatihah dan surat-surat, kemudian membaca tasbih sebanyak 10x pada saat ruku’, dan juga pada saat i’tidal, sujud yang pertama, duduk diantara dua sujud, sujud yang kedua dan duduk istirohah ( duduk setelah sujud yang kedua sebelum berdiri untuk melakukan rokaat setelahnya ). Adapun membaca tasbihnya setelah selesai membaca do’a-do’a setiap rukunnya.

b.            Cara yang kedua yaitu membaca tasbih sebanyak 15x, dibaca sebelum membaca Al-Fatihah, kemudian membaca tasbih lagi sebanyak 10x setelah membaca surat-surat, lalu pada saat ruku, i’tidal, sujud pertama, duduk diantara dua sujud, sujud yang kedua. tentunya dibaca setelah membaca do’a-do’a disetiap rukunnya. Yang membedakan dengan cara yang pertama adalah kita tidak membaca tasbih sebanyak 10x pada saat duduk istirohah, akan tetapi diganti pada saat setelah membaca surat-surat.

 

Keterangan :

·       Sholat Tasbih berjumlah empat rokaat. Boleh dilakukan dengan dua kali salam ataupun dengan satu kali salam.

·       Boleh dilakukan sendiri maupun berjamaah.

·       Niat sholat Tasbih yaitu لله تعالى   أُصَلِّى سُنَّةَ التَسْبِيْحِ( رَكْعَتَيْنِ / أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ )

·       Bacaan tasbih سُبْحَانَ اللَّهِ , وَالْحَمْدُ لِلَّهِ , وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ , وَاللَّهُ أَكْبَرُ

 

Para ulama berselisih pendapat tentang ukuran seseorang sudah dikategorikan menghidupkan malam hari raya. adapun pendapat yang paling kuat adalah seseorang bisa dikategorikan telah menghidupkan malam hari raya apabila menggunakan seluruh malam tersebut untuk beribadah, pendapat yang kedua yaitu dengan hanya satu jam melakukan ibadah pada malam tersebut bisa di kategorikan telah menghidupkan malam hari raya, dan juga ada pendapat yang dinukil dari kitab ‘Kanzu Najah wa Surur’ karya Syaikh Abdul Hamid bin Muhamad Al-Makky Assyafi’i. Bahwa Al Imam Al-Hifny berkata :“ Seseorang bisa dikatakan sudah menghidupkan malam hari raya adalah jika melakukan sholat Isya berjamaah, dan berniat akan melakukan sholat Shubuh berjamaah pula.” Dan perlu diingat juga untuk tetap melakukan sholat Maghrib berjamaah.

 

3.           Membaca istigfar dan tasbih pada pagi Hari Raya Idul Fitri .

Anjuran  yang ketiga ini dilakukan khusus untuk pagi harinya di Hari Raya Idul Fitri .

·       Adapun  waktu untuk membaca istigfar adalah di pagi hari, setelah sholat Shubuh sebelum berangkat sholat Id, sebanyak 100x dengan istigfar apa saja yang kita inginkan. Untuk kaum wanita yang berhalangan pun tetap dianjurkan untuk membacanya dengan mengira-ngirakan waktunya.

·        Dan adapun waktu untuk membaca tasbih adalah dari setelah melakukan sholat Shubuh sampai Dzuhur. Sebanyak 100x atau 300x dengan bacaan سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ. Dan setelah membaca tasbih ini kita dianjurkan untuk menghadiahkan bacaan ini untuk seluruh ahli kubur muslimin dan muslimat. Dengan kalimat apa saja, seperti :“Ya Allah, bacaanku ini aku hadiahkan untuk semua ahli kubur muslimin muslimat.”

Anjuran ini saya nukil dari kitab ‘Kanzu Najah wa Surur’. Adapun fadhilahnya adalah seperti yang disebutkan di dalam kitab tersebut, beliau menukil perkataan dari Syaikh Wanai bahwa :

1.             Barang siapa yang membaca istigfar pada hari raya setelah sholat shubuh sebanyak 100x, maka tidak ada satupun kejelekan  dalam buku catatan amal orang tersebut kecuali dihapus oleh Allah, dan dia akan aman dari siksaan api neraka di akherat kelak.

2.           Barang siapa yang membaca سبحان الله وبحمده sebanyak 100x kemudian menghadiahkan pahalanya kepada ahli kubur, maka seluruh ahli kubur akan bersaksi terhadapnya di akherat nanti, ahli kubur akan berdoa :” Wahai dzat yang maha kasih, curahkanlah kasih sayang-Mu kepada hambamu ini, dan berikanlah balasan untuknya syurga.”

3.              Diriwayatkan juga bahwa orang yang membaca tasbih tersebut sebanyak 300x kemudian menghadiahkannya juga untuk seluruh ahli kubur, maka tasbih tersebut akan menjelma sebagai seribu cahaya penerang bagi setiap ahli kubur. Kemudian Allah akan membalas pula ketika dia sudah di alam kubur dengan balasan yang serupa yaitu seribu cahaya penerang baginya di alam kubur.

Perlu diketahui, bahwa anjuran-anjuran ini memang bukan dari Hadits Nabi Muhammad saw akan tetapi keluar dari lisannya orang yang berpegang teguh dengan ajaran Nabi SAW yang dimana ucapan mereka bisa kita percaya. Seandainya pun diantara kita ada yang tidak mau berpegang dengan ini kecuali dengan Al-Quran dan Hadits, maka bukan berarti kita yang mengerjakan hal ini dikatakan salah. Karena, Allah swt dan Nabi saw sendiri telah mengajarkan kita tentang fadhilah keutamaan membaca istigfar maupun tasbih.

:قال الله تعالى

فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html

فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا(10)

فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11)

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا(12)

فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Referensi: https://tafsirweb.com/11394-quran-surat-nuh-ayat-10.html

Artinya :”Maka aku katakan kepada mereka :“mohonlah ampun kepada tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah maha pengampun (10) niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat ( keberkahan langit ) (11) dan Allah akan memberikan keberkahan kepadamu berupa harta dan anak-anak dan akan diberikan kepadamu kebun-kebun yang didalamnya terdapat buah-buahan dan juga sungai sungai.” (Q.S Nuh, ayat 10-12 )

عن ابن عمر قال قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- لأصحابه وهم جلوس :« ما لكم لا تتكلمون من قال سبحان الله وبحمده كتب الله عز وجل له عشر حسنات ومن قالها عشرا كتب الله له مائة حسنة ومن قالها مائة مرة كتب الله له ألف حسنة ومن زاد زاده الله ومن استغفر غفر الله له... » رواه البيهقي والنسائى.

Dari sohabat Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah saw bersabda kepada para sohabatnya ketika mereka dalam keadaan duduk :”Kenapa kalian tidak berbicara ? barang siapa yang mengucapkan سبحان الله وبحمده, maka Allah akan membalasnya sepuluh kebaikan. Barang siapa yang mengucapkannya sepuluh kali, maka Allah akan membalasnya seratus kebaikan. Barang siapa yang mengucapkannya seratus kali, maka Allah akan membalasnya seribu kebaikan. Dan barang siapa menambah bacaannya maka akan ditambah pula pahalanya oleh Allah swt. Barang siapa yang beristigfar, maka Allah akan mengampuninya ...” ( H.R. Al-Bayhaqi dan Annasai )

 

عن أبي ذر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: « يقول الله عز وجل: يا بني آدم كلكم مذنب إلا من عفيت، فاستغفروني أغفر لكم...» رواه البيهقي

Dalam hadits qudsi, dari sohabat Abu dzar, Rosulullah saw bersabda :” Allah berfirman :”Wahai anak adam, kalian semua berdosa kecuali orang yang aku ampuni, beristigfarlah maka Aku akan mengampunimu...” (H.R Al-Bayhaqi)

 

عن عبد الله بن عباس، قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم:« ما الميت في القبر إلا كالغريق المتغوث، ينتظر دعوة تلحقه من أب أو أم أو أخ أو صديق، فإذا لحقته كانت أحب إليه من الدنيا وما فيها، وإن الله عز وجل ليدخل على أهل القبور من دعاء أهل الأرض أمثال الجبال، وإن هدية الأحياء إلى الأموات الاستغفار لهم». رواه البيهقي.

Dari sohabat Abdullah bin Abbas, Rosulullah saw bersabda :” orang yang di alam kubur diumpamakan seperti orang yang tenggelam yang butuh pertolongan, dia menantikan kiriman do’a-do’a dari bapak, ibu, sodara, dan teman-temannya. Dan ketika do’a itu datang padanya dia akan sangat bergembira dengan do’a tersebut melebihi dunia dan seisinya. Dan akan Allah jadikan do’a tersebut seperti gunung-gunung untuk penduduk alam kubur. Dan sesungguhnya hadiah yang diberikan orang hidup kepada orang yang meninggal merupakan ampunan baginya.” (H.R Al-Bayhaqi )

Dari dalil-dalil yang saya paparkan diatas, kita bisa mengetahui bahwasanya anjuran-anjuran para ulama untuk membaca dzikir-dzikir pada hari raya baik malamnya atau pagi harinya itu tidak bertentangan dengan syariat, bahkan dianjurkan oleh syariat.


 

Penutup

 

Dengan ucapan Alhamdulillah, maka selesailah tulisan yang singkat ini. Mungkin hanya ini yang bisa saya tuliskan tentang Hari Raya Idul Fitri dan apa yang ada didalamnya, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi diri saya, orang-orang yang saya cintai, keluarga saya dan seluruh umat Nabi Muhamad saw. Dan mudah-mudahan amal-amal baik kita dibulan romadhon maupun bulan-bulan sebelumnya diterima oleh Allah dan kesalahannya pun diampuni oleh Allah. Mudah-mudahan kita diberikan panjang umur dan sehat wal ‘afiyat sehingga kita bisa berjumpa lagi dengan Ramadhan-Ramadhan maupun hari raya pada tahun-tahun berikutnya.

Dari penulis memohon maaf sebesar-besarnya dalam kekurangan, kekeliruan bahkan kesalahan dalam penulisan ini. Walllahu a’lam bishowab.

 

 

Senin, 26 Ramadhan 1441 H.

Senin, 18 Mei 2020 M.

Post a comment

0 Comments