Tema: an-Nubuwah Wa al-Anbiya



"Ringkasan Kesimpulan FORKA Akidah & Pemikiran
Edisi #1
(Halakah Sabtu Malam Ahad, 15, Februari, 2020 H.)

(Sumber Referensi: an-Nubuwah wal Anbiya, Syekh Muhammad Ali ash-Shobuni).

1. Konsep Kemaksuman Para Nabi

A.  Pendahuluan

Sifat atau karakteristik para nabi dan rasul yang berbeda dengan manusia biasa adalah mereka terjaga dari melakukan kemaksiatan dan hal-hal yang dapat mencederai muruah, karena mereka adalah manusia dengan segala kesempurnaan, baik dalam akhlak, amal, dan perjalan hidup. Mereka adalah panutan dan contoh terbaik bagi umat manusia, sebab Allah SWT. telah memerintahkan untuk mengikuti mereka dalam segala aspek kehidupan.

B. Definisi Kemaksuman (Ishmah) Para Nabi

1) Makna Secara Etimologi

Syekh ash-Shobuni menyampaikan :

"العصمة في اللغة معناها : المنع"
 
"Ishmah (maksum) secara etimologi maknanya adalah mencegah"

Imam Qurthubi mengatakan :

"و سميت العصمة عصمة لأنها تمنع من ارتكاب المعصية"

"Alasan penamaan Ishmah adalah karena ia dapat mencegah dari melakukan kemaksiatan "

2) Makna Secara Syarak

"فالعصمة هي حفظ الله لأنبيائه ورسله عن الوقوع في الذنوب والمعاصي ، وارتكاب المنكرات والمحرمات"

"Maksum adalah penjagaan dari Allah SWT. bagi para nabi dan rasul-Nya dari melakukan dosa dan kemaksiatan dan dari mempraktekan perkara yang munkar dan diharamkan (infallibility)"

Maksum tidak diberikan kepada siapapun kecuali hanya kepada para anbiya, sebagai anugerah dari Allah SWT. yang menjaga mereka dari segala dosa kecil maupun besar. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan Syekh Ali ash-Shobuni :

"فالعصمة ثابة للأنبياء وهي من صفاتهم التي أكرمهم الله بها وميزهم على سائر البشر ، فلم تكن لأحد إلا للأنبياء الكرام حيث وهبهم الله هذه النعمة العظيمة ، وحفظهم من ارتكاب المعاصي والذنوب صغيرها و كبيرها فلا يمكن أن تقع  منهم معصية أو مخالة لأوامر الله عز وجل بخلاف سائر البشر"

C. Hikmah di Balik Kemaksuman Para Anbiya.

1) Nabi dan rasul adalah suri teladan dan panutan yang wajib diikuti dan dicontoh oleh semua umatnya dalam segala aspek kehidupan. Oleh karenanya, ketika para nabi bermaksiat, maka berarti para umatnya juga diperintahkan untuk melakukan maksiat tersebut, sebab umat adalah pengikut dan diperintahkan untuk meneladani kehidupan para nabi. Dan hal semacam ini adalah mustahil.

2) Maksiat merupakan najis atau kotoran maknawi. Bagaimana mungkin kita menisbahkan kotoran dan najis tersebut kepada para nabi dan rasul yang mulia?

2. Perbedaan Pendapat Ulama Seputar Kemaksuman

A. Apakah Kemaksuman itu ada sejak sebelum nubuat atau setelahnya?

1). Sebagian ulama berpendapat bahwa kemaksuman para nabi dan rasul mulai berlaku sejak sebelum maupun sesudah menerima nubuat. Alasannya, karena kehidupan di masa sebelum pengutusan akan berdampak kepada jalan dakwah mereka di kemudian hari sebagai nabi dan utusan.

Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi seorang nabi dan rasul untuk memiliki riwayat hidup yang baik sejak sebelum masa nubuat. Pendapat ini berhujah dengan firman Allah SWT.:

"وَإِنَّهُمْ عِندَنَا لَمِنَ ٱلْمُصْطَفَيْنَ ٱلْأَخْيَارِ"

"Dan sungguh, di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik" (QS: Saad, 47)

2). Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa para anbiya dianugerahi kemaksuman sejak masa nubuat. Sedangkan sebelum masa nubuwah, mereka tidak memiliki kemaksuman, karena umat manusia hanya diperintahkan untuk meneladani para nabi setelah mereka menerima wahyu saja.

Walaupun demikian, pendapat kedua ini menegaskan bahwa para nabi dan rasul tetap tidak mungkin melakukan kemaksiatan sebelum diutus, karena mereka memiliki fitrah yang suci dan bersih yang mampu menjaga diri mereka dari melakukan segala penyimpangan.

Jadi, kelompok pertama maupun kedua bersepakat bahwa para nabi dan rasul tidak mungkin melakukan kemaksiatan sebelum masa nubuat. Namun, dua kelompok ini masih berbeda pendapat dalam menentukan alasan ketidak-mungkinan terjadinya maksiat tersebut.

kelompok pertama mengatakan bahwa ketidak-mungkinan terjadinya maksiat ini dikarenakan para nabi dan rasul sudah dimaksum sejak sebelum masa pengutusan. Sedangkan kelompok kedua mengatakan bahwa para nabi dan rasul tidak bermaksiat (pada masa sebelum nubuat) karena mereka memiliki fitrah yang suci sejak sebelum masa kenabian.


B. Apakah para nabi dan rasul hanya dimaksum dari dosa besar serta tidak dimaksum dari dosa kecil?

Syaikhul Islam, Zakaria al-Anshori dalam Ghoyatul Wushul menampilkan rentetan penjelasan perihal kemaksuman para nabi. Beliau menyisipkan keterangan ini di awal-awal pembahasan mengenai "al-Kitab as-Tsani fi as-Sunnah". Dalam penjelasannya, Syekh Zakaria al-Anshari menyebutkan ijmak dan ikhtilaf ulama dalam menyikapi konsep kemaksuman para nabi dan utusan.

Jika disimpulkan dengan mengacu pada ijmak dan ikhtilaf ulama, maka dosa yang dilamatkan kepada para nabi dan rasul terbagi menjadi beberapa macam:

1) Ijmak ulama

Ulama telah berijmak bahwa para anbiya mustahil melakukan: (1) dosa besar (sengaja maupun lupa), (2) dosa kecil yang dilakukan dengan sengaja, dan (3) dosa kecil yang tidak disengaja (lupa) namun dapat merendahkan atau menghinakan para nabi dan rasul.

2) Ikhtilaf ulama

Ulama berbeda pendapat dalam menyikapi dosa kecil yang tidak disengaja serta tidak dapat merendahkan dan menghinakan para nabi dan rasul. Berikut perincian ikhtilaf ulama dalam hal ini:

a. Pendapat yang muktamad

"الأنبياء عليه الصلاة والسلام معصومون حتى عن صغيرة سهوا فلا يصدر عنهم ذنب لا كبيرة ولا صغيرة لا عمدا ولا سهوا"

"Para nabi Alaihi as-shalatu wa as-salam itu dimaksum hingga dari dosa kecil dalam keadaan lupa, maka tidak mungkin mereka melakukan dosa besar maupun kecil, baik itu dilakukan secara sengaja maupun lupa"

b. Pendapat mayoritas ulama

"والأكثر على جواز صدور الصغيرة عنهم سهوا الا الدالة على الخسة كسرقة لقمة والتطفيف بتمرة وينبهون عليها لو صدرت"

"Mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka (para nabi dan rasul) mungkin melakukan dosa kecil dalam kondisi lupa, selama dosa kecil tersebut tidak bersifat menghinakan mereka".

Akan tetapi, dalam kitab Hasyiah al-Banani menyebutkan bahwa pendapat mayoritas ulama ini adalah pendapat yang daif (lemah).

Kesimpulan di bagian ini, merupakan hasil penggabungan dari kitab Gayatul Wushul dengan beberapa kitab yang lain.


Wallahu A'lam.

Katib: Muhammad Fakhrul Rijal

Post a comment

0 Comments