Tema "Akhirat Tidak Kekal?"


KESIMPULAN FORKA TAFSIR 01

(Halakah Kamis, 13 Februari 2020 M)

 

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الجْنَّةِ خَالدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاءَ رَبُّكَۖعَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ ﴿۱۰۸﴾

(QS: Hud, 108)­

"Dan adapun orang-orang yang berbahagia, maka (tempatnya) di dalam surga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika tuhanmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tidak ada putus-putusnya"         (QS: Hud, 108).

Ayat ini memiliki kaitan kuat dengan ayat sebelumnya (QS: Hud, 107). Karenanya, tidak akan lengkap jika kita tidak mengetahui maksud dari ayat QS: Hud, 107 tersebut. Dalam dua ayat ini (QS: Hud 107-108), Allah SWT. menjelaskan keadaan orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka; Orang-orang yang bahagia akan diberikan kabar gembira berupa kekal di dalam surga. Sedangkan orang-orang yang celaka akan mendapat kekekalan di dalam neraka.

Allah SWT berfirman :

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ ﴿۱۰٦﴾ خَالدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيد﴿۱۰٧﴾

(QS: Hud, 106-107)

"Maka adapun orang-orang yang sengsara, maka (tempatnya) di dalam neraka, di sana mereka mengeluarkan dan menarik nafas dengan merintih. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain. Sungguh, tuhanmu maha pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki".

 

Sekilas ayat di atas memberikan pemahaman yang berbeda dengan iktikad kaum muslimin. Karena potongan ayat " مَا دَامَتِ السَّمَاوَا تُ " seolah-olah memberikan pemahaman bahwa kenikmatan surga dan siksa neraka hanya akan bertahan selama usia langit dan bumi. Padahal langit dan bumi merupakan hal yang fana. Dengan begitu, ayat ini terkesan memberikan kesimpulan bahwa siksa neraka dan nikmat disurga juga tidaklah kekal.

Para ulama berusaha untuk memaparkan beberapa tafsiran, guna menghilangkan kesimpulan buram dan meluruskan dugaan miring akan ayat ini. Berikut perincian makna ayat dengan tafsiran sederhana dari para ulama:

 

A.     Tafsiran potongan ayat " مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْ ضُ "

         1. Pendapat pertama mengatakan bahwa maksud dari langit dan bumi adalah langit dan bumi yang berada di akhirat. Karena langit dan bumi tidak hanya ada dunia. Bahkan setiap sesuatu yang berada di atas bisa disebut langit. Dan sesuatu yang berada di bawah bisa disebut bumi. Dengan begitu, orang-orang di akhirat akan hidup dibawah langit dan berpijak di atas bumi akhirat. Pendapat ini berargumen dengan firman Allah SWT:

 

يَوْمَ تُبَدَّلُ ٱلْأَرْضُ غَيْرَ ٱلْأَرْضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُۖ وَبَرَزُوا لِلَّهِ ٱلْوَٰحِدِ ٱلْقَهَّا رِ﴿٤۸﴾

"(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (mausia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa" (QS: Ibrahim, 48).

 

         2. Pendapat kedua mengatakan bahwa ketika orang-orang arab mengucapkan " مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ ", maka makna dari perkataan tersebut adalah "أَبَدًا " (Selamanya). Karena perkataan semacam ini tidak ditujukan untuk membatasi sebuah makna pada satu durasi, melainkan bertujuan untuk mengarahkan pemahaman pada arti yang abadi. Hal ini juga selaras dengan perkataan orang arab "مَا طَمَا البَحْر " dan "وَ مَا أَقَامَ الجَبَل ". Semua lafal ini memiliki maksud yang mengarah pada makna "abadi".

 

B.     Tasiran potongan ayat "إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ "

         1. Istitsna' (pengecualian) ini adalah pengecualian yang tidak dilakukan oleh Allah SWT. Sesuai pendapat ini, maka makna ayat di atas bisa ditafsir sederhanakan sebagaimana berikut "Orang-orang yang celaka akan kekal di dalam neraka, kecuali apa yang dikehendaki oleh tuhanmu berupa mengeluarkan dari neraka". Akan tetapi, Allah tidak melakukan pengecualian ini (mengeluarkan mereka dari neraka). Dengan demikian, para penghuni neraka akan tetap kekal di neraka sebagaimana keadaan mereka sebelumnya.

         2. Pendapat kedua mengatakan bahwa tujuan Istitsna' ini adalah mengarahkan makna ayat pada tafsiran berikut "Orang-orang yang celaka akan kekal tinggal di neraka, kecuali saat mereka menjalani proses hisab". Pada saat itu, mereka tidak sedang berada di neraka, melainkan di tempat hisab.

         3. Maksud dari potongan ayat ini adalah "Orang-orang yang celaka akan tetap kekal di neraka, kecuali apa yang dikehendaki oleh tuhanmu, berupa siksa dengan rasa dingin atau lainnya. Oleh karenanya, para penghuni neraka tidak hanya akan disiksa dengan api neraka, melainkan juga terkadang disiksa dengan rasa dingin, atau lainnya". Pendapat ketiga ini mengalamatkan istitsna' kepada azab itu sendiri.

         4. Pendapat keempat mengatakan bahwa pengecualian ini ditujukan kepada orang-orang muslim yang bermaksiat. Maksudnya, seluruh manusia yang melakukan maksiat akan mendapat siksa neraka, kecuali orang-orang muslim. Karena sekalipun mereka juga disiksa di neraka, akan tetapi tidak akan kekal di dalamnya. Mereka akan tetap masuk surga, setelah menebus semua dosa dengan siksaan neraka.

 

Keterangan di atas juga dapat dipraktekkan untuk menafsiri potongan ayat       " مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْ ضُ " dan "إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّك " yang ada dalam ayat QS: Hud, 108. Karena ulama juga memberikan tafsiran yang sama, meskipun juga terdapat beberapa perbedaan.

 

Berikut beberapa ringkasa poin penting terkait ayat "

مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْ ضُ  ":

 

         1. Maksud dari langit dan bumi adalah langit dan bumi yang berada diakhirat. Sebagaimana penjelasan ayat sebelumnya. Dengan demikian, orang-orang yang beruntung akan tetap kekal di surga, sebagaimana kekalnya bumi dan langit yang berada di akhirat.

 

         2. Pendapat kedua mengatakan bahwa ketika orang-orang arab mengucapakan " مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْ ضُ " maka maknanya adalah "أَبَدًا ". Karenanya, ayat ini sama sekali tidak memberikan pengertian bahwa surga tercipta fana.

 

 

Penjelasan singkat terkait ayat "إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ":

 

1. Istitsna' dalam ayat ini merupakan pengecualian yang tidak dilakukan oleh Allah SWT. Dengan artian, orang-orang yang bahagia akan tetap kekal di surga, karena pengecualian yang berupa tidak kekalnya mereka di dalam surga merupakan pengucualian yang tidak pernah Allah SWT. lakukan.

 

2. Pendapat kedua mengatakan bahwa tujuan Istitsna' ini adalah mengarahkan makna ayat pada tafsiran berikut "Orang-orang yang bahagia akan kekal tinggal di surga, kecuali saat mereka menjalani proses hisab". Pada saat itu, mereka tidak sedang berada di surga, melainkan di tempat hisab.

 

 

Jumat, 28, Februari, 2020 H.

Wallahu A'lam

 

Katib: Muhammad Sunandar

 

 

Post a comment

0 Comments