Artikel; Pluralisme, Bukti Liberal Kaum Tekstualis


Pluralisme, Bukti Liberal Kaum Tekstualis.

Oleh : Muhammad Fahrurrizal (Mahasiswa Tingkat Tiga, Fakultas Syariah wal Qanun, Univ. Al-Ahgaff) 

Ahlussunnah wal Jama'ah yang memiliki karakteristik Tawasuth (Moderat) dan Tawazun (Seimbang) selalu berada di tengah-tengah dua kutub ekstrem yang sedang berkonfrontasi, diantaranya kita tidak asing lagi dengan dua firqoh munharifah (menyimpang) Syi'ah Rofidhoh dan Nawashib yang selalu menjadi musuh bebuyutan.

Dalam mensifati dua kubu tersebut, al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam kitabnya "Tatsbiitul Fuad "mengibaratkan keduanya seperti,

"بعرة مقسومة نصفين"
"Kotoran unta dibagi dua", lantaran0 keduanya sama-sama sesat.

Dalam konteks kekinian, rasanya ibarat tersebut sangat cocok kita sifatkan kepada dua kubu ekstrem saat ini yang terus berseteru: Kaum Liberal yang bersikap Tafrith (menyalahgunakan Syari'at Islam) dan Wahaby Takfiri yang bersikap Ifroth (ekstrem / radikal).

Tatkala menyerang Wahaby Takfiri, kelompok Liberal sering kali mengkritik mereka dengan julukan "Kaum tekstualis". Padalahal, jika kita perhatikan dengan seksama, untuk memanipulasi racun pemikiran mereka, kelompok Liberal pun sering kali memahami dalil-dalil agama, baik itu al-Quran maupun Hadits secara tekstual.

Itulah karenanya mereka pantas dijuluki "Kotoran Unta dibagi dua", atau agar lebih keindonesiaan kita ganti redaksinya menjadi "Kotoran ayam dibagi dua", karena kelompok liberal sangat alergi dengan hal yang berbau kearab-araban.

Oke, kita ambil contoh kesesatan mereka terkait Paham Pluralisme.

Terkait paham ini mereka mengatakan, "Sesungguhnya iman yang dapat menyelamatkan kita kelak di Yaumulkiamah adalah Iman kepada Allah Swt. dan hari akhir, adapun iman kepada Nabi Muhammad Saw. tidaklah wajib."

Dengan demikian mereka menyimpulkan, "sesungguhnya Yahudi dan Nasrani, mereka selamat di Akhirat kelak , karena mereka semua beriman kepada Allah dan Hari Akhir sebagaimana kaum muslimin."

Tidak sampai disitu, mereka berhujjah dengan firman al-Quran: 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" [QS. Al Baqarah : 62]

Dari argumen mereka, tampak sekali mereka begitu tekstualis layaknya saudara kembar dengan kelompok wahaby takfiri yang tidak paham konteks, menafikan ayat-ayat lain yang menafsirkan ma'na ayat tersebut, mencoba memanipulasi hujjah dan korupsi dalil untuk menebarkan racun pemikiran mereka.

Berikut bantahannya :

1. Sesuai Asbabunnuzul (latar belakang turunnya ayat), yang dimaksud dari Yahudi dan Nasrani pada ayat tersebut adalah Yahudi yang beriman kepada Nabi Musa a.s. dan Nasrani yang beriman kepada Nabi Isa a.s. sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana diriwayatkan di dalam Tafsir Bahrul Muhith :

قوله تعالى " إن الذين آمنوا و الذين هادوا " (الآية). نزلت في أصحاب سلمان، و ذلك أنه صحب عبادا من النصارى، فقال له أحدهم : إن زمان نبي قد أظل، فإن لحقته فآمن به. و رأى منهم عبادة عظيمة، فلما جاء النبي صلى الله عليه و سلم، ذكر له خبرهم و سأل عنهم، فنزلت هذه الآية ، حكى هذه القصة مطولة ابن اسحاق و الطبري و البيهقي.

" Ayat ini turun berkenaan dengan sahabat-sahabat Salman al-Farisi. Dahulu ia bersahabat dengan suatu kaum dari kalangan nasrani, lalu berkata salah satu dari mereka kepada Salman: sesungguhnya Zaman Kenabian telah dekat, jika aku menemuinya maka aku akan beriman kepadanya. Dan Salman melihat dari mereka ibadah yang agung, maka tatkala telah datang Nabi Saw, Salman menceritakan perihal tentang mereka kepada Nabi Muhammad Saw, lalu turunlah ayat ini. Ibnu Ishaq telah menceritakan kisah ini secara panjang lebar, berikut Imam at-Thobari dan Baihaqi".

Begitupula diriwayatkan dalam tafsir Ibnu Katsir :

و قال السدي : {إن الذين آمنوا والذين هادوا والنصارى.......} الآية : نزلت في أصحاب سلمان الفارسي، بينا هو يحدث النبي صلى الله عليه و سلم إذ ذكر أصحابه، فأخبره خبرهم، فقال : كانوا يصومون و يصلون و يؤمنون بك، و يشهدون أنك ستبعث نبيا، فلما فرغ سلمان من ثنائه عليهم، قال له نبي الله صلى الله عليه و سلم : " يا سلمان، هم من أهل النار ". فاشتد ذلك على سلمان، فأنزل الله هذه الآية.."

As-Sadi berkata, "ayat ini turun berkenaan dengan sahabat-sahabat salman al-Farisi, ketika ia berbincang-bincang dengan baginda Nabi Saw, tiba-tiba ia menceritakan tentang sahabatnya dan mengabarkan perihal mereka, lalu ia berkata: dahulu mereka berpuasa, shalat dan beriman kepadamu, dan mereka meyakini bahwasannya Engkau akan diutus sebagai Nabi. Tatkala Salman selesai memuji mereka, Nabi Saw berkata kepadanya : "wahai salman mereka termasuk ahli neraka". Salman merasa berat dengan jawaban tersebut lalu Allah Swt menurunkan ayat tersebut.

Ketika kita perhatikan sangat jelas dan lugas yang dimaksud yahudi dan nasrani dalam ayat tersebut adalah mereka yang berpegang teguh kepada ajaran Nabinya, sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw. Adapun setelah diutusnya Nabi Saw, iman mereka "Tidak Diterima" dan mereka wajib beriman kepada Nabi Muhammad Saw.

Maka dari itu Ibnu Abbas r.a mengatakan bahwa setelah QS. Al Baqarah ayat 62, turunlah QS. Ali Imran : 85 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

" Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi."

2. Selain QS. Ali Imran : 85, Allah Swt. pun menegaskan dalam QS. Ali Imran : 19, bahwa hanya Agama Islamlah yang diterima di sisi Allah swt. 
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ

Dalam ilmu Balaghoh, redaksi dalam ayat ini berfaidah "Hashr" (membatasi). Sebagaimana diterangkan dalam Tafsir al-Munir karya Syekh Wahbah Zuhaili :

إن الدين عند الله الإسلام الجملة معرفة الطرفين، فتفيد الحصر.

Baik isim inna "الدين" maupun khobar inna "الإسلام" keduanya sama-sama ma'rifat yang berfaidah hashr (membatasi), sehingga makna ayat tersebut menjadi :

لا دين عند الله الا الإسلام
"Tidak ada Agama yang diterima disisi Allah kecuali Agama islam."

3. Selanjutnya, benarkah yang dibutuhkan itu hanya beriman kepada Allah dan Hari Akhir saja? Sedangkan beriman kepada Nabi Muhammad saw itu tidak wajib?

Pemikiran menyimpang ini telah dibantah dengan tegas dan lugas oleh Syekh Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari dalam kitabnya "At-Tahqiq Al Bahir fii ma'na Al Iman billah wal Yaumil Akhir", pada hal. 12 beliau berkata :

"Sesungguhnya Iman secara hakikat syar'iyyah tersusun dari beberapa unsur, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Baginda Nabi saw dalam menjawab pertanyaan Malaikat Jibril a.s :

الإيمان ان تؤمن بالله و ملائكته و كتبه و رسله و اليوم الآخر و بالقدر خيره و شره

"Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul -rasul-Nya, Hari Akhir dan kepada Qadar baik dan buruknya itu Qadar"

Unsur-unsur tersebut seluruhnya "mutalazimah", saling terkait secara syara', sekiranya tidak diimani salah satunya maka otomatis gugur unsur-unsur yang lainnya, dan gugur pula hakikat iman dalam dirinya. Orang yang mengingkari seorang Rasul saja, maka gugur darinya hakikat keimanan secara prinsip, dan otomatis ia dalam hukum syara' dihukumi tidak beriman kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab, para Rasul, Hari Akhir dan Qadha-Qadar. Dan jika orang tersebut tetap mengklaim dirinya beriman kepada itu semua, maka klaimnya tertolak secara syara.

Setelah itu Syekh Abdullah al-Ghumari memberikan dalil-dalil ayat al-Quran sebagai argumentasi akan keterikatan unsur-unsur hakikat iman satu sama lain:

A. QS. Annisa - 150

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلً

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),"

Ayat ini turun berkenaan dengan Yahudi dan Nasrani. Dalam ayat ini Allah swt menghukumi mereka telah Kafir karena mereka mengimani nabi-nabi mereka akan tetapi mereka mengingkari Nabi Muhammad Saw.

Adapun makna "At-tafriq baynallah warusulihi" yaitu mereka beriman kepada Allah akan tetapi mendustakan para Rasul-Nya, adapun makna "At-Tafriq bayna rusulihi", mereka mengimani sebagian nabi-nabi dan mengingkari sebagian yang lainnya.

Begitupula Yahudi dan Nasrani, mereka beriman kepada Allah Swt akan tetapi mengingkari Nabi Saw, maka mereka telah kufur dan iman mereka tidak bermanfaat.

B. Dalam ayat : 
1). QS. Asy-Syu'aro 105 :
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ

"Kaum Nuh telah mendustakan Para Rasul"

2). Ayat 123 : 
كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ

"Kaum 'Aad telah mendustakan para Rasul"

3). Ayat 141 :
كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ

"Kaum Tsamud telah mendustakan para Rasul"

Allah swt menegaskan dalam Ayat-ayat tersebut bahwa Kaum Nuh, 'Aad dan Tsamud tatkala mereka mengingkari satu Rasul yang diutus kepada mereka, maka mereka sama saja telah mengingkari seluruh utusan Allah swt. 

Ayat ini secara gamblang menunjukan adanya Talazum (keterikatan) antar unsur-unsur hakikat keimanan, tatkala seseorang mengingkari satu Rasul saja maka otomatis ia telah mengingkari Para Rasul seluruhnya.

C. QS. AT Taubah : 29 

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

" Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk."

Ada beberapa poin yang kita dapatkan dari ayat ini :

1). Kenapa dalam ayat ini Allah swt menegaskan bahwa Yahudi dan Nasrani tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, padahal mereka beriman kepada keduanya?

Jawabannya: karena iman mereka Kepada Allah dan Hari Akhir batal dan tidak ada artinya, disebabkan mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad Saw, tatkala mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad Saw maka iman mereka kepada Allah dan hari akhir gugur, inilah alasan kenapa Allah Swt menafikan dari mereka iman kepada-Nya dan Hari Akhir .

Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Jalalain:

(قاتلوا الذين لا يؤمن بالله ولا باليوم الآخر ) و الا لآمنوا بالنبي صلى الله عليه و سلم

قال الشيخ سليمان الجمل في حاشيته : قوله : و الا لآمنوا بالنبي صلى الله عليه و سلم جواب عما يقال : إن أهل الكتاب يؤمنون بالله و اليوم الآخر ، فكيف نفت الآية عنهم الإيمان بهما ؟ 
و محصل الجواب : أن إيمانهم بهما باطل لا يفيد، بدليل أنهم لا يؤمنوا بالنبي صلى الله عليه و سلم، فلما لم يؤمنوا به، كان إيمانهم بالله و اليوم الآخر لعدم، فصح نفيه في الآية.

Dari sini kita bisa lihat adanya talazum (keterikatan) antara unsur-unsur hakikat keimanan, ketika Yahudi dan Nasrani tidak beriman kepada Nabi Muhammad SAW maka otomatis merekapun dianggap tidak beriman kepada Allah swt dan hari akhir. Hal ini sangat cukup membantah racun pemikiran kaum liberal yang fundamentalis dan kolot dalam memahami ayat secara tekstualis. 

2). Allah swt secara tegas mengatakan bahwa Yahudi dan Nasrani itu "لَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ ", tidak beragama dengan agama yang haq (yang benar, yaitu Islam), Ini menandakan bahwa agama yang mereka anut itu agama yang bathil dan tidak diterima di sisi Allah Swt, sebagaimana yang tertera dalam QS. Ali Imran : 85. 

4. Terakhir, Syekh Abdullah al-Ghumari menukil Ijma' dari Ibnu Hazm dalam kitabnya "Maratibul ijma" pada pembahasan yang berjudul :

"باب من الإجماع في الإعتقادات، يكفر من خالفه بإجماع" اي لكونه معلوما من الدين بالضرورة

"Bab Ijma' dalam masalah Aqidah, dihukumi kufur orang yang mengingkarinya", Karena termasuk perkara Ma'lum minaddin bidh-dhoruroh.

"واتفقوا أن دين الإسلام ، هو الذي لا دين لله في الأرض سواه، و أنه ناسخ لجميع الأديان قبله، و أنه لا ينسخه دين بعده أبدا ، و أن من خالفه ممن بلغه كافر مخلد في النار أبدا .اھ
" Telah bersepakat kaum muslimin sesungguhnya Agama islam adalah agama yang tiada lagi agama yang diterima disisi Allah selain agama islam. Islam mengahapus seluruh agama sebelumnya, dan tidak ada agama setelahnya yang mengahapusnya. Barangsiapa yang telah mendapati dakwah islam sampai kepadanya dan ia mengingkari agama islam, maka ia murni telah kafir dan kekal di neraka selamanya "

Lalu beliau berkomentar :

و على هذا فما يعتقده بعض العوام الجهلة بالدين : أن اليهودي او النصراني اذا عمل في الدنيا خيرا، يدخل الجنة يوم القيامة، كفر محض بإجماع المسلمين.

"Berdasarkan ijma' tersebut, siapa saja yang meyakini bahwa Yahudi dan Nasrani apabila mengerjakan amal saleh di dunia akan masuk surga kelak di Hari Akhir, maka ia dihukumi kufur dengan Ijma' kaum muslimin".

PENUTUP 

Berdasarkan dalil-dalil di atas telah jelas bagimana kekeliruan kaum liberal dalam memahami surah al-Baqarah : 62. Sesungguhnya dalam dogma/ ajaran Islam yang bersifat fundamental (pokok dan mendasar), orang-orang kafir walaupun berbuat baik maka ia tetap masuk neraka selamanya karena sebab kekufurannya, akan tetapi mereka tetap diberikan ganjaran di dunia atas kebaikannya (seperti shodaqoh misalkan), berupa kesehatan, kelapangan rezeki dsb. Adapun di akhirat kelak ia tidaklah mendapat ganjaran, berdasarkan QS. Al Furqan : 23.

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

"Dan kami perlihatkan segala amal kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir (semasa di dunia), lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan (sia-sia dan tak memberi manfaat sama sekali lantaran kekafiran mereka) ".

Lalu, terkadang Allah "meringankan" dari orang kafir sebagian adzab mereka ( mereka tetap di neraka ) seperti contohnya :

A. Kondisi Paman Nabi Saw, Abi Thalib, dalam Shahih Bukhori :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَغْنَيْتَ عَنْ عَمِّكَ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ قَالَ هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ وَلَوْلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الْأَسْفَلِ مِنْ النَّارِ

Artinya :

Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Sufyan] telah menceritakan kepada kami [‘Abdul Malik] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Al Harits] telah menceritakan kepada kami [Al ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib] radliallahu ‘anhu, dia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Mengapa anda tidak menolong pamanmu padahal dia yang melindungimu dan marah demi membelamu?”. Beliau bersabda: “Dia berada di tepian neraka. Seandainya bukan karena aku, dia tentu sudah berada di dasar neraka "

B. Selain itu dalam suatu keterangan diriwayatkan pula bahwa Abu Lahab diringankan siksanya setiap hari senin, karena telah memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah sebab bergembira atas kelahiran Nabi saw.

Tentunya setiap Agama memiliki dogmanya masing-masing, dan silakan masing-masing penganut agama meyakininya, namun kelompok Liberal dengan paham Pluralismenya telah merusak kebhinekaan tersebut dengan memaksa satu penganut agama agar meyakini ajaran agama yang lain. 

اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه. و بالله التوفيق و الهداية.

=========

Terus dukung dan ikuti perkembangan kami lewat akun media sosial Ahgaff Pos di;

Facebook: facebook.com/AhgaffPos
Instagram: instagram.com/ahgaff.pos
Youtube: tiny.cc/YoutubeAhgaffPos
Website: amiahgaff.org
Medium: medium.com/@ahgaffpos95

Post a comment

0 Comments