Akankah Allah SWT Dzalim? Jalan spiritual Musa A.s Sang Kalimullah

Oleh: Kang Ahmed



Semestinya bagi umat islam, tentu kita yakin dan percaya bahwa setiap kehendak Allah ta'ala adalah baik, tanpa ada keraguan di hati kita. Ya, tentu. Karena Allah adalah pemilik segalanya, kapten juga komandan alam semesta, tiada satupun makhluk yang mampu memangku titah kuasanya.

Dalam urusan ketuhanan yang memegang kendali alam semesta tentu segala yang terjadi di muka bumi ini adalah hasil dari apa yang jadi ketentuan Allah, dan ketentuan Allah tidak mungkin meleset ke sesuatu yang buruk kecuali itu hasil dari perilaku makhluk ciptaan Allah ta'ala sendiri.

Sesuai apa yang tertera dalam Alquran, Allah SWT berfirman:

من عمل صالحا فلنفسه ومن أساء فعليها وما ربك بظلام للعبيد

"(Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka pahalanya untuk dirinya sendiri) ia beramal untuk dirinya sendiri (dan barang siapa yang berbuat jahat maka dosanya atas dirinya sendiri) bahaya dari perbuatan jahatnya itu kembali kepada dirinya sendiri (dan sekali-kali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba-Nya) " (QS. 41: 46)

Seperti yang diceritakan dalam sebuah kisah tentang Nabiyullah Musa alaihissalam ketika bertanya kepada Allah ta'ala tentang kuasanya atas makhluk di muka bumi ini.
Singkat cerita Nabi Musa bertanya apakah kedzoliman di muka bumi ini termasuk bentuk sifat Rahman dan Rahimnya Allah ta'ala sebagai Tuhan.

Lalu Allah ta'ala memerintahkan Nabi Musa untuk berhenti di sebuah bukit, dan diperintahkan untuk diam dan jangan berkata apapun ketika melihat suatu hal di depannya. Selang beberapa saat kemudian lewatlah seorang penunggang kuda yang gagah dengan sebilah pedang di punggungnya, ia berhenti di tepian sungai lalu melepas pakaiannya dan mandi di sungai tersebut. Setelah berendam dan mandi ia pun mengenakan pakaian dan pedangnya kembali guna melanjutkan perjalanan, namun tanpa sadar ia telah menjatuhkan sebuah kantong yang mungkin berisikan emas, Nabi Musa melihat hal itu dan hendak memberitahu namun ia ingat dirinya diperintahkan untuk tidak berkata apapun. Lantas pergilah si penunggang kuda tadi tanpa menyadari kalau kantong miliknya terjatuh.

Tak lama datang seorang pejalan kaki yang juga ingin menyegarkan diri di sungai tersebut. Ia terkejut melihat sebuah kantong lalu mengambilnya, dan ternyata isinya kepingan emas. Tanpa pikir panjang ia pun pergi dan mengurungkan niat untuk membilas tubuh di sungai. Nabi Musa yang melihat itu pun ingin memberitahu kalau itu bukan haknya, namun lagi-lagi ia teringat bahwa tidak boleh berkata apapun.

Lalu datanglah orang ketiga, seorang kakek tua renta yang kelelahan dan kepanasan, lalu sang kakek beristirahat dan bersandar di sebuah pohon di pinggir sungai tersebut. Tak lama kemudian datang penunggang kuda yang kantongnya terjatuh tadi, ia mencari-cari kantong miliknya dan ia yakin kalau kantong itu terjatuh tak jauh di dekat sungai. Di tengah kebingungannya, dia melihat seorang kakek yang sedang beristirahat, lalu bertanya;
"kakek, apa kamu melihat sebuah kantong di sekitar sini?"

"Kantong apa anak muda? Saya tak melihat apapun di sini." Jawab sang kakek.

"Alahh..aku yakin kamu yang mengambilnya, jujur saja!"

"Tapi saya benar-benar tak melihat apapun dari tadi, nak."

"Banyak omong kau kakek bangka tak tau diri, sudah tua masih juga tak mau ngaku."

Tanpa pikir panjang Sang Penunggang Kuda menghunuskan pedangnya dan menebas kepala sang kakek dan pergi. Melihat kejadian itu Nabi Musa tak tahan dan ingin menceritakan yang sebenarnya terjadi, namun ia tertahan oleh perintah yang tak bisa ia ingkari, dan Nabi Musa hanya bisa terdiam melihat kejadian itu.

Nabi Musa A.s masih kebingungan melihat kezaliman di depan matanya tersebut dan apa arti dari semua itu. Akhirnya Nabi Musa a.s bertanya kepada Allah.

Allah ta'ala pun menjelaskan kepada Nabi Musa a.s makna dari kejadian tersebut, bahwa pada kejadian yang pertama yaitu penunggang kuda si pemilik kantong emas, secara dhohir kantong itu miliknya, namun sebenarnya kantong tersebut adalah milik pemuda yang kedua yang menemukannya di pinggir sungai, penunggang kuda yang telah merampok kantong itu darinya dan kini kembali lagi kepada pemilik aslinya.
Dan yang kedua adalah saat penunggang kuda menebas kepala seorang kakek tua, jelas sekali itu adalah bentuk kejahatan yang sangat besar. Namun hakikatnya itu adalah balasan buat sang kakek, karna semasa mudanya ia dulu adalah seorang perampok dan membunuh orang tua penunggang kuda tersebut sewaktu ia masih kecil, dan kini sang kakek menerima balasan atas perbuatannya di masa muda.

Cerita di atas memberi kita satu pelajaran, bahwa semua kejadian di muka bumi ini sejatinya imbas dari perilaku manusia itu sendiri, yang pada akhirnya kembali kepada dirinya, bukan wujud ketidak adilan qadha qadar Allah ta'ala. Karena itu semua sudah sejak ribuan tahun lalu termaktub dalam al Quran bahwa semua perbuatan manusia itu ada balasannya, jika baik maka Allah pun akan membalasnya dengan kebaikan bahkan dilipat gandakan. Kalaupun itu keburukan Allah juga akan memberikan balasan sesuai dengan apa yang ia perbuat.

Allah SWT berfirman:

من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها ومن جاء بالسيئة فلا يجزى إلا مثلها وهم لا يظلمون

"Siapa membawa amal yang baik maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya balasan pahalanya adalah sepuluh kali kebaikan (dan siapa membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya) balasannya yang setimpal (sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya atau dirugikan) dikurangi sesuatu dari pembalasan yang sebenarnya." (QS. 6:160)

Kesimpulan kecilnya adalah kita harus selalu berhusnuzan kepada Allah ta'ala apapun itu bentuk putusannya, dan senantiasa meningkatan kebaikan yang kita lakukan pada orang lain, karena dampakna akan kembali pada diri kita sendiri. Semoga Allah ta'ala selalu menjaga hati kita dari sifat suuzan baik kepada takdir yang tertulis atau kepada makhluk Allah di muka bumi ini.

Wallahu a'lam.

Post a comment

0 Comments