Ajek, Istiqamah dan Musik

Oleh : Mohamad Abdurro’uf (mahasiswa tingkat akhir Universitas al Ahgaff)



Sebelumnya, saya memahami bahwa, saya dan anak-anak muda lainnya sangat susah memahami makna istikamah dalam agama. Dia dipahami, pertama, istikamah itu membosankan. Dan, kedua, istikamah hanya itu-itu saja. Jadwal ibadah yang tersusun dan berulang setiap hari. Tiap waktu kembali ke kelas dan halaqah itu lagi. Adakah yang lebih menjenuhkan daripada ini?
Ketika melihat orang-orang yang mampu istikamah, kita akan menanyakan bagaimana dia bisa tahan? Atau, insting pertahanan kita sebagai spesies berkata, “Ah, dia kan anaknya kiai, anaknya habib, dia kan orang Tarim. Kalau saya orang biasa. Ya wajar.”
Semua pertanyaan itu adalah tidak adil. Kenapa? Pertama, kita tahu bahwa orang yang istikamah tidak diwajibkan untuk menjelaskan keadaannya, apakah dia senang dengan keistikamahannya ataukah tertekan dan menahan. Kedua, setelah itu, kita tidak pernah menanyakan soalan semacam, “Bagaimana dia bisa menikmati istikamahnya?”
Kalau boleh sedikit nakal, mubahkanlah asas praduga tak bersalah. Kita dilarang menghukumi bahwa mereka sedang tertekan dan menahan sampai bisa membuktikannya. Bagaimana? Cukup adil dan taat hukum, bukan?
Lalu lepaskanlah saya untuk membuktikan sebaliknya. Sebetulnya bukan saya, tapi kalian, dengan telinga sehat, yang membuktikan bahwa istikamah adalah seni yang dinikmati. Seperti melodi yang berulang dari kunci ke kunci.
Metallica pada tahun 1991 merilis lagunya yang paling fenomenal berjudul Enter Sandman. Menurut website resminya, www.metallica.com, lagu ini telah ditampilkan di atas panggung sebanyak 1308 kali. Dimulai sejak Agustus 1991 sampai Januari 2019, dan masih akan berlanjut. Lagu ini benar-benar menuai sukses besar. “…is one of the most instantly recognizable and universally beloved metal songs of all time,” nilai website Revolver.
Kenapa lagu ini begitu sangat fenomenal? Tentu banyak faktornya. Dalam artikel ini abaikanlah liriknya, dan fokuslah pada gitar melodinya. Inilah yang membuat Enter Sandman melegenda, yaitu alunan melodinya yang konsisten dan ajek dari awal sampai akhir. Kau boleh menyebutnya, “itu-itu saja”.
Gitar melodinya mampu mengikat telinga untuk menyimak sampai petikan terakhir. Memang petikanya cuma “itu-itu saja”, tapi disitulah letaknya. Di awal lagu, James Hetfield hanya memetik senarnya satu-satu. Memasuki pertengahan lagu, dia mengganti gaya petiknya namun tetap dengan nada melodi yang sama. Di bagian reff, James Hetfield benar-benar menambahkan mantra ke dalam petikannya, dia mengganti petikannya dengan chord atau kunci, namun tetap dengan nada melodi yang sama. Dia mempertehankan melodi yang diulang-ulang. Dan melodi itu benar-benar dari awal sampai akhir lagu.
Jika masih ragu, cobalah dengarkan lagu ini. Dan simpulkan sendiri!
Poin saya adalah, kenapa kita tidak memahami istikamah itu sebagai keindahan yang berulang? Saya sebulatnya yakin, untuk mencapai kemampuan memetik gitar seperti James Hetfield, Kirk Hammet atau Slash, mereka pasti belajar dari awal. Mereka harus melewati fase yang kita sebut “tertekan dan menahan”. Namun kita gagal membuktikan bahwa mereka benar-benar tertekan dan menahan di fase ini. Malah sebaliknya, mereka menikmati masa-masa belajarnya. Menurut mereka, bermain gitar itu sepenuhnya keindahan, dari ujung ke ujung. Mereka kemudian menjelaskan kepada dunia bahwa mereka menikmati musik lewat aksi panggung dan teriakannya.
Sedangkan, orang istikamah mengekspresikan rasa nikmatnya lewat laku khusyuk dan diamnya sebagai tanda damai. Bukankah ekspresi kenikmatan itu berbeda-beda tergantung apa yang dinikmati? Ada yang bilang “ah segarnya”, “wow”, “hem”, ada yang geleng-geleng, ngangguk-ngangguk, mengambil nafas panjang, menutup mata, melompat-lompat, berteriak, menari, memuji, berterimakasih, dan semua itu tergantung apa yang dinikmati.
Seperti itulah orang-orang Tarim yang sungguh sangat menikmati keistikamahan yang mereka miliki dan wariskan dari generasi ke generasi. Dan doakanlah kami agar tetap menikmati keistikamahan belajar di Hadhramaut.

Post a comment

0 Comments