Ahlu Tarim

Oleh : Muhamamad Maulana Kamal (mahasiswa tingkat tiga Universitas al Ahgaff)



Kemarin kamis saya berkunjung ke salah satu habaib yang ada di Tarim bersama teman akrab saya dari marga Bin Yahya.

Sayyid yang kami kunjungi bermargakan Al Idrus. Beliau tak perlu disebut namanya karena karekteristik beliau bagi kami adalah sosok contoh orang alim yang tak suka dikenal dan tak suka menampakkan dirinya. Bahkan kunjungan kami pertama kalinya itu merupakan kunjungan asing, tak pernah kenal sebelumnya, tak pernah berjumpa, apalagi sampai berjanji untuk mendatangi rumahnya, kedatangan kami hanya sekedar utusan dan menuruti perintah guru kami.

Ada beberapa hal menarik bagi kami di kunjungan pertama itu. Selain lemah lembutnya beliau terhadap orang asing seperti kami, beliau bisa menjadikan suasanya dingin menjadi suasana hangat, tentunya cara beliau menghadapi tamu sangatlah asyik. Orang jauh dan asing bisa menjadi terhibur dan suasanapun menjadi sangat akrab, bahkan seakan-akan kami seperti teman beliau yang sudah puluhan kali berkunjung ke rumahnya.

Banyak hal yang ingin kami ceritakan, namun di tulisan ini saya hanya memyimpulkan dua mutiara hikmah yang sangat membuat kami terkesan.

• Pertama, beliau bercerita bahwa ada sebagian masyarakat bertanya : "Habib, saya heran kenapa begitu banyak orang yang menghormati antum, padahal saya  lihat antum ini tak mengenakan Imamah ( sorban), tak juga antum menggunakan jubbah, antum terlihat biasa, tak seperti para habaib lainnya, bahkan ketika antum sakitpun banyak orang yang berdatangan menjenguk, diantaranya Al Habib Umar bin Hafidz". Beliau menjawab,"ada dua hal yang menjadi motif hidup saya :

- Yang kedua ( sengaja saya sebutkan pertama kali, karena perkataan ini sama persis dengan nasehat guru kami DR. Al Habib Saggaf Baharun), yaitu di manapun berada saya selalu merasa bahwa saya lah orang yang paling hina dan rendah di muka bumi ini, karena manusia itu hidup dan detik-detik terakhirnya itulah yang dapat dijadikan patokan kebahagiannya kelak di Akhirat ( husnul khitimah ), belum tentu orang yang jahat diakhir hidupnya tetap jahat ".

- Dan yang pertama ( hal inilah yang membuat saya tertarik, bahkan saya meminta lebih jelas lagi motivasi ini di akhir pertemuan kami ), yaitu "saya tidak ingin mengganggu orang lain, baik secara jasmani, begitu juga secara rohani". (ada betulnya juga perkataan beliau ini, karena berbuat kesalahan kepada orang lain akan lebih susah meminta maafnya daripada bersalah kepada Allah).

• Kedua, sahabat saya Bin Yahya mengajukan pertanyaan, "Habib, kami ini kurang berkumpul dengan orang-orang shaleh yang ada di Tarim ini, padahal hal ini sangatlah penting apalagi kami datang jauh-jauh dari Indonesia ke sini. Mungkinkah mntum menyebutkan untuk kami nama-nama mereka tersebut? " Dengan tegas beliau menjawab, "yang terlihat nampak mungkin banyak sekali, tapi jika kamu bersikap husnuzzhon kepada Ahlu Tarim maka kamu temukan banyak di antara mereka". Saya yang hanya menyimak perbincangan tersebut menjadi terbungkam seribu bahasa, apalagi teman saya yang bertanya itu, kami hanya sama-sama menghadapkan wajah seraya tersenyum bersama.

Sedangkan pertanyaan saya kepada beliau hanya merupakan  ketakjuban kepadanya,"Habib, saya simak dari awal pembicaraan tadi, antum ini aneh !? Antum tidak pernah menginjakkan kaki ke bumi Indonesia, tapi ada beberapa kabar yang antum sampaikan kepada kami  seakan-akan antum ini tau betul tentang Indonesia, bahkan saya pun mengira antum ini pernah ke Indonesia awalnya !?". Beliau menjawab pertanyaan saya, namun jawaban itu tidak bisa saya ceritkan di tulisan saya ini, karena merupakan hal yang rahasia.

Di akhir pertemuan beliau menghadiahkan kami beberapa kitab karangannya, serta kami berjanji akan mengunjungi beliau lagi ketika Ziarah besar Nabiyullah Hud a.s untuk mengambil Ijazah dari beliau.

Tarim, 5 April 2019

Posting Komentar

0 Komentar