Peradaban Baru Dimulai Dari Masjid

Oleh: Qomaruddin Zainal Fattah, Mahasiswa semester 8, Fakultas Syariah wal Qanun, Universitas Al-Ahgaff




Kalau kita melihat keadaan di sekitar kita, kita menemukan macam-macam cara dari seorang pendakwah ke jalan Allah Swt. dalam menyampaikan substansi ajakannya. Ada yang mengajak untuk selalu berdzikir, meneriakkan suaranya untuk membangkitkan ekonomi islam, juga ada yang bertarung dalam perebutan kekuasaan.

Itu semua benar, karena dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi, kita mau memulai dari yang mana? Apakah sesuai dengan sesuatu yang kita bisa?.

Pada tahun pertama, Nabi Muhammad Saw hijrah ke kota Yatsrib ( al-Madinah al-Munawwarah) dari Makkatul Mukarramah, Beliau meninggalkan pelajaran besar bagi kita, bagaimana caranya memulai sebuah peradaban baru di mata dunia.

Langkah pertama yang diambil oleh Rasulullah Saw, adalah membangun sebuah masjid, yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Nabawi. Beliau membangun masjid sebelum membangun kantor kenegaraan, rumah sakit, pasar dan bahkan sebelum membangun rumah beliau sendiri.

Karena dari masjid, semuanya akan menjadi kuat. Entah itu ibadahnya, ekonominya dan politiknya. Ternyata langkah-langkah ini adalah langkah yang diteruskan oleh para Khulafa'ur Rasyidin; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallahu 'anhum.

Ketika dinasti Bani Umayyah masuk ke Damaskus, mereka melakukan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw, sehingga ketika kekuasan Bani Umyyah melebar ke barat (Andalus dan sekitarnya) mereka semua membangun masjid terlebih dahulu, karena mereka tahu bahwa dari masjidlah peradaban itu ada.

Di saat kekuatan politik dinasti Umayyah di bagian timur melemah, di situ juga muncul kekuatan baru. Yaitu dinasti Abbasiyah. Sehingga serangan demi seranganpun terjadi menimpa keluarga besar dinasti Umayyah, dan mereka banyak yang meninggal akibat pertempuran itu.

Salah satu dari keluarga bani Umayyah berhasil selamat dari serangan itu, yang mana orang ini salah satu dari putra mahkota. Ia lari dari Syam (timur) menunju negeri barat (Andalus), dan ia berhasil menegakkan panji-panji yang selama itu telah hilang dalam kepemimpan yang zholim. Dialah Abdul Rahman Al-Dzakhil.

Setelah Abdul Rahman Al-Dzakhil berhasil menyatukan suku-suku Arab yang ada di Andalus, dia menggulingkan kepemerintahan dari tangan zholim itu dan ia berdiri tegak untuk menjadi seorang pemimpin. Langkah yang pertama ia lakukan adalah memindahkan masjid yang pernah ada di Damaskus, Syam, ke Andalus, Spanyol. Baru setelah itu ia membangun istananya yang megah dan kantor kepemerintahannya tidak jauh dari masjid.

Sehingga tatkala itu, islam kuat di arah timur  (Baghdad, Iraq) yang dipegang Bani Abbasiah, dan juga besar di arah barat (Andalusia, Spanyol) yang dipimpin oleh Abdul Rahman Al-Dzakhil dari Bani Umayyah.

Kalau kita berbicara tentang Kostantinopel, kita ingat dengan Sulthan Muhammad Al-Fatih yang berhasil meruntuhkan kekokohan tembok itu. Setelah ia berhasil masuk ia menjadikan Hagia Sophia (Aya Sofia), katedral terbesar di Eropa sebagai bangunan masjid.

Terkadang kita tidak tahu, kenapa para petinggi islam itu memulai langkah pertamanya dengan membangun masjid. Karena mereka tahu bahwa kekuatan dan peradaban dimulai dari sebuah masjid. Baru setelah masjid berdiri, mereka membangun tempat-tempat sosialnya di sekeliling masjid.

Oleh karenanya, Musthafa Kemal Attaturk--seseorang yang meruntuhkan khilafah Utsmani di Turki--langsung menjadikan Aya Sofia sebagai museum sebagai langkah pertama untuk men-sekulerkan Turki Utsmani, karena Musthafa Kemal paham betul bahwa kekuatan islam dimulai dari sebuah masjid.

Jadi menurut penulis sendiri, setelah melebar kemana-mana, tidak heran ketika ada kota kecil di lembah Hadramaut yang didalamnya ada sekitar 360 masjid. Mungkin secara peradaban modern kota ini ketinggalan, tetapi masalah peradaban ilmu dan takwa terus mengalir dari sudut-sudut kotanya untuk menyinari dunia.

Tidak heran ketika kota ini terus melahirkan ulama-ulama terbaik dari masa-masa, karena mereka tidak pernah jauh dari masjid. Itulah kota yang kita kenal dengan nama Tarim, kota para waliyullah dari keturunan rasulullah SAW.

Mulai dari sekarang kita harus kembali lagi ke jalan yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, bahwa kita tidak boleh meninggalkan masjid.

Kita harus memperkenalkan generasi muda kita kepada masjid, cinta masjid, rajin berjalan ke masjid. Karena masjid adalah rumah Allah Swt. Dzat yang berhak untuk kita sembah. Di sanalah lantas ayat al-Qur'an dibaca dan bermacam-macam ilmu dicari dan digali. Maka tidak mustahil kalau masjid kita ramai, peradaban baru akan dimulai. Wallahua'alam.

=====

Terus dukung dan ikuti perkembangan kami lewat akun media sosial Ahgaff Pos di;

Facebook: facebook.com/AhgaffPos
Telegram: t.me/ahgaffpos
Instagram: instagram.com/ahgaff.pos

Posting Komentar

0 Komentar