Mereka Tidak benar-benar Pergi

Oleh: Almhdhr Muhammad Syaugi


Tarim, 10 februari 2019


Kurang lebih satu tahun yang lampau, Al-Habib Salim bin Abdullah Assyatiri, Al-Habib Idrus bin Smith & Al-Habib Abdullah bin Muhammad bin Syihab meninggalkan kami, hebatnya kabar tentang kepergian ketiga nama-nama besar itu selalu saya dapat ketika bangun dari tidur, dan membuat linglung sepanjang hari.

Pada hari Habib Salim meninggal, saya berkata "Itu bohong, sudah banyak kabar seperti itu dari dulu, habib masih sehat, insya Allah kembali lagi kesini". Meskipun bukan santri secara langsung tetapi saya adalah "santri kalong" yang mencuri waktu setiap malam jumat, madras dan rauhah di rubat untuk bisa mendengar dan mengambil faidah ilmu dari beliau, bagi saya Habib Salim adalah "khulashah dari ribuan refrensi yang hidup", dalam segi penyampaian selalu runut dan teratur menyesuaikan tema dengan konteks, bulan, minggu dan hari.

Habib Idrus bin Sumaith, tidak ada yang lebih membuat darah mendidih selain mendengar kaum ekstrimis radikal kanan menzalimi umat islam yang setiap hari tidak pernah putus mengambil keberkahan dari beliau, tangan beliau yang dingin, pandangan beliau yang tajam dan doa doa beliau yang tidak pernah putus.
Saya ingat betul, pada akhir kali saya menziarahi beliau, banyak sekali beliau melontarkan joke tentang indonesia "Kalau sudah ke jawa, akan lama kembali" pada hari itu hadir pula habib Ali Reiza,  dan salah seorang kakak dari senior saya Ust Muhammad Abdullah Nasihin dan anak dari guru besar Dalwa Alm. Ust Nasihin Nur, saya mengadu kepada beliau dan meminta doa supaya diberi "himmah" menuntut ilmu, beliau tersenyum, mengambil air yang dekat dan mengusap kepala saya dengan air itu, "himmah ya habib, himmah" saya terus mengulangi, sampai beliau mengucap "نفع الله بك", dahulu setiap jumat di belakang Jami' Tarim beliau selalu dikelilingi oleh para jamaah untuk dikecup tangannya, dan sekarang kami kehilangan tempat mengadu dan berpulang.

Habib Abdullah bin Syihab, ketika mendengar wafatnya Habib Idrus pada jumat pagi, saya yang ketika itu sedang berada di Mukalla berniat akan menziarahi Habib Abdullah, malam ketika saya tiba  di Tarim, pada pagi harinya, habib Abdullah telah dipanggil pulang kembali, Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk mengecup kening beliau terakhir kali sebelum dikebumikan,  tidak ada kata yang bisa menerjemahkan betapa sakit mereka yang mengalami masa ketika para habaib masih ada dan yang mengalami mereka pergi satu persatu, beliau memang sudah tua dan sakit, tetapi kami masih membutuhkan bimbingan yang tulus dan luhur.
hari dimana Habib Abdullah berpulang, sepulang pemakaman saya masuk kuliah, Dr. Musthafa Smith, pengampu mata kuliah perbandingan madzhab, memang tidak terbiasa mengajar murid yang masuk kelas dan tidak muroja'ah atau murid yang pikirannya kemana-mana beliau akan marah, pada hari itu, beliau menegur saya, "Ya Syaugi, pikiranmu dimana", "Habib Abdullah ya sidi", beliau tidak marah, dan pelajaran hari itu berlalu begitu saja.

Mereka tidak benar-benar pergi, Habib Salim mencontohkan pada kita bagaimana kita harus banyak belajar, membaca, menghafal dan memahami lalu mengajar dengan sangat baik dan tulus, Habib Idrus mencontohkan kepada kita bahwa seorang manusia akan dipanggil kembali sesuai amalan yang biasa dikerjakannya (beliau ditembak ketika shalat Dhuha pada hari Jumat dan syahid diatas sajadahnya), Habib Abdullah bin Syihab mencontohkan pada kita bagaimana harus bersangka baik pada Allah dan kepada hamba-hamba-Nya. Mereka masih abadi selama kita belum melupakan ajaran dan nasehatnya, mereka tidak benar-benar pergi.


Post a comment

0 Comments