Menghabiskan Liburan Musim Dingin dengan Mendaki Gunung Abbad bin Basyir di Yaman

Oleh: Maulana Ibrahim Ritonga (mahasiswa tingkat tiga Universitas Al-Ahgaff)



Menikmati musim  liburan, saya bersama beberapa pelajar Medan di Yaman lainnya mengadakan ziarah ke makam para Auliya dan sahabat Nabi Muhammad SAW. Agenda ini diadakan sekaligus dalam rangka menyambut kunjungan rakan-rakan tingkat satu universitas Al Ahgaff dari kota Mukalla ke Tarim beberapa waktu lalu.

Kami berjumlah 12 orang berangkat dari asrama Universitas al Ahgaff menggunakan mobil sekitar jam 13.45 waktu Yaman. Sesuai dengan rute yang telah dijadwalkan, kami menuju pemakaman Zanbal, pemakaman yang dikenal dengan pusara seribu wali. Di pusara ini, kami membaca surah Fatihah dengan niat agar ziarah ini bertaburan dengan keberkahan.

Setelah beberapa saat di pemakaman itu, kami melanjutkan perjalanan ke desa Inat. Di desa ini,  kami bertandang ke beberapa makan Habaib, seperti makam Habib Abu Bakar bin Salim, Habib Muhdhar bin Abu Bakar bin Salim, Habib Husein bin Abu Bakar bin Salim, Habib 'Aqil bin Salim dan beberapa makam Aulia lainnya.

Satu demi satu biografi singkat kehidupan mereka diceritakan dengan panjang lebar oleh Muhammad Hafizh Nasution selaku guide kami, mulai dari kehidupan di masa remaja mereka, masa menuntut ilmu, guru-guru, keturunannya dan sekelumit dari karamah-keramahnya.

Setelah menyelesaikan ziarah di pemakaman keramat ini, kami pun berangkat menuju Qoryah Lisk, sebuah kampung klasik di Hadhramaut. Di desa ini terletak makam Sahabat Nabi, yakni Abbad bin Basyir. Beliau meninggal dalam perjalanan dakwah memerangi orang yang enggan mengeluarkan zakat pasca wafatnya Rasulullah SAW. Memang, namanya tidak terlalu masyhur seperti sahabat-sahabat nabi yang lain, tapi tentu masyhur di kalangan para penghuni langit.

Makam sahabat 'Abbad bin Bisyr ini terletak di atas pucuk bukit yang menjulang tinggi di desa Lisk itu. Tapak demi tapak kami angkat mendaki puncak itu. Dengan keringat yang bercucuran, nafas tersengal dan kaki gemetaran kami  tiba di puncak.

Setibanya di puncak gunung, sambil menghembus nafas dan beristirahat, kami menikmati semilir angin sepoi-sepoi yang begitu adem menyentuh kulit ari. Dari atas ketinggian, kami melihat bangunan-bangunan di bawah yang berbentuk kotak-kotak kecil seakan melihat serentetan batu-bata yang tertata rapi. Hal inilah yang menghapuskan rasa capek dan lelah kami. Perasaan terasa tenang dan tentram. Sungguh berkah dan indah.

Setelah kami melakukan agenda ziarah dan menunaikan salat Magrib di puncak terbut, kami berangkat pulang ke asram Al Ahgaff. Semoga menjadi ziarah yang berkah dan makbulah. Amin. Sekian! Wassalam.

Post a comment

0 Comments