Membangun Keluarga yang Harmonis & Saling Memaafkan.

Oleh: Muhammad Ihsan bin Syahrullah (Mahasiswa Tingkat Akhir, Fakultas Syariah wal Qanun, Univ. Al-Ahgaff)



Sudah menjadi rutinitas Syaikhuna al-Allamah al-Mufti Muhammad bin Ali Ba'udhon, menghidupkan waktu antara maghrib dan isya, waktu yang penuh berkah ini, dengan menyampaikan ilmu di serambi majelisnya. Sebuah pekerjaan yang telah beliau tekuni selama bertahun-tahun.

Empat kali dalam sepekan beliau mengajar fikih di Ribath Tarim. Malam jum'at dan malam selasa, sesudah salat isya beliau isi dengan pembacaan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam di Masjid Sahl, Aidid.

Selain itu, tiap malam sabtu beliau adakan pengajian di masjid Maula Qubbah yang letaknya tidak jauh dari percetakan al-Hukama. Majlis ini beliau mulai dengan pengajian fiqih, menggunakan salah satu kitab syarah Zubad karangan imam ibn Ruslan.

Salah seorang dari warga sekitar membaca kitab tersebut, lalu beliau jelaskan dengan santai dan gamblang, pengajian malam itu sudah sampai tentang Bab Nafaqoh (Menafkahi).

Di antara pesan beliau di tengah-tengah pengajian ialah, hendaklah saling memahami antara ayah dan anak perempuannya; istri dan sang suami, mertua dengan menantunya, agar tercipta kerukunan dan keharmonisan dalam berumah tangga.

Selain itu, hendaknya sang suami mempunyai pekerjaan untuk menghidupi keluarga dan tidak duduk santai di rumah sebagai pengangguran. Si suami juga tak segan untuk melaksanakan pekerjaan rumah.

Diceritakan bahwasanya Imam al-Haddad meminta kepada keluarganya agar disisakan sebuah pekerjaan yang beliau langsung akan mengerjakannya.
Pentingnya pendidikan kepada anak juga tak luput disinggung oleh syekh Baudhon.

Sejam lebih telah berlalu, dilanjutkan dengan salat isya berjamaah yang diimami oleh seorang habib bermarga maula Aidid. Selesai salam, pengajian kembali Beliau (syekh Bau'dhon) lanjutkan dengan kitab "Riyadhussalihin" karangan imam Nawawi. Sebelum memulai pengajiannya, terlebih dahulu beliau menyampaikan berbagai nasihat kepada para jamaah. Di antaranya; agar memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Membersihkan hati dari dengki, berburuk sangka dan penyakit hati lainnya.

Maafkanlah orang yang berbuat buruk kepadamu.

Diceritakan bahwa seorang yahudi mempunyai seorang tetangga muslim. Sedang di rumah yahudi tersebut baik siang maupun malam selalu terjadi keributan, berbeda dengan rumah tetangganya keluarga muslim. Yahudi tersebut merasa heran kenapa rumah keluarga muslim tenang, tanpa ada keributan. Lantas ia menanyakan rahasianya.

Sang muslim menjawab, "Di rumah, kami mempraktikkan ajaran islam berupa saling memaafkan. Ketika salah seorang anggota keluarga melakukan kesalahan, maka anggota keluarga lainnya langsung memaafkan kesalahan tanpa menyalahkan satu sama lainnya". Demi mendengar penjelasan sang muslim, orang yahudi tersebut langsung masuk islam.

Beliau juga menyampaikan, "ingat baik-baik, siapa pun yang telah berkata 'Laa ilaha illallah muhammadurrasulullah' maka dia adalah saudara seagamamu".

Jadilah seorang muslim yang Shofi al-Qalb (mempunyai hati yang bersih) tanpa ada iri dan dengki kepada orang lain.

Lalu beliau memulai pengajian haditsnya yang sekarang sudah sampai bab Tawakkal.
Pengajian malam sabtu ini juga didampingi anak beliau yaitu ustadz Abdullah Ba'udhon.

Sekitar jam delapan kurang sepuluh menit, beliau menutup pengajian dengan do'a lalu bersalaman kepada sebagian jamaah yang masih di tempatnya.

Semoga beliau dipanjangkan umur oleh Allah dalam kebaikan dan kesehatan. Aamiin.

========

Terus dukung dan ikuti perkembangan kami lewat akun media sosial Ahgaff Pos di;

Facebook: facebook.com/AhgaffPos
Instagram: instagram.com/ahgaff.pos
Youtube: tiny.cc/YoutubeAhgaffPos
Website: amiahgaff.org
Medium: medium.com/@ahgaffpos95

Post a comment

0 Comments