Ketawa Duarius: Salat Non-Muslim Mazhab Saudi

Oleh : Mohamed Abdurrouff



Anggap saja kita sekarang adalah penduduk Yatsrib, sebelum diganti menjadi Madinah. Ada dua kabilah paling besar, Aus dan Khazraj. Mereka sama-sama keturunan Nabi Ismail, bernasab Arab. Dulu pernah satu rumah, sekarang dalam perang saudara tak berkesudahan.

Setelah Nabi hijrah ke sana, beliau ubah namanya menjadi Madinah dan mempersaudarakan Muhajir dengan Anshar, lebih-lebih kaum Anshar sendiri. Akhirnya mereka bersaudara.

Sekarang, anggap saja kita terbagi menjadi dua: Sunni dan Wahabi. Kita dulu bersaudara. Kakek kita bernama Islam. Kita punya rumah besar, bersama-sama kita membangunnya dan menamainya kalimat tauhid. Dan entah dari mana dan sebab apa dimulai, akhirnya kita sibuk bertikai.

Imajinasikan saja keduanya dalam makrakah imajinasi atau Ghazw al-Fikr alias perang-perangan. Dua pasukan punya kelebihan masing-masing. Sunni punya hujah keilmuan yang kuat, namun lemah di pertahanan semangat dakwah. Sedangkan kubu lawan, unggul dalam semangat dakwah yang luar biasa, namun dangkal di hujah keilmuan.

Imajinasikan lagi, misalkan Nabi dibangkitkan kembali—semoga terjadi—lalu mempersaudarakan kita dengan Wahabi dan mengubah nama kota kita berdua menjadi Madinah Islam. Lalu Wahabi menjadi saudara setia kita, belajar hujah keilmuan yang benar dari sanad kita. Pun sebaliknya, kita belajar semangat dakwah pantang menyerah ala Wahabi, yang tak lapuk dipanas tak lekang dihujan. Di ujung jalan, kita menyebut Wahabi sebagai saudara dunia akhirat.

Tapi kenyataannya Nabi rak pernah dibangkitkan kembali. Jadi, marilah kita sendiri berpura-pura menjadi Nabi. Toh, kita juga mengaku-aku menjadi pewaris Nabi kan? Dan menyambung lidahnya. Jadi, yuk kita bersaudara dengan Wahabi dan belajar dari mereka! Atau, yuk, belajar "JADI" Wahabi untuk memahami. Dan berhenti memaki!
Caranya begini, lewat kejadian di bawah ini.

***

Kejadian ini saya dengar dari guru kami Ustadz Ali Al-Haddad Seiun. Saya simak bersama empat puluhan orang yang hadir dalam Dirasat Fikih Muqaranah, mengecualikan yang ngantuk dan tidur di belakang. Beliau mendengar dari temannya yang menyaksikan sendiri kejadian ini di Jedah. Begini tuturannya.

Jedah adalah kota di Saudi yang sibuk. Saat panggilan salat berkumandang, beberapa masih masyuk dalam hiruk-pikuk, termasuk Mariadi (nama rekaan). Datanglah Pak Gondo al-Wahabi (nama rekaan) dengan “berita gembira”.

Pak Gondo mengajak Mariadi untuk salat di masjid. Mendengar Mariadi menolak, Pak Gondo meradang, “Bagaimana mungkin ajakan ilahi kau tolak. Maka dengan haqqqqqq, aku paksa kau!”

Sekonyong-konyong, Mariadi digamit paksa menuju masjid. Tanpa diperbolehkan berdalil atau berdalih, Mariadi bahkan ditegakkan di tengah-tengah saf oleh Pak Gondo. “Shalli… Salat, cung!”

Dengan menyimpan nggondhuk dalam hati, Mariadi memekikkan suara, “Usholli shalatan su’udiyatan bila niatin wala thaharatin. Aku salat made by Saudi tanpa niat dan thaharah. WUAKHBARRRRRRRRRR!”

Mariadi akhirnya terpaksa salat-salatan di samping Pak Gondo yang khusyuk tikluk-tikluk sambil menginjak-injak kaki tetangga. Imam membaca surat Al-Fatihah. Begitu sampai di, “Walad dlaaaaaallliiiin,” syahdu sang imam.

Tentunya Mariadi tahu arti bacaan imam. Dia kan orang Arab. “Bukan orang-orang terlaknat dan bukan pula orang-orang yang sesat”.
Makmum mengamini, “Aaaamiiiin”.

Terkecuali Mariadi. Dia mengambil jeda. Lalu melantangkan suaranya dia mengamini pakai, “OOOOOOKKKEEEE…”

Setelah dikroscek, ternyata Mariadi belum wudlu, belum niat. Lebih heboh lagi, ternyata dia non-mulim. Pun begitu, tanpa identifikasi tanpa klarifikasi, Gondo memaksanya salat.

Akhirnya saya bertepuk tangan demi mendengar kisah ini!

***

Kita wajib belajar dari Wahabi lalu mencontohnya. Yang betul kita ikut, yang salah kita luruskan. Mereka memiliki mutiara milik kita yang hilang: semangat dakwah yang luar biasa. Memang mereka bersalah dengan aturan yang seperti itu, atau kita menyebutnya tanpa aturan. Labrak langsung, di tempat ini, sekarang juga, saat ini juga. Right here, right now! Tak peduli sikonnya tak sesuai. Tapi mereka sudah bertindak.

Sedangkan kita dalam bungkam saat melihat maksiat. Bahkan dengan dalil kita mengetahuinya. Dengan hujah pula kita lalu membiarkannya. “Biarkan, kalau saya cegah mereka, mafsadah yang lebih besar akan kembali ke saya”.

Yuk, berhenti memaki. Sama-sama berbenah diri. Lalu menyoal, sudah benarkah Islam kita ini?

Posting Komentar

0 Komentar