Kesalehan Tanpa Cinta dan Kasih Sayang, Nihil

Oleh: Gamal Abdul Nasir, mahasiswa tingkat III, Fakultas Syariah wal Qonun. universitas Al Ahgaff.



Penganut agama Islam dituntut untuk menjalankan ajaran agamanya secara kafah, termasuk menyembah Tuhan tanpa menyekutukan-Nya.

Dengan menjalankan syariat agama, rajin membaca Alquran, sering ke tempat ibadah, konsisten dalam sholat, biasanya seseorang sudah dapat digelari "Saleh" oleh orang lain.

Di sekolah-sekolah, kampus-kampus, instansi-instansi, baik swasta atau pun negeri, semuanya berlomba-lomba untuk berfanatik-fanatikan dalam beragama dan dalam menjalankan syariat agama, dalam artian ada penguatan komitmen dalam beragama.

Kita juga bisa lihat betapa masifnya sikap religiuisitas dipertontonkan di khalayak publik. Ketika laki-laki berlomba-lomba memanjangkan jenggotnya, dan perempuan sudah mulai mengenakan hijab syar'i, bahkan banyak yang bercadar. Adanya gerakan sholat berjamaah, gerakan hijrah, akun-akun hijrah, gerakan ngaji bersama, dan lain sebagainya bertebaran di media sosial.

Ini sangat positif dan jadi penanda kebangkitan konsistensi dalam beragama, serta memberikan warna agama yang mencolok di masyarakat umum.

Namun di sisi lain, sangat kita sayangkan, adanya ketimpangan dari sikap konsistensi dalam beragama. Timbulnya tindak kekerasan, tuduh-menuduh, caci maki, sesat menyesatkan, masih lalu-lalang di lingkungan orang yang memiliki sikap komitmen dalam beragama, hanya karena perbedaan pendapat, beda golongan, beda pilihan, beda partai, semua orang berlomba merasa yang paling benar. Kasih sayang, sikap menghargai pendapat orang lain, kepedulian, ditengah masyarakat terlupakan hanya karena perbedaan sepele tadi, padahal unsur kasih sayang tersebut sangat penting adanya di tatanan masyarakat untuk menjamin kehangatan sosial masyarakat tersebut.

Komitmen terhadap agama yang tinggi, kesalehan individual yang mengglobal yang dipertontonkan saat ini belum mampu berjalan lurus dengan kesantunan moralitas di tengah kehidupan masyarakat, euforia semangat beragama belum mampu membangun pranata sosial yang manusiawi dikarenakan keimanan serta kesalehan individual yang diumbar minus unsur cinta serta kasih sayang.

Kesalehan minus cinta adalah kesalehan yang kurang. Sifat bejat manusia tidak mampu diatasi kecuali dengan ditanamkannya unsur cinta dan kasih sayang.

Sementara dalam agama Islam, realisasi dari kesalehan individual adalah terbentuknya kesalehan sosial di mana si muslim mampu memanusiakan manusia dengan spirit cinta atau "Rahmatan Lil Alamin". Mampu berdamai terhadap perbedaan.

Selaras dengan ayat Alquran dalam surat Maryam ayat 96, Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang beramal saleh, kelak Allah yang maha pemurah akan menampakkan di hati mereka rasa kasih sayang".

Walhasil, jika anda orang yang saleh secara individual maka anda wajib menjadi orang saleh secara sosial, kuncinya rasa kasih sayang dan cinta di dalam dada.

=====

Terus dukung dan ikuti perkembangan kami lewat akun media sosial Ahgaff Pos di;

Facebook: facebook.com/AhgaffPos
Telegram: t.me/ahgaffpos
Instagram: instagram.com/ahgaff.pos

Post a comment

0 Comments