Kenduri Cinta Dan Bahasa Ahgaffuna

Oleh: Mohamad Abdurro’uf al-Qudsy (mahasiswa tingkat akhir Universitas Al-Ahgaff)




“Manusia adalah anak lingkungannya,” wejang pepatah Arab. Karakter dan watak manusia didikte tempat dia tinggal. Jika ingin mengenal lebih dekat karakter Al-Ahgaff, ketahui dulu bagaimana lingkungan dia dirintis.

Dr. Muhammad al-Idrus pernah mengisahkan, ketika itu Yaman Selatan dan Utara baru saja bersatu. Aroma pertikaian dalam negeri masih kuat. Fanatisme kelompok bercokol di lapisan sosial paling dasar penduduk Yaman, menjadikan mereka tempurung dalam sekam.

Akidah masyarakat dikuasai komunisme. Pada saat itu gerakan komunisme sangat gencar. Bahkan pernah terselenggara konggres wanita di kota Seiun, tetangga Tarim, yang gaya pakaian mereka sudah sama dengan wanita Barat.

Mereka bahkan mampu mendesak halaqah keilmuan di Tarim untuk tutup, membuat penduduk Tarim harus sembunyi-sembunyi ketika belajar agama. Habib Salim Syathiri pernah mendapat cedera kaki serius akibat tabrak mobil yang diprakarsau oleh oknum komunis. Jam pelajaran agama di sekolah-sekolah dijadikan mapel terakhir, ditaruh hari Kamis jam akhir. Sekali sepekan dan belajar dengan kelelahan.

Dan pada tahun 90-an, masa-masa berdirinya Ahgaff, gerakan komunis mulai mereda. Namun paham wahabisme berhasil menggantikan komunisme. Sebagai negara yang bertetanggaan dengan pusat wahabi, Yaman benar-benar memikul dampak yang sangat besar atas gerakan ini. Penduduk Yaman diancam dengan “kufur” dan neraka, yang seolah-olah lebih mengerikan dari milik Allah.

Dari pertikaian Selatan-Utara, komunisme dan wahabisme, lahirlah Ahgaff. Dan pada akhirnya membawa peran vital bagi kokohnya agama di Yaman, khususnya Hadhramaut. Masyarakat sangat butuh akan sebuah manhaj yang mempunyai karakter keilmuan yang kokoh dan menampilkan sikap moderat. “Kala itu, misalkan tidak ada Habib Abdullah Mahfudz Al-Haddad (pendiri Ahgaff) yang menjadi mufthi, Hadhramaut tidak akan seperti ini,” tutur Ustadz Hamid As-Seggaf, salah seorang tangan kanan Habib Abdullah Mahfudz, saat berkisah di Haul Muassis Ahgaff (28/2).

Setelah semua intrik itu, Ahgaff melihat bahwa solusi paling tepat untuk menyatukan umat adalah dengan cinta. Ini bukan sekadar teori hitam di atas putih. Tapi benar-benar dimasukkan ke dalam mata kuliah. Seperti dirasat (studi) perbandingan fikih, perbandingan ushul dan studi firaq wa tayyarat. Siswa yang tidak menguasainya tidak akan lulus.

Lewat semua matkul ini, siswa menjadi paham akan pendapat dan argumen setiap imam mazhab, lengkap beserta kaedah fikih serta ushulnya, plus munaqasyahnya. Mereka tidak mudah, lebih tepatnya tidak bisa, untuk menyalahkan pendapat orang lain seenaknya. Ada aturannya. Pun misalkan jika terbukti kesalahan pendapat orang, tidak serta merta langsung hajar, righ here, right now. No!

Jika kemampuan untuk memahami pendapat orang lain sudah mengarakter dalam setiap diri siswa, menerima orang lain adalah keniscayaan dalam perbedaan. Kami lebih mudah untuk mencintai sesama saudara muslim. Menghina bukanlah sebuah “kemungkinan benar” bagi kami. Hinaan adalah salah, dari ujung ke ujung.

Sekali lagi, ini bukan teori. Tapi dia ada, bisa dirasa. Salah satu buktinya adalah acara Haul Muassis Ahgaff. Semua organisasi kemahasiswaan ikut ambil bagian. Dan empat organisasi besar, AMI Ahgaff, PPI Hadhramaut, PCINU Yaman dan FMI Yaman saling bahu-membahu menyukseskan.

Empat organisasi ini punya afiliasi masing-masing, dengan perbedaan asas pula. AMI berafiliasi ke Universitas, PPI ke pemerintah Indonesia, NU Yaman ke PBNU, dan FMI Yaman ke FPI.

Kita tahu sendiri bagaimana ributnya antara NU-FPI, atau dibuat ribut, belum lagi ditambah hingar-bingar Pilpres. Namun organisasi ini sama sekali tidak pernah saling bertikai di Yaman.

Bahkan, yang ada adalah sebaliknya. Mereka bekerjasama, mengesampinkan segala beda yang ada. Contohnya adalah acara Haul Muassis. Misal lain, FMI mengadakan diklat kepenulisan, mereka  mengirim undangan kepada saya, yang waktu itu menjadi Koordinator LTN NU Yaman, untuk mengisi diklat. Pun sebaliknya, saat NU Yaman mensponsori acara maulid, pemimpin maulidnya dari FMI. Acara istighatsahan dan doa bersama, mereka juga ikut bekerjasama.

Ini semua adalah hasil dari cinta sesama muslim yang ditanamkan dalam setiap insan Ahgaffy. Tidak ada waktu untuk mengurusi perbedaan remeh-temeh. Pun tak ada perlunya. Dan rektor kami saat ini, Profesor Habib Abdullah Baharun, dalam setiap kuliah dan kesempatan selalu menasihati untuk selalu berprasangka baik dan cinta kepada saudara muslim. “Tarekat kita adalah cinta.”

Atau bahkan, cinta adalah bahasa resmi Al-Ahgaff. Bahasa yang menjadi lambang bunyi, yang tak bisa mengkhianati arti.

=====

Terus dukung dan ikuti perkembangan kami lewat akun media sosial Ahgaff Pos di;

Facebook: facebook.com/AhgaffPos
Telegram: t.me/ahgaffpos
Instagram: instagram.com/ahgaff.pos

Post a comment

0 Comments