Kajian Ramadhan : Menyelematkan Derajat Masyarakat, Menguatkan Relasi dengan Nabi

Oleh: Sayyid Mustofa Al-Muhdhor (Mahasiswa Tingkat Akhir, Fakultas Syaria'h wal Qanun, Universitas Al-Ahgaff)




Guru kita yang mulia, Al-Habib Abdullah Baharun, sore ini secara lebih intensif membahas kembali sambungan topik yang lalu. Namun kali ini pendalaman topik terarah pada permasalahan dan problematika yang membuat ruh masyarakat rubuh, yang pada akhirnya memicu kemelut kerusakan yang global.


Kita semua tentu telah banyak melihat realita bahwa anak-anak yatim pada saat ini sering dilalaikan dan bahkan banyak yang diisolasi dari akses pendidikan. Semua itu disebabkan karena kurangnya pelajaran moral kepada per-individu masyarakat secara amaliyah (implementatif) dan riil. Sehingga akal sehat yang mereka punya pun terdistorsi dengan sifat acuh tak acuh yang kian mencuat karena arahan hawa nafsu mereka. Jelas semua ini akan menimbulkan rasa trauma psikis yang mendalam untuk si anak yatim tadi di masa mendatangnya. Mentalnya yang telah rusak membuatnya tidak bisa berinteraksi di medan kehidupan yang keras dengan ketidakseimbangan pikirannya. Titik inilah yang di kemudian hari menyebabkan warna masyarakat menjadi buram dan gelap. Tidak ada harapan.


Hal yang dapat kita tarik dari simpulan situasi di atas adalah bahwa sekarang ini banyak orang dewasa yang belum bisa memosisikan dirinya sebagai orang yang telah dibebankan tanggung jawab sebagai pengasuh dan orang tua bagi pihak-pihak yang semestinya berada di bawah naungannya. Hal ini pun menjalar ke problematika cara mereka mendidik anak-anak mereka sendiri. Keabsurdan pertanggungjawaban mereka terhadap tugas-tugas mereka juga merebak pada situasi yang lebih khusus.


Kekurangpahaman mereka terhadap fungsi rumah dan keluarga sebagai tempat yang menjadi sarana pemenuhan keamanan dan ketentraman telah mengubah citra rumah sebagai tempat menakutkan dan tempat yang tidak aman bagi anak-anak. Inilah peetimbangan yang banyak dirasakan oleh para anak laki dan perempuan. Sebab orangtua mereka tidak tahu bagaimana cara mengasuh dan mendidik anak mereka secara tepat. Para orangtua begitu sibuk untuk urusan luar dan duniawi lainnya, mereka lalai dari kewajiban mendidik moral serta akhlak anak-anaknya. Anak-anakpun tidak mendapat tempat mencurahkan berbagai perasaan, malah terkadang mereka takut untuk menceritakan masalah yang mereka punya karena takut akan mendapat amarah atau cacian. Oleh sebab itulah banyak dari mereka yang mencari telinga dan pundak lain untuk bersandar dan menumpahkan keluh kesah mereka. Padahal mereka—para anak—terjatuh pada tempat yang salah dan justru merusak; yang bisa merubah fitrah suci yang mereka miliki dan menjadikan jati diri mereka terbiaskan dan berantakan. Seakan  mental mereka dibunuh sedikit demi sedikit oleh orang-orang terdekat mereka, sampai tidak ada sedikitpun fitrah suci yang tersisa dalam diri mereka.


Bahkan perlu diketahui, bahwa bukan hanya orang tua yang bertanggung jawab atas kerusakan itu semua, akan tetapi para sanak saudara dan kerabat terdekatnya juga turut andil dalam kerusakan tersebut. Mereka juga mengemban amanah untuk menjaga anak-anak agar terpelihara fitrah sucinya sebagai seorang hamba yang taat. Maka, masih pantaskah kita bersikap masa bodoh atas suatu kehancuran yang sejatinya adalah tanggung jawab kita sebagai orangtua, saudara, ataupun kerabat terdekat?


Inilah kebobrokan masyarakat yang terbangun dari dalam rumah mereka sendiri. Minimnya perhatian dan pengayoman telah menjerumuskan bibit-bibit punggawa penerus bangsa menuju kehancuran. Kelas itu semua akan mendapatkan balasan yang sangat pedih untuk para pelakunya. Tidak ada di dunia ini yang akan luput dari catatan amal; entah itu baik ataupun buruk. Semua mempunyai kadar balasan yang hanya Allah yang mengetahuinya.


Di sesi akhir majlis sore ini, beliau memberikan solusi untuk semua hal tersebut. Beliau menjelaskan bahwa mendidik anak adalah kewajiban utama orangtua sebelum kerabat dekat lainnya. Dan dalam masalah mendidik juga diperlukan kesabaran, rasa ikhlas dan yang terpenting adalah ketelatenan. Pendidikan bukan sekadar memerintah dan melarang. Di setiap langkah tersebut sangatlah dibutuhkan "skill" dan hikmah yang sangat besar dan luas. Untuk mendapatkan dan menjadi pendidik seperti itu haruslah ada irtibat (hubungan) erat dengan Nabi besar Muhammad SAW, karena beliaulah satu-satunya manusia yang dijadikan Allah SWT sebagai sumber pendidikan dan solusi untuk semua masalah di sepanjang zaman dan waktu. Beliaulah sumber hikmah dan solusi semua problem.


Oleh karena itu, marilah kita kuatkan lagi ikatan lahir maupun batin dengan Nabi Muhammad SAW. Mari kita koreksi kembali bagaimana hubungan kita dengan beliau, seberapa erat hubungan itu telah kita jalin dengan mengaplikasikan pelajarannya ke dalam kehidupan kita. Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang mampu menjadi pemimpin dan pendidik yang baik dalam segala bidang yang kita jalani.


Semoga semua amal yang kita lakukan dapat menjadikan kita lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mudah-mudahan kita diberikan kekuatan untuk selalu dapat memohon kepada-Nya agar disambungkan dan dieratkan tali hubungan dengan kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW.


اللهم بارك لنا في أولادنا ولا تضرهم. و وفقنا و وفقهم لطاعتك وارزقنا برهم. واجعلنا و إياهم من عبادك الصالحين.


=====


Terus dukung dan ikuti perkembangan kami lewat akun media sosial Ahgaff Pos di;


Facebook: facebook.com/AhgaffPos

Telegram: t.me/ahgaffpos

Instagram: instagram.com/ahgaff.pos

Post a comment

0 Comments