Fiqih Wasail dan Cara Berpikir Kritis Menyikapi Problematika Kontemporer

Oleh: Mas Agus Azro



Prolog

Islam adalah agama yang komprehensif dan universal. Ajarannya lengkap dan komplit. Tak ada satu pun problem dalam kehidupan manusia kecuali di situ ada Syariat Islam yang menjelaskan hukumnya. Islam juga agama yang selalu relevan untuk setiap situasi dan kondisi,di mana pun, dan kapan pun, lintas tempat dan juga zaman. Syariat Islam datang dengan perintah-perintah yang wajib ditaati, demi kemaslahatan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi. Juga larangan-larangan pada hal yang harus dijauhi, yang di dalamnya pasti ada hal-hal buruk yang merugikan kehidupannya.
Dalam penerapan hukum-hukumnya, Syariat Islam mempunyai nilai-nilai yang menjadi tujuan utama, yang pasti mengandung hikmah kemaslahatan manusia, baik secara eksplisit maupun implisit, tersurat maupun tersirat. Setiap nilai yang menjadi tujuan Syariat -yang juga disebut Maqasid Syariah- tentu melalui suatu jalan atau proses perantara -yang disebut Wasail- untuk mewujudkannya. Jadi, di mana dibahas tema Maqasid, maka di situ Fiqih Wasail sering kali dikaji.
Fiqih Wasail adalah seperempat dari Fiqih Islam Taklifi. Sebab, taklif dalam ajaran Islam itu adakalanya berupa perintah yang perlu dilaksanakan, beserta perantara-perantara (wasilah) untuk mewujudkannya, adakalanya berupa larangan, termasuk sebab-sebab yang mengarahkan pada hal terlarang tersebut (dzari’ah). Maka, kajian tentang Fiqih Wasail adalah kajian dari seperempat Fiqih Islami yang bersifat taklifi.
Dalam makalah sederhana ini, Penulis akan bahas secara singkat tentang Fiqih Wasail dari segi pembagian macamnya dan kaedah-kaedah fiqih yang berhubungan dengannya. Akan tampak pula hubungan erat antara Ilmu Maqasid Syariah dan Fiqih Wasail, yang merupakan dua komponen fan ilmu yang hubungannya tidak jauh seperti hukum kausalitas, yakni hubungan antara sebab dan akibat.
Salah satu manfaat memahami dan mengaplikasikan kaedah-kaedah Fiqih Wasail ini adalah kita mampu berfikir kritis dengan pandangan yang lebih jauh ke depan menghadapi setiap problematika dalam kehidupan sehari-hari. Baik itu hal-hal sepeleh, maupun problematika yang penting. Baik seputar amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), fiqih kontemporernya, maupun pemikiran-pemikiran modern yang dihadapinya.
Di makalah ini akan dibahas pula Sunnah Mawaqif (satu bab dalam ilmu Fiqih Tahawwulat) yang tak jauh dari pembahasan Fiqih Wasail. Disertai contoh-contoh sederhana yang diharap mampu mewakili gambaran secara global tentang tema yang terkait. Lebih detailnya insyaallah akan didiskusikan bersama di acara Forum Diskusi hari Jumat, 15 Maret 2019.

Pembagian Macam Wasail
Wasilah (bentuk tunggal dari kata Wasail, yang berarti jalan atau perantara) memiliki banyak pembagian jika dipandang dari sisi yang berbeda. Dalam skripsinya, Penulis menyebutkan setidaknya ada enam pembagian macam wasail. Namun, di makalah singkat ini, Penulis akan sebutkan tiga pembagian saja yang dinilai punya pengaruh dalam tema terkait. Jadi, macam-macam Wasail jika dipandang dari beberapa sudut pandang terbagi menjadi berikut:
Sisi jalan menuju maslahah dan mafsadah
Wasilah jaizah (diperbolehkan) adalah 1- wasilah yang memang boleh dan mengarahkan pada maslahah, 2- wasilah terlarang namun mengarahkan pada maslahat yang dominan/rajihah.
Wasilah mamnu’ah (terlarang) adalah 1- wasilah yang memang dilarang 2- wasilah yang semula boleh, namun mengarahkan pada mafsadah.
Sisi besar kemungkinan mewujudkan tujuan
Wasilah yang dipastikan (qath’an) bisa mewujudkan maqsad.
Wasilah yang kemungkinan besar (ghaliban) mewujudkan maqsad.
Wasilah yang sering kali (katsiron) mewujudkan maqsad.
Wasilah yang langka (nadiron) mewujudkan maqsad.
Wasilah qathiah (dipastikan) dan ghalibah (kemungkinan besar) mempunyai hukum yang sama dengan maqsadnya tanpa khilaf. Wasilah katsirah (sering kali) hukumnya sama dengan maqsadnya, dengan khilaf ulama ketika wasilah tersebut tidak disertai niat. Sedangkan wasilah nadirah tidak bisa diberi hukum seperti maqsadnya. ()
Sisi berubah dan tetapnya
Wasilah tsabitah adalah jalan menuju maqsad yang tsabit/tetap, tak kan berubah kapan pun dan di mana pun. Seperti wudhu untuk salat.
Wasilah mutaghayyirah adalah jalan menuju maqsad yang bisa berubah dalam kondisi tertentu. Seperti peralatan militer dan taktik perang dalam masalah jihad.



Kaedah-kaedah Fiqih Wasail


للوسائل حكم المقاصد
Wasilah mempunyai hukum yang sama dengan maqsad-nya


تسقط الوسائل بسقوط المقاصد
Wasilah gugur sebab gugurnya maqsad


رتب الوسائل تختلف باختلاف رتب مقاصدها
Tingkatan wasilah tergantung berdasarkan tingkatan maqsad-nya


وسيلة المحرم قد تكون غير محرمة إذا أفضت إلى مصلحة راجحة
Wasilah yang semula haram, kadang diperbolehkan jika mengarahkan pada maslahat yang dominan


الوسيلة إذا لم تفض إلى المقصود سقط اعتبارها
Wasilah jika tak bisa mewujudkan maqsad-nya maka gugur esistensinya


الوسائل أخفض رتبة من المقاصد
Wasilah lebih rendah tingkatannya dibanding maqsad


يغتفر في الوسائل ما لايغتفر في المقاصد
Dalam wasilah ada dispensasi yang tak didapatkan dalam maqsad


المقاصد لا تبرر الوسائل
Maqsad tidak bisa melegitimasi seluruh wasilahnya


تعارض الوسائل والمقاصد : مراعاة المقاصد مقدمة على رعاية الوسائل
Kontradiksi antar wasilah dan maqsad : maqsad dikedepankan dari wasilah


المقصد إذا كان له وسيلتان فأكثر لا تتعين إحداهما عينا ، بل يخير بينهما وأما إذا اتحدت الوسيلة فتتعين
Suatu tujuan jika punya dua jalan atau lebih, maka tidak tertentu pada salah satunya. Dan  bisa dipilih di antaranya. Jika wasilah tersebut adalah satu-satunya jalan, maka jelas menjadi barang tentu.


Sunnah Mawaqif

Sunnah Mawaqif adalah cabang dari ilmu Fiqih Tahawwulat (Ilmu Transformasi) temuan Dr. Habib Abubakar bin Ali Al-Masyhur yang dibahas secara detail dalam buku-buku karyanya. Secara garis besar, Sunnah Mawaqif adalah esensi dari sikap bagaimana cara menghadapi setiap problematika, sejalan dengan sikap-sikap yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para khulafaur rasyidin. Sikap ini tentunya dengan menimbang banyak faktor tertentu yang dapat mengarahkan pada kemaslahatan serta kebaikan. Dengan prinsip menjaga tangan dari tumpahan darah (hifdzul yad minad dam), menjaga mulut dari cacian (hifdzul lisan minad dzamm) dan menjaga hati dari kegelisahan (hifzul qalb minal hamm). ()

Salah satu contoh yang diberikan Habib Abubakar untuk sunnah mawaqif dalam bukunya yang berjudul Nubdzah Shughroh ini adalah sikap-sikap Rasulullah dalam bermuamalah bersama orang-orang munafiq yang hidup berdampingan di sekitar sahabat-sahabatnya. Meskipun para munafiq tersebut telah dinash Alquran akan kekufurannya, dan Rasulullah pun tentu mengetahuinya, namun beliau tetap menjaga hubungan baik dan wajar dalam beriteraksi dengan mereka.

Ada contoh lain pada sunnah mawaqif . Dalam suatu riwayat, Ibnu Abbas pernah didatangi seseorang yang meminta fatwa. Ia bertanya “apakah pembunuh mendapat taubat (ampunan, pen)?” , Ibnu Abbas menjawab: “iya”. Kemudian datang orang lain meminta fatwa dengan pertanyaan yang sama. “Apakah pembunuh seorang mukmin bisa taubat?”. Dengan tegas Ibnu Abbas menjawab, “tidak, kecuali siksaan neraka”. Orang-orang sekitarnya heran, dan bertanya, “mengapa pertanyaan yang sama tapi jawaban Anda bisa berbeda?”. Beliau jawab, orang pertama tadi telah membunuh orang, ia menyesali dan ingin bertaubat. Sedangkan orang kedua justru hendak melakukan pembunuhan”. ()

Itulah cara bersikap (sunnah mawaqif) yang dengan cerdas telah dicontohkan oleh Ibnu Abbas. Beliau tahu betul bagaimana hukum taubat dari maksiat. Semua manusia berhak untuk taubat, dan Allah pun Maha Pengampun. Namun cara pikir Ibnu Abbas tidak berhenti hanya pada hukum aslinya saja, tapi juga menimbang konsekuensi dari fatwa yang akan ia keluarkan. Dari sini tampaklah hubungan erat antara Sunnah Mawaqif (dalam ilmu Fiqih Tahawwulat) dengan pembahasan Fiqih Wasail, yang keduanya sama-sama lebih fokus menimbang sisi dampak dan imbas dari suatu masalah.


Cara Berpikir Menggunakan Fiqih Wasail
    Pembagian dan kaedah-kaedah seputar Fiqih Wasail di atas (juga Sunnah Mawaqif), meskipun tampak sederhana dan sering kita jumpai di kitab-kitab fiqih, namun, jika betul-betul selalu kita aplikasikan dan telah mendarah-daging di nalar kita, maka cara berpikir otomatis akan berkembang dan berubah menjadi lebih elegan. Terlebih dalam menyikapi problematika kontemporer yang sama sekali baru dan tak pernah terjadi pada era sebelumnya. Semisal dalam memahami hal-hal bid’ah dengan bermacam pembagiannya. Hasanah atau sayyiah. Wajibah, mandubah, mubahah, makruhah atau muharramah.
Fiqih Wasail mengajarkan bahwa cara berpikir kritis tidak hanya cukup pada permukaan masalah saja, melainkan perlu dianalisa lagi hingga jelas substansi yang ada di dalamnya. Tidak pula hanya menyatakan hukum suatu problematika saja, namun perlu juga mempertimbangkan efek, dampak dan konsekuensinya. Oleh karena itu, seorang faqih ketika berijtihad, di samping ia harus berusaha semaksimal mungkin untuk memahami esensi hukum yang akan ia tetapkan, hendaknya ia juga memprediksikan akibat dan dampak dari fatwa yang ia keluarkan.
     Seorang faqih tak boleh beranggapan bahwa tugasnya hanyalah menetapkan suatu hukum saja. Namun, ia juga harus menyadari kewajibannya untuk mempertimbangkan lebih dalam lagi pada konsekuensi (I’tibar maalat) dan probabilitas (peluang/kemungkinan) yang bisa terjadi akibat fatwanya. Bahwa, suatu hal yang sebetulnya tak bermasalah dan diperbolehkan, jika hal itu bisa menjadi pijakan (wasilah) menuju hal-hal negatif, maka seyogyanya dipikirkan ulang kembali, salah satu caranya adalah dengan menimbang teori wasilah dan mengaplikasikan kaedah-kaedahnya.

Contoh Penerapan Cara Berpikir Fiqih Wasail

Amaliyah Aswaja: Hukum maulid Nabi Saw. Acara maulid tak pernah terjadi di zaman Rasulullah Saw. Maka perlu dianalisa dahulu hukum aslinya, apa yang ada di dalamnya, baik hal-hal positif maupun hal negatif jika ada. Maulid ini –dalam kacamata Fiqih Wasail- bisa dikatakan sebagai wasilah yang mengarah pada banyak tujuan, salah satunya agar umat Islam lebih mengenal lebih dalam siapa Nabinya, hingga bertambah cinta dan kerinduan padanya, juga bertambah catatan selawat pada Nabinya. Maka, kaedah Fiqih wasail berkata: Lil wasail hukmul maqasid.

Fiqih Kontemporer: adzan memakai suara rekaman seperti kaset atau radio, agar berkumandang secara serentak di seluruh masjid di satu kota. Hal itu –jika dipandang dari Fiqih Wasail- bisa menjadi pijakan/jalan yang mengarah pada jatuhnya kewibawaan dan kehormatan adzan di hati umat Islam, dan  suatu saat bisa juga berakibat ditinggalkannya syariat adzan dan hanya mengandalkan rekaman. Maka, dengan menimbang poin tersebut, adzan memakai suara rekaman seyogyanya difatwakan akan larangannya.

Pemikiran Kontemporer : munculnya istilah Islam Nusantara. Dalam satu versi, memang arti Islam Nusantara bisa dibenarkan dalam hukum Islam. Tapi jika IN ini ada kemungkinan menjadi wasilah atau dijadikan oleh orang tak bertanggung jawab sebagai pijakan awal ke arah faham-faham menyimpang meraka (faham di luar Aswaja), maka seyogyanya tema IN lebih baik tidak diangkat di permukaan publik.

Begitu pula istilah nonmuslim sebagai ganti kafir yang baru-baru ini ramai dibicarakan. Dalam satu versi, memang hal itu bisa dibenarkan dan banyak dalil pendukungnya. Namun, tak elok jika seorang faqih hanya memandang sisi hukumnya saja, tanpa mempertimbangkan dampak imbas dari istilah ini akibat digodok dan diangkatnya tema tersebut ke ranah publik.

Kebiasaan Sehari-hari : seperti makan, minum, olahraga, ataupun tidur. Jika hal itu diniati sebagai wasilah agar kuat dan berstamina dalam beribadah dan mencari ilmu misalnya, maka, makan enak, olahraga seru, bahkan tidur nyenyak pun hukumnya sama berpahala dengan tujuannya. Contoh lainnya seperti membaca buku atau novel, jika diniatkan untuk menambah wawasan dan memperkaya kosakata, yang dengannya bisa menajamkan kemampuan menulis untuk ladang dakwah, maka setiap huruf yang dibaca akan menjadi wasilah berpahala seperti maqsadnya. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda : Innamal a’malu bin niyyat, wa innama li kulli imriin ma nawa, juga kaedah Fiqih wasail : lil wasail hukmul maqasid.

Epilog

Pembahasan seputar Fiqih Wasail sebetulnya cukup luas, terlebih jika dikaitkan dengan Ilmu Maqasid Syariah. Sementara makalah yang Anda baca ini amatlah singkat. Contoh-contoh penerapannya pun hanya sebatas satu-dua kaedah yang dipakai, tidak menyeluruh pada semua kaedah yang disebutkan di atas. Tapi memang, makalah ini sengaja kami susun dengan tulisan yang sederhana dan tidak begitu panjang. Dengan harapan agar tulisan ini menjadi pijakan awal para santri untuk memperdalam lagi wawasan Fiqih Wasail yang banyak ditemukan di sela-sela kitab seputar Maqasid Syariah.
Makalah ini ditulis sebagai penunjang pada acara diskusi yang akan diadakan pada hari Jumat 15 Maret 2019. Pembahasan terkait tema ini mungkin akan lebih detail lagi saat dipaparkan pada acara tersebut, dan diharapkan akan lebih dalam dan luas lagi melalui diskusi di tengah forum. Makalah ini tentu jauh dari kata sempurna, boleh jadi banyak kekurangan dan kekeliruan, baik dari segi isi kandungan, paham yang dirasa kurang tepat, ataupun dari segi bahasa penyampaian. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat kami nantikan untuk mengoreksi dan membenahi kekurangan tersebut. Wallahu A’lam wa Ahkam.

Post a comment

0 Comments