Beragama dengan Akal(?)

Oleh : Maulana Faiq (Mahasiswa tingkat IV, Fakultas Syariah wal Qonun, Universitas Al Ahgaff)



Salah satu sebab munculnya pergerakan liberalistis dalam tubuh Islam adalah reaksi dari ketidakpuasan akal terhadap ajaran-ajaran Islam yang sesuai dengan "manhaj salaf". Maka bagaimana cara menjawab ketidakpuasan akal ini? Karena walau memang semua syariat Islam mempunyai "maqashid" (tujuan-tujuan bersyariat) dalam setiap ajarannya, tetapi daya pikir yang terlalu bebas tetap tak akan puas dan mudah menerima. Semisal dengan dihalalkannya poligami atau bahkan yang lebih mendasar, seperti diwajibkannya memakai hijab bagi kaum wanita. Pikiran mereka para liberalis sangat skeptis terhadap syariat-syariat Islam.

Pertama, yang perlu kita pahami adalah posisi dan porsi akal dalam beragama Islam. Kita tahu sebagian besar syariat Islam sangat masuk akal dan mempunyai hikmah yang jelas. Tetapi bukan berarti setiap bagian ajaran syariat harus kita pertimbangkan dengan akal dahulu lalu dipilah-pilah seenaknya. Jika masuk di akal, dikerjakan, jika tidak, ditinggalkan. Tentu bukan seperti ini ketika menjalani agama. Ada peran "tasdiq" (pembenaran) dan "taslim" (pasrah) terhadap segala peraturan Allah yang dirangkum dalam syariat-Nya.

Prof. Abdullah Baharun mempunyai analogi bagus tentang taslim tersebut. Beliau mengatakan taslim adalah manhaj-nya orang-orang berakal. Buktinya, jika salah seorang di antaramu memesan hidangan di restoran, lalu ketika hidangan datang kepadanya, akankah ia menanyakan, "Apakah makanan ini tidak ada racun?". Hampir semua pembeli tidak menanyakannnya, dalam hal ini si pembeli sedang taslim kepada koki restoran, walaupun tak ada yang menjamin bahwa makanan yang akan ia makan 100% aman. Karena ia percaya dengan profesionalitas dan kejujuran sang koki.

Cara hidup dengan taslim sudah terbiasa kita lakukan dalam keseharian kita. Kita tak pernah menanyakan kemampuan pilot saat akan menaiki pesawatnya, kita tak pernah menanyakan ijazah pendidikan terakhir dokter saat berobat kepadanya. Lalu bagaimana kepada Allah? Tuhan Yang Maha Tahu. Akankah jika sedang menjalankan syariat-Nya kita akan menanyakan, "Apakah ajaran ini sesuai dengan kemaslahatan manusia?". Dalam hal ini kita harus percaya dengan ke-profesionalitas-an Tuhan dalam memberi kewajiban dan larangan. Akal bukanlah landasan utama, tetapi hati yang pasrah (taslim) kepada syariat Allah.

Lalu dimana peran akal dalam beragama Islam? Apakah kita seperti kerbau yang dicucuk hidungnya? Sekedar menerima dogma tanpa berpikir? Tidak begitu! Islam justru menempatkan akal sebagai pondasi awal untuk ber-tasdiq (membenarkan adanya Allah).

Orang yang sedang mencari kebenaran dipersilakan menggunakan akal untuk beriman kepada Allah. Bahkan pada bab akhir dalam kitab "Ghoyatul Whusul", Syaikhul Islam menjelaskan bahwa kita wajib mempunyai "nazhor" (argumen) dalam hal "Ushuluddiin", seperti keberadaan Sang Pencipta Alam, kekalnya Allah, sifat hadits pada alam semesta, dsb. Allah memberi kita akal untuk menemukan-Nya seperti yang terjadi pada kisah masyhur Nabi Ibrahim.

Dan nazhor yang diwajibkan di atas bukanlah nazhor yang rumit dan "njlimet". Harun Yahya dalam bukunya "Allah Is Known Through Reason", mengatakan bahwa tubuh manusia menyediakan begitu banyak bukti tentang adanya Sang Pencipta yang mungkin tidak terdapat pada ensiklopedia yang berjilid-jilid. Bahkan dengan berpikir beberapa menit saja mengenainya, itu sudah memadai untuk memahami keberadaan Allah.

Dan jika hal ini dikaji lebih mendalam, molekul-molekul anorganik yang membentuk asam-asam amino, kemudian asam-asam amino membentuk protein-protein, dan akhirnya protein-protein membentuk makhluk hidup, semua itu mustahil terjadi secara kebetulan, pasti ada penciptanya. Kemungkinan pembentukan makhluk hidup secara kebetulan ini lebih kecil daripada kemungkinan pembentukan Menara Eiffel yang secara kebetulan.

Coba kita pikirkan, bagaimana mungkin besi mentah dan batu bara bersama-sama membentuk baja secara kebetulan, yang kemudian membentuk Menara Eiffel secara kebetulan juga. Ini tentu tidak masuk akal, lalu bagaimama dengan sel manusia yang bahkan lebih rumit daripada segala struktur buatan manusia di dunia ini. Pada akhirnya akal kita akan men-tasdiq adanya Sang Pencipta.

Berpikir mengenai ciptaan Allah seperti di atas adalah kecenderungan orang yang berakal sebagaimana yang dimaksud dalam salah satu ayat Al Quran

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi." (QS: Ali `Imran : 190 -191)

Setelah selesai melakukan proses pencarian Tuhan dan sepakat bahwa alam semesta ini butuh Sang Pencipta, maka silakan para liberalis yang berpaham bahwa semua agama adalah sama. Bahkan para orientalis, juga orang-orang non muslim yang ingin mencari kebenaran, silakan menggunakan akalnya untuk membandingkan konsep ketuhanan masing-masing agama dan memilih. Lalu jika kesimpulan akal akhirnya sampai kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, barulah dogma diterapkan disini.

Posisi kita sebagai hamba adalah beragama dengan hati yang damai dan tenang dengan bekal iman yang diperoleh melalui akal. Bukan dengan keragu-raguan dan selalu mempertanyakan setiap cabang ajaran-Nya. Karena jika demikian, maka akan terjebak kembali kepada premis awal, yakni ketika menggunakan akal kita untuk menemukan Tuhan. Padahal tadi akal sudah sampai kepada kesimpulan bahwa Allah lah Tuhan kita, itulah konklusinya.

Maka sebagaimana layaknya Tuhan, raja di atas raja, kita harus menempatkan-Nya pada posisi paling atas dan percaya penuh, melebihi sebagaimana rasa percaya kita kepada koki restoran, pilot dan dokter. Karena kalau toh hati sudah taslim, nanti akal kita akan kembali diperbolehkan untuk mencari hikmah di balik sebuah hukum. Karena  hampir semua syariat Islam mempunyai hikmah dan manfaat yang besar bagi kita.

Begitulah Islam menempatkan akal dalam beragama, ia adalah pondasi. Maka jangan dibalik dengan beriman secara taqlid, lalu saat menjalani ajaran agamanya ia lalui dengan penuh skeptis dan kritis. Ini bagaikan membangun pondasi ala kadarnya lalu menumpuk bangunan yang bertingkat-tingkat di atasnya, maka bangunannya akan menjadi tidak kokoh dan rawan roboh. Ketika bangunan itu sudah roboh, maka anggap saja contohnya seperti liberalis yang mengatakan, "Semua agama adalah benar".

Perhatikanlah, kalimat yang ia ucapkan itu adalah pondasinya dalam beragama yang tidak dilalui dengan akal sehat. Lalu sikap liberalisme dalam menafsirkan setiap kewajiban maupun larangan sesuai hawa nafsunya adalah bangunan yang sudah roboh berantakan. Waallhua'alam.

====

Terus dukung dan ikuti perkembangan kami lewat akun media sosial Ahgaff Pos di;

Facebook: facebook.com/AhgaffPos
Telegram: t.me/ahgaffpos
Instagram: instagram.com/ahgaff.pos

Post a comment

0 Comments