Apa Urusanku Dengan Semua Ini ?

Oleh: Hasan Muhammad Ba'bud (Mahasiswa Tingkat Lima, Fakultas Syariah wal Qanun, Univ. al-Ahgaff)




Di zaman sekarang ini, siapa saja yang melihat keadaan umat muslimin di penjuru dunia, maka ia akan dapati suatu keadaan yang sangat menyayat hati, mulai dari kemerosotan moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, kelemahan yang hampir menyeluruh di setiap sektor kehidupan, serta kerusakan-kerusakan lain yang terjadi di dalamnya. Padahal islam adalah agama yang dijanjikan oleh Allah subhanahuwata'ala dengan kemenangan dari-Nya.

Mungkin salah satu penyebab dari itu semua adalah kurangnya kepedulian di antara kita sesama kaum muslimin. Kita tidak mau bahu-membahu dalam mengemban misi islam yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw. Kita semua hanya memikirkan kepentingan pribadi masing-masing. Namun, secepatnya semua ini harus segera kita benahi bersama-sama.

Tidak diragukan lagi bahwa baik-buruknya suatu negeri itu tergantung bagaimana sebuah keluarga yang terbina di dalamnya. Dan baik-buruknya sebuah keluarga tergantung anggota keluarga tersebut. Maka ketika anggota keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, anak, sampai dengan cucu. Jika salah satu dari mereka rusak, maka akan timbul kerusakan-kerusakan yang menjalar dan menggrogoti seluruh anggota keluarganya yang lain.

Apabila telah rusak dan hancur sebuah keluarga, maka akan hancur pula negeri yang terdiri dari keluarga-keluarga yang hancur tersebut, begitu seterusnya sampai kerusakan yang ada menjangkiti ke seluruh penjuru negeri islam, seakan-akan kaum muslimin sekarang ini seperti pasukan perang yang lemah dan hilang arah tanpa adanya kepemimpinan.

Persatuan umat muslim yang sedang hancur saat ini, tidak akan dapat membuahkan kemenangan di dalam setiap sepak terjangnya, bahkan—naudzubillah—ia akan menjadi penyebab keruntuhan yang tak akan bisa bangkit kembali kecuali dengan berkat anugerah dari Allah Swt.

Kondisi umat muslimin saat ini begitu memperihatinkan. Kita sedang berada di jurang keruntuhan yang bisa saja terjadi di setiap saat, padahal kita adalah umat yang beragama, berilmu dan senantiasa beramal.

Bagaimana kita dapat keluar dari semua ini jika tidak ada dari umat muslimin yang mau menghabiskan malam-malam panjangnya untuk begadang, menekuni ilmu dan amal, serta mengambil langkah-langkah kongkrit dan cermat untuk membenahi semua sendi kehidupan sebelum kerusakan menjangkiti semuanya.

Oleh karena itu, kita sekarang sangat perlu untuk membentuk perhimpuman-perhimpunan islami yang mempunyai ambisi kuat dalam mengemban tugas ini, baik di dalam keluarga, masyarakat, negeri, dan pemerintahan. Pastinya semua itu setelah pembelajaran yang matang dan penetapan apa-apa yang harus ditetapkan melalui konfrensi yang diselenggarakan untuk misi ini, serta usaha di dalam memahami kondisi-kondisi umat muslimin sekarang, sehingga perhimpunan tersebut dapat meluruskan dan membenahi kerusakan-kerusakan yang ada dengan cermat dan matang, sampai tidak ada lagi orang yang akan berkata "apa urusanku?" melainkan semuanya menyadari akan kewajibannya mencintai sesama kaum muslimin dan menginginkan kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia menginginkan kebaikan tersebut untuk dirinya sendiri. Jika tidak, maka orang tersebut bukanlah muslim yang sempurna sebagaimana yang telah tertera di dalam sebuah Hadits.

Bahu membahu secara bersama ini adalah sasaran yang tepat daripada menjalankan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar di dalam syariat. Seorang muslim haruslah memperhatikan urusan saudaranya sesama muslim yang lain, seperti ia memperhatikan urusan dirinya sendiri.

Dikisahkan bahwa Sultan Ahmad I pada masa khilafah utsmaniyah (yang membangun Masjid Jami' Al-Kholid di Astanah), mengirimkan sebuah surat dengan mengutus orang terdekatnya kepada Syeikhul Islam di pemerintahan tersebut pada saat itu, yaitu Syeikh Muhammad Bin Sa'duddin guna menanyakan sebab kerusakan yang muncul di tengah-tengah masyarakat, padahal umat muslim telah dijanjikan dengan kemenangan.

Syeikh Muhammad langsung bertindak mengambil surat dari tangan utusan sang sultan itu, kemudian menulis di bawahnya—setelah memanjangkan huruf Ba' (al-jawab) seperti yang biasa di lakukan di dalam dalam fatwa-fatwa—"Apa urusakan ku dengan ini?", ditulis oleh Muhammad Bin Sa'duddin. Kemudian surat tersebut dikembalikan kepada Sultan. Sang Sultan tatkala melihat jawaban tersebut seketika beliau sangat marah dan menyangka bahwa Syeikhul Islam tidak menghiraukan pertanyaannya.  Maka dipanggillah Syeikhul islam untuk menghadap Sang Sultan. Kemudian Sang Sultan memarahinya seraya berkata, "bagaimana kau bisa berkata 'apa urusanku' di dalam perkara yang sedang kuhadapi dan kau mengabaikan jawabanmu!"

Lantas Syeikhul Islam berkata dengan tenang, "Tidak, malah aku sudah menjawab pertanyaanmu dengan jawaban yang sangat mendetail. Yaitu, jika perhatian pemerintah ataupun masyarakatnya hanya kepada urusan pribadi masing-masing, tanpa memikirkan kerusakan yang akan menimpa atau demi kemaslahatan bersama, dan mereka berkata 'Apa urusanku dengan itu semua', maka pada saat itulah malapetaka akan menimpa semuanya, disebabkan setiap orang hanya memikirkan urusan pribadinya tanpa memikirkan manfaat untuk bersama."

Demi mendengar penjelasan dari lisan Syaikhul Islam yang mulia, Sang Sultan merasa kaget sekaligus malu karena sudah memarahinya, maka ia pun segera meminta maaf kepadanya.

Kalimat "apa urusanku" yang sangat simpel dan mudah diucapkan di lisan itu, merupakan penyakit yang menyebabkan munculnya kerusakan-kerusakan di dalam urusan umat muslim di setiap zaman. Maka harus ada gerakan dari orang-orang yang berhati ikhlas untuk mencurahkan waktu, fikiran, serta tenaganya di dalam mengurusi urusan-urusan umat muslimin saat ini, dan menetapkan apa-apa yang akan jadi maslahat bersama untuk mencegah bahaya yang akan terjadi, seketika itulah urusan-urusan umat muslim akan berjalan dengan baik.

Akan tetapi harus kita fahami, bahwa semua ini tidak akan bisa terrealisasi hanya dengan mengandalkan pemerintah atau mereka-mereka yang sudah tua renta yang sudah tidak bisa apa-apa lagi. Akan tetapi semua ini membutuhkan pemuda-pemuda yang kuat yang mempunyai semangat tinggi di dalam menggapai Ridha Ilahi, yang hanya mengharap ganjaran serta balasan dari Nya, yang mengandalkan semangat yang muncul dari kekuatan iman mereka. Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayahnya serta menguatkan kita semua. Aamiin.

Disadur dari kitab Maqolat al-Kautsari, hal 406, cetakan ke-4, Daarus Salam, Mesir.

===========

Terus dukung dan ikuti perkembangan kami lewat akun media sosial Ahgaff Pos di;

Facebook: facebook.com/AhgaffPos
Instagram: instagram.com/ahgaff.pos
Youtube: tiny.cc/YoutubeAhgaffPos
Website: amiahgaff.org
Medium: medium.com/@ahgaffpos95

Posting Komentar

0 Komentar