2019, Mazhab Cangkeme Tonggo

Oleh: Mohamad Abdurro’uf (mahasiswa tingkat akhir universitas al ahgaff)


Dalam rangka mengejar suatu hal rahasia yang tersimpan dalam batin pemilu 2019, debat pilpres digelar, diruntut dan dikalkulasikan para pakar. Sidang internal partai, resmi maupun kongko, digelar. Dana suntikan dan bantuan ditasarufkan. Tusuk-belakang dan tikung-menikung tambah didayung. Semua mesin kekuatan politik sibuk dikebut habis-habisan. Anda sibuk apa?

Kalau Anda bisa nyengir sesekali melihat berita akhir-akhir ini, atau sudah terlalu stres melihat timeline dan headline untuk bisa tertawa, maka saya ucapkan selamat. Akan saya perkenalkan pada sebuah mazhab yang nikmat. Mazhab Mulut Tetangga!
Entah siapa imam mazhabnya. Kitab rujukannya tiada wujudnya. Tak ada manuskrip maupun peninggalannya di perpustakaan mana saja. Tapi asyiknya, Mazhab Cangkeme Tonggo (MCT) paling banyak pengikutnya. Berani diadu dengan pengikut syafiiyah Indonesia. Bahkan misalkan adu debat alias munadzrah, saya yakin mazhab ini yang menang. Kalau syafiiyah punya dalil, maka mazhab ini punya dalil yang lebih kuat, yaitu cangkem(mulut)!
Syafiiah memiliki lima kaedah fikih, seperti yang terangkum dalam Asybah wa Nadza’ir karya Imam Suyuthi. Yaitu, satu, hukum perkara adalah dengan maksudnya. Dua, keraguan tidak menafikan keyakinan. Tiga, kesempitan menuntun kemudahan. Empat, darurat harus diangkat. Lima, adat adalah sandaran hukum.

MCT juga punya lima kaedah dasar, seperti digosipkan dalam kitab fiksi Afwah al-Jirani. Satu, jika tak punya dicaci. Dua, sudah punya dikomentari. Tiga, diam saja di-bully. Empat, mulai bertindak di-cangkemi. Lima, sudah sukses, ayo dirasani(gosipin).

Berikut hasil ijtihad dari dua mazhab dalam bab nikah. Menurut syafiiah, dalam kitab Yaqut Nafis syarat mempelai pria adalah takyin, bukan mahram, tidak sedang ihram, tidak dipaksa, dan laki-laki. Sedangkan menurut MCT, semua itu tidaklah cukup. Pengantin lelaki disyaratkan harus ganteng melelehkan hati, duitnya melintir, lulusan luar negeri, punya mobil, gaji gede, punya usaha dan resepsi di gedung berbintang. Ini adalah qaul muktamad dalam mazhab. Qaul ini diunggulkan oleh banyak calon istri dan ditarjih oleh ijmak mertua.

Mereka juga mengedok palu hukum. “Sesiapapun yang menyalahi ijtihad ini dan berani menikahi seorang gadis terhormat, maka kabarkanlah. Baginya azab yang begitu pedih. Ambillah tempat di majlis tinggi ghibah dan rasan-rasan mulut tetangga!”

Dalam urusan politik, mazhab ini juga ikut campur. Dia menggoda dan memuluti kedua paslon. Menurut ilmu jarh wa takdil dalam mazhab, dikatakan bahwa, siapapun boleh dan dijamin kebebasannya untuk menuduhkan apapun kepada sesiapapun dari kedua paslon. Ini adalah hak yang dimiliki setiap pengikut mazhab.
Semua pengikut mubah untuk melakukan jarh alias penjatuhan dengan sebuta-butanya. Mereka juga boleh melakukan takdil alias pencitraan sefanatik-fanatiknya. Tenang saja, jika ada pengikut syafiiah atau kiai manapun kok ikut-ikut, kita sikut juga dia.

Atas dasar mazhab ini, maka tertitahlah percaturan berita politik di negeri ini. Parpol bertarung di medsos. Munadzarah, jadal dan debat kotor berlangsung tanpa moderator. Media punya kita begitulah adanya, semrawut dan bikin pening kepala. Pak Prabowo telah melakukan ini. Pak Jokowi telah melakukan itu. Ulama sana mengirim bom ke ormas sini. Barisan sana mengumpan cantik ke kubu sini.

Sekali lagi, mulut tetangga bebas menukil. Bisa nyindir tanpa pajak, bisa memelintir tanpa jejak. Boleh nggoreng sampai gosong, boleh nyincong sampai ompong. Semua dijamin oleh Majelis Tinggi Permusyawaratan Mulut Tetangga.
Jika Anda sudah terhibur, sudah lupa dengan stres yang Anda alami, saya ucapkan selamat. Setelah ini, semoga Anda lebih selamat dari mulut tetangga. Lebih tepatnya, telinga Anda menjadi tuli dari ucapan mereka. Dan menerima kabar hanya dari yang terpercaya dari yang terpercaya. Seperti firman Yang Maha Benar, “Tanyakan pada ahlinya, jika kau tak tahu akan suatu perkara.”

Posting Komentar

0 Komentar