Ziarah Ulama dan Habaib Tarim


Angkatan 22 menghiasi hari liburan mereka dengan menziarahi para ulama dan habaib yang ada di tanah Tarim. Diantaranya Al Habib Muhammad Bin Hasan Al Haddad. Beliau merupakan salah satu anak keturunan dari Qutbudda'wah Al Habib Abdullah Bin Alwi Al Haddad dan sampai saat ini beliaulah yang di amanahi untuk menyimpan dan menjaga kitab - kitab karangan kakeknya.

Nasehat yang luar biasa tentunya selalu saja menjadi hidangan utama untuk para pelajar yang datang ke setiap rumah - rumah mereka.
Awalnya saya merasa bosan jika yang disampaikan oleh tuan rumah kali ini hanya
ألا لا لن تنال العلم إلا بستة # سأنبئك عن مجموعها ببيان
ذكاء وحرص واصطبار وبلغة # وإرشاد أستاذ وطول زمان.
Ternyata dari seringnya saya mendengar hal ini, saya diingatkan kembali tentang " Istibaar " yang artinya bersabar. Selama ini yang teriyang di hati saya ya sabar, sabar dalam belajar, sabar jika pelajarannya susah, sabar jika halaman kitab yang mau diujikan banyak dan tebal, sabar jika pelajarannya susah sehingga harus serius dipahami sampai - sampai nggak tidur, bergadang dan banyak lagi lah.
Nah ternyata, satu saja yang mungkin di hati saya saja masih belum tergambarkan, yaitu sabar jika gurunya bukan guru favorit, dosennya nyebelin dan nggak sesuai dengan harapan kita atau gurunya sudah pernah cacat di mata kita. Nah, malah bagian ini yang disinggung oleh beliau. Beliau menjelaskannya sebagai gambaran tertentu dari potongan syair ini yang berbunyi " Istibaar ", beliau lanjut " karena guru - guru kalian itu juga manusia, mereka bukan para rasul yang ma'shum, mereka tidak terjamin tidak bersalah, maka jika kita tak suka dengan mereka maka sabarlah ".
Ya begitulah kita, kadang - kadang daging guru kita sendiri dengan asyiknya kita santap bersama - sama, hanya karena kita tak suka pendapatnya atau tak suka tingkah lakunya.

Tak ingin panjang lebar, hanya mengucapkan semoga kita di hari jum'at ini diberikan keberkahan dan kesehatan yang tak henti - hentinya.

Post a comment

0 Comments