Residu Ziarah Hud (Sebuah Prosa)

Oleh : Fahmi Mahda A. H. (Mahasiswa Tingkat Tiga Universitas Al-Ahgaff



Aku duduk di antara pilar-pilar musala, dalam keramaian yang tak biasa. Orang-orang begitu berisik, merapalkan selawat serta doa-doa yang tak semuanya kupahami. Kecuali pukulan alat musik serupa rebana yang tak kutahu namanya. Hentakan nadanya yang terdengar syahdu membuatku larut dalam irama, bercampur dengan sebutan kekasih yang terdengar mesra. Ah, aku selaksa pemabuk yang menggeleng-gelengkan kepala sembari menyipitkan mata, tanpa arak untuk memicunya.

Lalu rinduku pada kekasih mulai terbang ke angkasa yang lapang, menyelam di lautan angan yang amat dalam. Firdaus tergambar dalam bayangan, hangat kasih penuh ketenangan.

Sampai pada kendaliku terlepas, aku terhempas, tepat saat kutabrak klise lakuku yang membekas, jejak langkah yang tercatat malaikat tanpa syahwat. Kelakuanku yang kuyakini membuat Sang Kekasih menjadi sedih. Pinta-Nya padaku kuaminkan tanpa sedikitpun kulakukan, larangnya yang aku tahu sering kuabaikan. Ketakutan merayap dan menghampiri.

Takut kusaksikan Sang Kekasih menangis, oleh aku, umat-Nya yang tak tahu diri. Bahkan ada ragu yang tersuntik, dengan segala durhaka, pantaskah aku disebut umat-Nya? Maka, aku mulai menangis.

Tangis lirih yang menusuk perih, dari seorang hamba yang terus mengulangi salahnya, namun Tuannya tetap memberinya cinta. Seorang pecinta yang menghianati kekasihnya, tapi tak berhenti mengharap syafaat-Nya.

Keramaian di sekelilingku adalah sepi dan sunyi. Sebab kurasa aku sendiri, setitik hitam dalam putih, noda dalam keindahan sutra.

Kemudian terdengarlah anak turun Sang Kekasih menyampaikan pesan Kakek Buyutnya, bahwa dari keramaian serupa ini, ambillah hikmahnya, ubahlah hitamnya, sucikan nodanya. Selagi nyawa belum berpisah dengan raga, setiap manusia punya kesempatan memperbaiki hubungannya pada Tuannya, pada Kekasihnya, pada sesama. Belajarlah dari jiwa-jiwa suci yang berdesakan dalam keramaian, dari ketawadukan yang damai disaksikan, dari ikhlas yang terasa meski tak kasat mata.

Kalam-kalam itu seperti pernah kudengar sebelumnya. Tapi selalu saja, aku menyesal, menyebut taubat, berubah, lalu suatu saat kembali menjadi manusia bodoh yang sama. Kenapa?

Semoga tidak lagi!

Post a comment

0 Comments