Rabi’ul Anwar; Bulan Kasih Sayang

Oleh: Muhyiddin Abror (mahasiswa tingkat akhir Universitas al-Ahgaff)




Valentine day (hari kasih sayang) lumrahnya akan disandarkan kepada bulan Februari. Sejauh yang saya ketahui, hari tersebut akan digunakan oleh sebagian besar sepasang kekasih tidak halal untuk saling tukar coklat, memberi bunga, dan hal-hal yang menurut mereka “romantis”. Bahkan sepotong coklat pun ditambah dalih hari kasih sayang, bisa melenyapkan keperawanan seorang gadis. Mau bagaimana lagi, karena bagi mereka cinta hanya sebatas hubungan antara lawan jenis atas dasar suka sama suka, lalu bisa melakukan apa saja tanpa harus ada ikatan pernikahan yang dilegitimasi oleh syariat. na’udzubillah min dzalik.


Lalu setelah itu, apa lagi selain penyesalan yang akan mereka dapatkan? Malu, aborsi, bunuh diri, pembunuhan, brokenhome, dsb tentunya tidak jauh dari nasib yang akan  menimpanya. Wah, ternyata terminologi sempit tentang cinta yang kamu tawarkan berakhir sadis dan kejam. Jika demikian, bagaimana kalau kita rubah maindset tentang cinta itu sendiri. Apakah cinta hanya sebatas hubungan antar jenis yang dilandasi oleh nafsu belaka? Bagaimana perspektif Islam tentang cinta dan kasih sayang?


Berbicara tentang cinta, setiap orang mempunyai hak untuk menafsirkannya. Karena sejatinya, cinta tidak butuh penafsiran, dan penafisran yang paling tepat untuknya adalah tidak bisa ditafsirkan dengan kata-kata. Kendati demikian, beberapa kalangan mencoba menfasirkan cinta menurut prespektif mereka masing-masing. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa cinta itu ketika kamu menganggap sedikit sesuatu apa yang kamu berikan untuk kekasihmu dan menganggap banyak apa yang ia berikan untukmu. Ada pula yang mengatakan cinta itu ketika hatimu selalu dihantui oleh orang yang engkau cintai. sebagian yang lain menganggap bahwa cinta adalah ketika kamu bisa merasakan kehadiran sang kekasih setiap saat.


Namun, semua definisi diatas adalah tentang dampak dari cinta itu sendiri, bukan definisi tentang cinta. Sedangkan cinta sendiri adalah naluri yang dimiliki oleh setiap orang semenjak kelahirannya di muka bumi ini. Untuk itu, definisi tentang cinta sangat luas dalam kehidupan ini dan akan terus ia rasakan selama nyawa masih bersemayam ditubuhnya. Akan tetapi, kita perlu bijak dalam mengungkapkan cinta kita dalam bentuk ucapan maupun gerakan. Agar ucapan dan perbuatan kita tidak bertentangan dengan ajaran Islam.


Kita tidak bisa mengendalikan hati untuk mencintai siapa atau mencintai apa, namun kita bisa mengendalikan ucapan dan perbuatan kita agar tidak terjerumus kepada implementasi cinta yang salah. Dan semua itu sudah diatur sedemikian rupa oleh Islam demi kemaslahatan umat manusia. Misalnya, kita pastinya mencintai kedua orang tua kita dan Islam mengajarkan kepada kita untuk berbakti kepada keduanya sebagai bukti nyata kecintaan kita kepada mereka. Contoh lain, ketika kita mencintai anak-anak kita, Islam memerintahkan kita sebagai orang tua untuk mendidik mereka agar menjadi pribadi yang shaleh dan shalehah. Karena, itulah bentuk implementasi cinta kita terhadap anak-anak kita. Begitu pula, ketika kita mencintai sahabat kita, Islam mengajarkan kepada kita tentang etika pertemanan yang benar, seperti saling membantu dalam kebaikan, saling menasehati, dsb.


Hal serupa juga terjadi pada para jomblo syar’i, ketika suatu saat ia sudah mantap dalam melabuhkan cintanya di dermaga hati seorang wanita. Islam mensyariatkan pernikahan untuk dapat mengaplikasikan cintanya tersebut terhadap wanita yang ia cintai. dengan pernikahan, ia dapat membangun sebuah rumah tangga dengan silsilah yang jelas, dan tentunya semua keromantisan yang mereka lakukan akan bernilai pahala di sisi Allah Swt. Tentunya, itu semua jika ia sudah siap dan mampu untuk melaksanakannya. Jika tidak, salosi lain untuk dirinya adalah dengan berpuasa atau menyibukkan diri  terhadap hal-hal yang positif.
Pada akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa cinta dan tentang bagaimana kita mencintai semua sudah dibahas secara detail dalam Islam. Sehingga kita bisa sadar, bahwa orang yang paling berjasa dalam mengarahkan hidup kita adalah seorang panutan yang diutus oleh Allah Swt untuk mengajarkan semua itu kepada kita. Nabi Muhammad Saw, seorang panutan mulia dengan misi membawa, mengaplikasikan dan menyampaikan akhlak mulia kepada seluruh makhluk. Dari-Nya kita mengetahui agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Tanpa-Nya, mungkin kita dan binatang tidak jauh berbeda, bahkan bisa jadi lebih parah. Karena-Nya kita bisa merasakan esensi cinta yang sebenarnya.


Karena itulah, tidak salah jika Beliau berkata, “Tidak sempurna iman seseorang kecuali jika ia mencintai-Ku lebih dari cintanya kepada orang tuanya, anaknya dan semua orang”. Dan hal itu hanya dapat kita dapatkan ketika kita mengetahui kerja keras dan jasa-Nya kepada kita dalam menyebarkan Islam. Untuk mengetahui hal tersebut, kita perlu menggali ulang biografi kehidupan-Nya dan mengaplikasikan seluruh ajaran-ajaran-Nya dalam kehidupan nyata. Jika cinta yang hakiki sudah kita dapatkan, mungkin hanya dengan mendengar nama-Nya saja hati akan bergetar, mata akan meneteskan air mata, ribuan bahkan jutaan shalawat spontanitas akan terus kita lantunkan.


Terlebih pada bulan Rabi’ al-awwal atau lebih indah jika kita sebut dengan Rabi’ al-anwar (musim semi dengan ribuan cahaya), cinta dan rindu kita kepada-Nya seharusnya lebih meluap-luap. Kita bisa merasakan bahwa, pada bulan inilah semua keindahan berawal. Ya, dari bulan inilah pertanyaan, “Bagaimana saya mencintai?” akan terjawab. Aku ingin menjadikan bulan ini adalah bulan kasih sayang untuk seluruh alam sebagaimana pada bulan ini seorang dengan kepribadian rahmatan lil ‘alamin dilahirkan. Tidak ada perpecahan, peperangan, perampasan hak secara dzalim dan kemungkaran lainnya merupakan salah satu cara kita memperingati bulan kasih sayang ini. Wa Allahu a'lam.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Posting Komentar

0 Komentar