Poligami dan Poliandri, Sama Tapi Beda

Oleh: Gamal Abdul Nasir



Agama itu sifatnya relatif, dari satu individu dengan individu yang lainnya mengandung unsur fleksibilitas. Sama namun berbeda; satu bentuk namun banyak macamnya.

Dan agama yang paling memberikan kebebasan kepada pemeluknya dengan menyediakan berbagai macam ukuran serta takaran adalah agama Islam.

Dogma yang terbentuk di dalam Islam mempunyai asas kemaslahatan untuk kehidupan manusia dan alam semesta seluruhnya. Jadi mau diuji dengan dalil apapun hasilnya tetap sama. Dogma, keyakinan, aturan, undang-undang yang ada di dalam Islam semuanya berlaku atas dasar kemaslahatan (kalo tidak percaya atau ragu, silakan diuji). Jadi kalau ada aturan, dogma, keyakinan, yang bersebrangan (dalam artian 180 derajat) dengan aturan islam maka sama dengannya juga bersebrangan dengan kemaslahatan. Begitu juga sebaliknya. Semisal pun ada yang berlawanan dengan kemaslahatan maka dapat kita pastikan itu bukan ajaran Islam.

Sudah ketemu poinnya?

Kita ambil satu contoh kekinian, poligami; Bagaimana Islam menghukumi poligami?

Dalam kasus ini, Islam tidak mencekik leher pemakainya, atau menyesakkan perut penggunanya, dan juga tidak membuat penggunanya tertelanjang atau bugil karena ukuran kerah baju yang sangat longgar.

Lagi, tergantung dengan kemaslahatan. Dalam kasus keadaan tertentu kadang seseorang mau tidak mau harus berpoligami, seperti; istrinya yang mandul, sedangkan dia ingin mempunyai keturunan. Di keadaan tertentu seseorang juga dianjurkan untuk berpoligami, semisal; seorang suami yang mempunyai nafsu yang tinggi, di sisi lain sang istri nafsunya lemah sehingga tidak sebanding dengan nafsu suaminya. Di lain keadaan, seseorang dilarang untuk berpoligami, seperti; Dia cukup dengan satu istri dan dia takut kalau berpoligami dia tidak bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya.

Islam menghukumi dasar poligami dengan status hukum 'boleh bersyarat'.

Artinya, kalau tidak terpenuhi syaratnya, maka hukum keabsahannya tidak ada atau jadi tidak sah.

"Fankihuu Ma Thoba Lakum minannisa'i, matsna wa tsulatasa wa ruba', fa in khiftum anlaa ta'diluu fawahidatan au ma malakat aymanukum".

artinya : "maka nikahilah oleh kalian akan wanita-wanita yang baik bagi kalian; dua, tiga, empat. jikalau kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba-hamba sahaya kalian. (QS. An Nisa’: 3)

jadi dalam ayat ini ada dua syarat untuk berpoligami;

1. "Ma Thoba lakum minannisa"..., wanita yang kita nikahi tersebut baik untuk kita atau ada unsur kebaikan dalam dirinya untuk kita.

2. Adil. Orang yang berpoligami diharapkan dapat berlaku adil, dan yakin dirinya dapat berlaku adil terhadap para istrinya.

Jikalau syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, seperti perempuan yang akan kita nikahi tidak baik untuk kita, atau kita takut nantinya kita tidak dapat berlaku adil terhadap istri-istri kita, maka hukum kebolehan berpoligami tersebut belum bisa diterbitkan.

Betapa indahnya hukum islam, menjaga kemaslahatan yang satu dengan menjamin ketetapan maslahat yang lainnya.

Lantas, kenapa islam melarang poliandri?

Lagi, karena adanya kemaslahatan yang dijaga.

Andaikata poliandri diperbolehkan maka akan berdampak terhadap sulitnya mengidentifikasi status si anak, anak dari suami yang mana? kemudian juga berdampak terhadap status perwalian si anak, status anak dalam masalah waris dll. disamping itu, juga banyak alasan lain, seperti alasan psikologis, biologis dan lainnya yang membuat hukum poliandri itu tidak diperkenankan.

Terakhir, kencangkan jaket dikala cuaca dingin, dan longgarkan kerah baju tatkala cuaca panas.

Posting Komentar

0 Komentar