Pergerakan Santri di Era Post-Islamisme (Menurut Prof. Dr. Habib Abdullah Baharun, Rektor Univ. Al Ahgaff, Yaman)

Oleh: Abdul Aziz Jazuli (alumni Universitas al Ahgaff Tarim)



Santri sebagai generasi penerus estafet perjuangan Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam, yang mengkaji, membahas, dan mendalami ilmu-ilmu keislaman. Dapat dipastikan bahwa jika mereka tidak lagi berada di pesantren, mereka akan masuk ke dalam lingkungan yang berwarna-warni. Sehingga, dari kalangan mereka ada yang menjadi Kyai, pengasuh Pondok Pesantren, penceramah, akademisi, bisnisman, pedagang, petani, pegawai, bahkan seorang politisi. Lantas langkah-langkah apa yang harus para batalion bersarung ini ambil ketika berkecimung di lingkungan yang jauh berbeda dengan lingkungan pesantren?.

Dalam sambutan dalam acara Al multaqo ats-tsanawi li muntasibi Jami’atil Ahgaff  “Reuni Tahunan para alumni Univ. Al Ahgaff”,  Prof. Dr. Al Habib Abdullah bin Muhammad Baharun (Rektor Univ. Al Ahgaff, Yaman) memberikan motivasi kepada para alumni untuk selalu meningkatkan kualitas yang dimiliki, tidak hanya dalam keilmuan, namun juga dalam membaca situasi dan kondisi, agar kita tidak hanya menjadi seorang yang memiliki konsep pemikiran tekstual berdasarkan buku-buku bacaannya. Namun juga harus meningkatkan daya pikirnya, dan memiliki konsep pemikiran kontekstual, terutama dalam menjaga persatuan dan kesatuan; karena di dalam persatuan terdapat kekuatan luar biasa, yang sudah mulai terlupakan.

Beliau menambahkan, hilangkanlah kata-kata “mustahil” atau “tidak mungkin” untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Ketika seseorang yang bercita-cita ingin memiliki lembaga pendidikan yang besar dengan pendidikan yang berkualitas, jangan katakan “itu mustahil dan tidak mungkin”, atau “siapa yang akan membantu dan memberi saya”. Karena di balik itu semua ada dzat yang maha memberikan segala-galanya. Allah swt berfirman:

{وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِه} [النساء: 32]

 “Memohonlah kalian kepada Allah dari pertolongan-Nya” [An Nisa 32]

Sehingga, keraguan-keraguan seperti itu harus dihilangkan dari kamus kehidupan kita dan dari benak kita; karena kita memiliki Allah swt, rahmat, kasih sayang dan pertolongannya. Sehingga ini menjadi sebuah motivasi agar kita selalu meningkatkan kualitas dari sisi manapun dan dalam bidang apapun. Maka, kita harus membiasakan diri agar slalu konsisten, semangat, dan bekerja keras.

Kita memiliki tokoh-tokoh besar seperti Syeh Muhammad Nawawi Banten, Syeh Mahfudh Termas, Syeh Yasin Padang, dll. Jika kita memiliki semangat yang tinggi untuk mencapai tingkatan seperti yang mereka capai dan adanya usaha maksimal, serta dibarengi dengan do'a memohon kepada Allah. Maka pintu antara kita dengan Allah akan dibuka selebar-lebarnya tanpa adanya penghalang. Walaupun kesulitan pasti datang dalam kehidupan manusia.

Tujuan utama kita sebagai santri adalah memperbaiki hubungan manusia dengan Allah, dengan arti mendekatkan mereka kepada Allah ta'ala dan berkhidmah kepada Agama. Jangan sampai perbedaan pandangan dalam pilihan menjadi sebuah tembok penghalang atas keberlangsungan persatuan dan kesatuan umat Islam dan bangsa Indonesia. Karena perbedaan pandangan tidak boleh menghilangkan kecintaan tentang  persaudaraan. Perbedaan dalam pilihan merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Maka yang harus kita tekankan adalah bagaimana peningkatan kualitas iman dan Islam kita agar kita mati dalam keadaan menjadi seorang tholibul ilmi (santri). Jangan berkeyakinan bahwa dalam menentukan pilihan politik, seakan-akan dunia akan hancur jika tidak sesuai dengan pilihan kita, dan agama akan hilang karena sebab tersebut. Karena kita masih memiliki Allah yang maha segalanya yang mengatur segalanya sesuai posisinya. Maka yang harus digunakan adalah konsep berfikir dengan hati nurani, bukan dengan akal saja.  Sehingga ketika menjadi seorang kyai, maka ia akan menjadi seorang kyai yang berkualitas dan bijaksana dalam bersikap. Begitu pula dengan profesi-profesi lain seperti yang disebutkan di atas, seorang santri harus menjadi seorang yang profesional dalam menyikapi segala tantangan dan realitanya.

Faktanya,di Era "Post-Islamisme" seorang muslim mampu mengatakan segala apapun berkaitan tentang islam karena saat ini islam sudah menyebar ke seantaro bumi nusantara dengan kultur-sosial budaya islam yang berkembang di dunia modern sehingga segala akses keilmuan islam berkembang tanpa harus mendalaminya dalam dunia pendidikan pesantren dan akademik islam yang berprinsip aswaja yang disebarkan sebagaimana pendahulunya (assabiqunal awwalun) yang kridibel dalam segi dirroyah dan riwayatnya.

Siapapun pada hari ini, kelak mereka mungkin akan menjadi seseorang yang bisa mengatakan dan mengarahkan dakwah yang berisi ambisi dunia dan jabatan, kepentingan sesaat dengan dalih agama sebagai alat komoditasnya.

Hal,ini menjadikan pergerakan seorang santri dituntut untuk profesional dan bijaksana,menghindar dari fanatisme buta, berprinsip, dan menjauh dari perpecahan ummat antara sesama ummat islam, sebangsa dan setanah air.


Editor : Ceo Kobong Pesantren.
Cisarua, Bogor, 27 Oktober 2018

Post a comment

0 Comments