Memaknai Sosok Rasul Sebagai Rahmatan Lil ‘Âlâmîn

(Intisari Taushiyah Abuya al-Habib Abdullah Baharun, pada acara Maulidur Rasul Majlis Rasulullah di Monas, 12 Rabi’ul Awwal 1440 H)



Oleh: Balqis Azizy (alumnus kuliah banat Universitas Al-Ahgaff)




وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad saw), melainkan (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

    Ayat di atas kiranya sudah tidak asing lagi, terutama saat menggambarkan sosok Makhluk teragung yang pernah Allah swt ciptakan. Terlebih saat bulan maulid datang, di mana umatnya bergembira menyambut hari kelahiran, bersahut-sahutan membaca syiir yang menggambarkan terpuji sosok beliau, dan saling berlomba memperbaharui serta menambah rasa cinta untuk membalas cinta Nabi Agung, meskipun tidak akan pernah bisa cinta kita membalas cinta beliau, seorang pemimpin yang bahkan rela menanggung sakitnya sakaratul maut untuk mengurangi rasa sakit umatnya.
Allahumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidinal mushthfâ Muhammadin...

    Saat acara tabligh akbar yang digelar oleh Majlis Rasulullah beberapa hari lalu, saya ikut hadi mendengar ceramah guru mulia kami, abuya Prof. Al-Habib Abdullah Baharun. Dalam taushiyahnya, beliau mengajak umat muslim untuk tidak salah kaprah mengartikan makna rahmat dalam ayat tersebut di atas.

     Dalam ayat ini memang jelas menyebutkan kalau Allah swt mengutus Nabi Muhammad saw untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, rahmat yang Allah swt jadikan di dalam hati dan sosok Sang Nabi. Akan tetapi, menurut abuya, yang perlu dipahami bahwa rahmat itu tidak selalu bisa dirasakan oleh seluruh makhluk, terutama seluruh manusia. Abuya mengistilahkannya seperti berikut,
رحمة النبي تتنزل كما يتنزل المطر
Rahmatnya Nabi Muhammad saw, turun seperti turunnya air hujan.

    Maka tergantung tanah yang menerima air hujan tersebut. Di atas bumi ini, ada tanah subur, yang dituruni hujan sedikit saja langsung bisa tumbuh berbagai jenis buah-buahan, tumbuhan, dan makanan yang member manfaat bagi manusia. Pun begitu, ada jenis tanah batu yang meskipun hujan turun sederas-derasnya, tanah tersebut tetap tidak akan bisa menumbuhkan sesuatu yang dapat memberi manfaat.

    Begitulah permisalan hati manusia dalam menerima rahmat kanjeng Nabi. Maka tidaklah rahmat Nabi bisa dirasakan oleh seluruh manusia. Abuya melanjutkan, tugas kita mari tanyakan pada diri kita sendiri, termasuk jenis ‘tanah’ yang mana kah hati kita? Apakah ia seperti tanah subur yang terkena air hujan meski sedikit bisa menumbuhkan banyak manfaat? Ataukah ia layaknya tanah batu yang tak bisa tumbuh darinya kemanfaatana meski dari derasnya air hujan yang turun? Na’udzubillâh

    Lalu bagaimana ciri hati yang dapat merasakan rahmat Nabi Muhammad saw? Ialah mereka yang mengakui kerasulan Nabi, beriman kepada beliau, serta menerima dan menjalankan ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw.

    Selain itu, makna lain dari rahmat yang disematkan pada sosok Sang Nabi ialah التسامح atau toleransi. Mengacu pada sebuah ayat:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agam (Islam).

    Dan Nabi mencontohkan dalam sikap beliau, yang selalu berbuat baik kepada orang lain meski bukan muslim, atau bahkan memusuhi beliau. Rasul tidak pernah memikirkan apa agama orang tersebut, namun yang terpenting adalah menghilangkan kedzaliman. Inilah satu contoh lain dari sosok Sang Nabi sebagai rahmat bagi alam.

    Berkaitan dengan rahmat Nabi yang turun bagaikan hujan, Abuya mengingatkan umat muslim sekalian,
إذا تتنزل رحمة النبي على قلبك, افتح قلبك!
Maka saat rahmat sang Nabi turun pada hatimu, bukalah lebar-lebar hatimu untuk dapat menerima rahmat tersebut.

    Buka hati dengan menerima apa yang telah dibawa dan diajarkan baginda Rasulullah saw. Amalkan apa yang telah beliau ajarkan dan perintahkan, serta jauhi apa yang beliau larang.

    Selanjutnya, Abuya juga menjelaskan tentang pentingnya memiliki sikap kasih sayang. Beliau mengucapkan, sejatinya manusia adalah sosok yang memiliki sifat rahmah atau kasih sayang.
فكن رحيماً لأنك تحتاج إلى أن تكون رحيماً, إذا كنت رحيماً فأنت الإنسان
Jadilah sosok yang penyayang, karena engkau butuh menjadi sosok yang penyayang. Jika engkau sudah menjadi sosok yang penyayang maka engkau adalah manusia (yang sebenarnya).

    Lebih lanjut abuya mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita sebagai seorang anak, maka sudah kewajiban menjadi sosok penyayang kepada orangtua kita. Tidak usah sungkan mengucapkan terima kasih kepada ibu yang sudah susah payah mengandung dan membesarkan. Juga kepada ayah yang sudah lelah bekerja keras untuk membiayai kehidupan kita. Tunjukkan cinta dan sayang kita pada kedua orangtua.

    Jika engkau seorang suami, maka jadilah sosok yang penyayang, lemah lembut, penuh cinta kepada istri juga anak-anakmu. Jika engkau seorang istri, pun begitu, jadilah sosok penyayang kepada suami dan anak-anak. Jika engkau sebagai orangtua, jadilah sosok penyayang kepada anak-anakmu. Lalu beliau menegaskan,
فنكن فرداً رحيماً! لأنّ من فرد رحيم أسرة رحيم.
Maka seyogyanya kita perlu menjadi sosok yang penyayang. Karena dari pribadi yang penyayang itulah akan tercipta keluarga yang penuh kasih sayang.

    Dan dari keluarga yang dididik dengan kasih sayang, akan tercipta generasi yang baik pula, yang dapat membangun agama dan negara dengan baik. Dari sinilah pentingnya menumbuhkan sikap penyayang, lemah lembut dalam diri seseorang. Karena akan sangat mempengaruhi kualitas generasi penerus dakwah.

    Abuya juga menambahkan, bahwa rahmah atau sifat kasih sayang bukan semata ucapan yang diucapkan, akan tetapi ia adalah sebuah perasaan berharga dalam hati yang dapat ditunjukkan dengan sikap dan interaksi keseharian kita terhadap orang lain. Maka apabila kita hendak memahami dan mengamalkan ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw diutus sebagai bentuk rahmat bagi alam, hendaknya kita pun menunjukkan sikap rahmat tersebut terhadap orang-orang di sekeliling kita. Apabila kita ingin membuat Sang Rasul saw senang dengan kita, maka buatlah keluarga kita senang, begitu juga tetangga kita, teman-teman, kerabat, dll. Karena itulah kita dapat menjadi penyambung rahmat Nabi saw kepada orang lain, dan hal tersebut tentunya akan membuat Rasulullah saw bangga terhadap kita sebagai umatnya yang berkenan menyambut dan menerima ke-rahmat-an beliau.

    Selain itu, abuya menegaskan, sesungguhnya saat kita menjadi pribadi yang penyayang sama sekali tidak berarti kita menjadi sosok yang lemah. Malah sebaliknya, saat kita menjadi sosok yang keras, jauh dari kelemah lembutan dan kasih sayang, sejatinya saat itu kita sedang menjadi sosok yang lemah. Dawuh beliau berikut menggambarkan hal tersebut,
إذا أنت رحيم فأنت قويٌّ, إذا أنت قاسٍ فأنت ضعيف.
Ketika engkau bersikap rahmah atau penyayang, sesungguhnya engkau adalah orang yang kuat. Sebaliknya, jika engkau bersikap keras, maka engkau sejatinya adalah manusia yang lemah.

    Maka siapapun kita, selama kita mengakui menjadi umat Nabi Muhammad saw, maka tumbuhkanlah sikap rahmah dalam kepribadian dan keseharian kita. Karena sesungguhnya kita butuh untuk menyayangi, kita butuh mencintai, sebagaimana kita juga butuh disayangi, diwelasi, dan dicintai.

    Begitulah ringkasan intisari taushiyah Abuya yang penulis rangkum dalam acara Maulid Nabi Muhammad saw Majelis Rasulullah saw pada 12 Rabi’ul Awwal 1440 H beberapa hari lalu. Dalam bulan maulid ini, mari bersama kita pupuk sikap rahmah sebagaimana anjuran dari Abuya. Selain untuk menumbuhkan cinta juga pada Sang Nabi saw, tapi semoga juga bisa membuat Nabi Muhammad saw tersenyum bangga dengan kita umatnya, yang saling menyayangi satu sama lain, saling mengayomi, saling membantu, dan saling membahagiakan.

Semoga bermanfaat

Posting Komentar

0 Komentar