Melodi Kita, Tarim Featuring Rock

Oleh : Mohamed Abdurrouff



Sebulan lalu, tepatnya 10 Oktober 2018 PPI Kawasan Timur Tengah & Afrika mengeluarkan Press Release mengenai informasi terkait para pelajar Indonesia yang tertahan di perbatasan Oman-Yaman. Dalam laporan itu disebutkan hampir 155 pelajar tertahan. Berbagai pihak dan organisasi pelajar yang ada di Yaman ikut bergerak membantu. Banyak hal yang menyibukkan mereka. Tapi akhirnya semua beres dan, “Welcome to Tarim!”

Setelah semuanya normal dan adem, nampak-nampaknya perlu kiranya kita ulas kembali dengan fokus utama tentang alasan kenapa WNI berada di kota yang terkena dampak perang, Tarim, Hadhramaut. Karena itulah tulisan ini menjadi penting.

Orang jadi bertanya-tanya, “Mau apa WNI sebanyak itu belajar di Yaman?” Mari sepakat abaikan pertanyaan kebencian seperti: Teroris ya? Belajar bikin bom ya? Binatang saja tahu untuk ke tempat yang lebih nyaman. Halo, Yaman sehat?

Setelah sepakat, bolehkanlah saya mengajukan satu pertanyaan rasional dengan mengabaikan kedengkian seperti di atas. Maka adillah!

Mukadimah soalnya begini. Yaman sedang berperang. Walaupun tujuan WNI itu adalah Hadhramaut, dan Hadhramaut itu sangat jauh dari daerah konflik, pasti terkena imbas juga.

Pada saat masih menjadi Sekretaris PCINU Yaman, saya menerima LPJ PPI Yaman melaporkan pada tahun 2015 – 2016 ada 1.227 pelajar Indonesia di Yaman. Tahun berikutnya (2017), PPI Yaman melaporkan ada 1.481 pelajar Indonesia. Jumlahnya meningkat. Disebut, Yaman adalah destinasi kedua terbanyak bagi pelajar Indonesia setelah Mesir. Kira-kira kenapa mereka mau belajar ke Yaman?

Lalu bolehkanlah saya menambahi sebuah kejujuran. Di Hadhramaut, khususnya kota Tarim, banyak hal yang menyusahkan akibat dampak perang. Listrik susah, bahan bakar langka, harga mahal. Dan banyak lagi musykilah yang musykil.

Mukadimah kedua, saya tulis dengan penuh takzim kepada Tarim, kita dan orang Tarim sering menyebutkan bahwa ia adalah kota ilmu yang berbudaya. Bahkan ada di urutan ketiga setelah Mekah dan Madinah. Bahkan ISIESCO 2010 menobatkannya sebagai kota peradaban Islam.

Dalam banyak sejarah dunia, kemajuan peradaban selalu diiringi dengan kemajuan pembangunan kota. Sebut saja Baghdad sebelum Sekutu masuk, Islam mengenalnya sebagai kota yang sangat maju di ilmu pengetahuan. Banyak ulama terkemuka berasal dari Iraq. Pelajar dari seluruh penjuru belajar ke sana. Akhirnya dibangunlah tempat-tempat belajar, penginapan, sarana transportasi, pasar yang semakin modern dan kota dibangun semakin pesat. Kata kuncinya, perkembangan keilmuan, termasuk ilmu agama, diikuti dengan pembangunan kota. Mereka butuh sebuah ikon untuk menunjukkan kemajuan peradaban mereka, maka dibangunlah kota. Sama halnya di Mekah dan Madinah.

Tapi tidak dengan Tarim. Dia seperti tidak pernah memiliki peradaban kota-kota maju itu. Bangunan rumah-rumah sangat sederhana. Tidak banyak bangunan mewah. Kota sekadarnya. Namun ia memiliki banyak sekali masjid yang mengagumkan.

Sekali lagi, aku tulis dengan ketakziman di atas kepala. Lalu biarkanlah saya melanjutkan. Layakkah belajar di sana? Atau, pertanyaan retorikanya, “Dari wajah mana keindahan Tarim kaulihat?”

***

Maaf-maaf, kali ini saya akan sedikit melanggar aturan. Saya akan melonggarkan penggunaan qiyas-analogi dan tanqih manath. Baik, kita mulai dengan sebuah pertanyaan. Apa kamu menikmati musik Rock?

Sebagian orang tidak suka mendengar Rock. Menurutnya, Rock bukanlah musik. Dia lebih mirip suara pekikan yang direkam. Ada banyak jenis musik yang enak didengar dan digoyang, kenapa harus ada musik Rock?
   
Orang bilang, nyanyian Rock bukanlah lantunan, tapi teriakan. Gitarnya bukan dipetik, tapi dicabik-cabik. Drumnya tidak diketuk, tapi digebuk. Belum lagi efek distorsi gitar melodi dikawinkan paksa dengan teriakan serak vokalis. Coba kuubah pertanyaannya, “Dari telinga mana kenikmatan Rock kaudengar?”

Ada banyak kota peradaban ilmu yang sangat nyaman dihuni, kenapa harus Tarim? Betul, banyak sekali kota ilmu yang indah seperti Mesir, Jordan, Turki, Mekah dan Madinah. Itu normal, kalian melihatnya dengan mata normal. Coba lihat Tarim dengan mata cinta!

Ada banyak jenis musik yang nikmat didengar, kenapa harus ada Rock? Benar, tidak sedikit musik menarik tak berisik seperti dangdut, pop, jaz, campur sari, tembang, jineman, gamelan dan orkestra. Itu wajar, kalian mendengarnya dengan telinga normal. Cobalah dengar Rock dengan cinta!

Ada meme yang menisbatkan quotenya ke Jalaludin Rumi, walaupun penukilannya kurang bertanggungjawab tapi maknanya bagus, “Tanpa cinta, tarian hanya gerak, musik hanya berisik.”

Teriakan vokal, cabikan gitar, distorsi listrik dan gebukan drum akan menjadi indah di tangan para “juru dakwah” seperti Slash, Axl Rose, John Lenon, James Hetfield dan Kirk Hammett. Bagi mereka, rock bukanlah rock tanpa itu semua, seperti malam bukanlah malam jika tanpa gelap. Guns N’ Roses, Metallica, Pink Floyd, Chilli Peppers, The Beatles, telah menciptakan karya yang dikagumi banyak orang. Sehingga banyak yang berhijrah ke sana.

Langkanya bahan bakar, negara yang perang, mahalnya harga pokok dan masalah seru-remeh-temeh lainnya akan menjadi indah di tangan para “seniman” seperti Abuya Abdullah Baharun, Habib Umar, Habib Salim dan “seniman” jenius lainnya. Sepertinya, Tarim tidak lagi Tarim tanpa itu semua, seperti siang yang akan kehilangan nama ketika tanpa panas. Universitas Al-Ahgaff, Darul Musthafa, Rubath Tarim, Ma’had Idrus, Daruz Zahra, telah menciptakan karya yang diapresiasi banyak orang. Sehingga 155 WNI kepincut berhijrah ke sana.

Bagi yang di asrama, barangkali hari Jumat kita kurang bersemangat tanpa teriakan salat Jumat dari “ayah” kita. Antre makan pun menyenangkan, saat teman-teman menunggu dengan perut lapar manyiapkan sambal. Dinginnya musim ini kok ya malah menambah asyik belajar bersama. Dan di sore hari, kita menyulap tangga masuk asrama menjadi tribun sepak bola, sibuk meneriaki pemain di Santiago Berdebeu yang kalau-kalau meleset menembakkan bola.

Ingin saya, “Sedulurku, pandanglah kami dengan cinta, saudara kalian yang sedang belajar di Tarim. Lalu dukunglah kami dengan doa!”

Post a comment

0 Comments