Maulid Manusia, Cemburu dan Mesra

Oleh : Mohamad Abdurro’uf (mahasiswa tingkat akhir Universitas al-Ahgaff)




Al-Quran pernah mengabarkan bahwa Romawi akan ditaklukkan oleh Persia lewat surat Ar-Rum ayat-(2). Namun setelah itu, tidak lama kemudian Romawi bangkit dan balik menaklukkan Persia. Benar saja. Kabar ini pun betul-betul terlaksana. Persis dengan apa yang dikabarkan. Namun ada hal yang menarik dalam redaksi Al-Quran saat menceritakan kejadian masa depan itu, “Dan pada hari itu, bergembiralah orang-orang mukmin”. Mengapa orang mukmin bahagia atas kemenangan orang lain? Hubungannya dimana? Dan kenapa orang yang bahagia ketika itu disifati sebagai seorang mukmin? Baik Persia maupun Romawi sama-sama kafir. Mau yang menang Persia atau Romawi, sama-sama tak ada untungnya bagi Islam.


Kita ambil analogi lain. Misalkan ada dua tim sepakbola sedang berlaga, Madrid kontra Barcelona contohnya, dan Anda adalah pendukung Chelsea. Ambil saja Madrid berhasil membungkam Barcelona, tentu Anda tidak peduli. Tidak ada untungnya bagi Chelsea. Mau yang menang Madrid atau Barcelona, sama saja. Mungkinkah Anda gembira atas kemenangan Madrid sebagai pendukung Chelsea? Namun itu adalah ajaran Al-Quran, orang mukmin saat itu harus bahagia, kenapa? Imam At-Thabari menyebutkan alasannya dalam kitab tafsirnya, “Orang mukmin senang karena kemenangan Romawi yang ahli kitab atas Persia yang penyembah berhala”. Ahli kitab, walaupun kafir, tentu saja dia lebih dekat dengan Islam. Sebab mereka mengakui keesaan Allah, hanya tidak mengakui kerasulan Muhammad. Sedangkan Persia sebagai penyembah berhala dan api, mereka sama sekali tak mengakui keesaan Allah. Dari wajah inilah orang-orang mukmin bahagia atas kemenangan Romawi. Ini adalah ajaran Al-Quran. Korelasi bahagia yang agak jauh, namun nanti akan saya giring akan dikemanakan rasa bahagia ini.


Sekarang kita beralih ke peristiwa lain. Ketika Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyuro. Mereka melakukan ritual itu karena, “Hari itu Firaun ditenggelamkan, nabi Musa diselamatkan. Nabi Musa berpuasa sebab bersyukur atas kebahagiaan itu, lantas kamipun ikut berpuasa,” tutur Imam Nasai dalam Sunan Kubro. Nabi membalas, “Justru kami yang lebih berhak atas Musa, dan lebih layak untuk berpuasa.” Ada nafas kecemburuan Islam dalam kebaikan. Ketika orang lain bahagia atas pertolongan terhadap Nabi Musa, yang merupakan rasul Bani Israel, seharusnya Islamlah yang lebih layak untuk bahagia. Karena Nabi Musa dan Nabi Muhammad membawa risalah tauhid yang sama, bertuhan pada Zat yang sama, dan terlebih lagi, mereka adalah saudara. Dari sini seharusnya kita sebagai mukmin yang lebih berhak untuk bahagia.


Poin saya adalah, ada nafas kecemburuan dalam apapun yang dekat dengan kita. Walaupun sebetulnya kita tak mempunyai hubungan apapun dengan dia. Lalu bagaimana jika kebahagiaan paling tinggi itu terjadi pada kita sendiri? Pada tubuh Islam sendiri? Yaitu hari lahirnya seorang manusia, yang pernah menyatakan dirinya persis seharfiah makna “manusia”, “Aku hanyalah manusia seperti kalian yang diberi wahyu,” tutur Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam yang diceritakan surah Al-Kahfi (110).


Imam Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan, “Redaksi innama dalam ayat memberi makna khasr (menetapkan hukumnya dan menafikan selainnya), tidak ada sifat kemanusiaan yang membedakan antara nabi Muhammad dengan manusia lainnya, selain wahyu risalah yang diberikan kepada beliau”. Beliau diutus atas nama manusia, sebab dakwahnya tidak hanya untuk Islam, melainkan kepada seluruh alam. Kita sebagai manusia, baik muslim, nasrani, yahudi bahkan atheis pun harus bahagia bahwa pernah ada seseorang dari bangsa manusia yang menyerukan ajakan perdamaian, dengan mengabaikan ego fanatisme kesukuan, kelokalan, perkelompokan, demi menyatukan umat manusia. Saya kira Michael H. Hart sangat bahagia dan bilang “wow” berkali-kali saat memasukkan nama Muhammad sebagai orang nomor wahid paling berpengaruh dalam sejarah yang ia tulis dalam bukunya The Hundred. Tepat sekali. Dia memahaminya sebagai bendera perdamaian bagi umat manusia.


Jadi sekarang kita runut dari awal. Ketika orang mukmin harus bahagia atas kemenangan Romawi mengalahkan Persia, saat Nabi dan sahabat bahagia atas pertolongan kepada Nabi Musa, maka atas dasar apalagi kita tidak boleh bahagia atas nikmat paling besar bagi semesta dengan dilahirkannya Nabi Muhammad?.


Saya menulis ini atas dasar kedunguan saya yang masih saja butuh akan dalil “bolehkah saya bahagia?” Sebab hanya orang dungu yang masih bertanya, “Haruskah saya bahagia mendapat istri cantik, baik, lucu, imut, pintar agama, lulusan Ahgaff, putri kiai pula?” Saya juga memuji kalian, orang-orang cerdas yang sama sekali tak butuh dalil dan alasan kenapa harus bahagia menyambut bulan maulid ini. Aku ucapkan selamat! “Dengan itu semua, maka bergembiralah kalian!” cerah surah Yunus (52).

Post a comment

0 Comments