Jalan Terjal al-Alamah al-Kautsari

Oleh: Almuhdhor Muhammad Syaugi (mahasiswa magister Universitas al-Ahgaff)



• "Sesungguhnya jiwa yang besar itu adalah jiwa seorang al-Kautsari". (Al Imam Muhammad Abu Zuhroh)

Muhammad az Zahid al-Kautsari, pakar fikih dan muhaddits, dilahirkan di Astana, Turki (1296 H – 1371 H/1879 M–1952 M), dibesarkan dalam lingkungan Ajam. Akan tetapi tulisan, komentar dan amaliyah ilmiyahnya menunjukkan bahwasannya beliau adalah seorang arab yang fasih, yang cermat memilih kalimat, dan kata yang dimasukkan dalam kitabnya hanya seputar hal hal yang disepakati kefasihannya, dan ini menunjukkan luasnya tinjauan beliau pada literatur bahasa arab dari segi nahwu & balaghah. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang bertaqwa menjadikan al-Allamah al-Kautsari seorang murid yang gigih dan rajin menuntut ilmu, hingga pada umurnya yang ke-28 tahun Al-Kautsari telah mencapai derajat yang tinggi dalam segi keilmuan dan mulai duduk di bangku pengajar, tahapan demi tahapan hingga akhirnya menjadi pimpinan masyikhah islam pada era Ottoman.

Menjadi pemimpin masyikhah islam pada era Ottoman tidak lantas menjadikan al-Kautsari mengekor pada tiap kebijakan istana, akan tetapi ia tetap tegak berdiri diatas jalurnya, jalur keilmuan, diterangi terangnya cahaya islam.

Pada akhir masa kekaisaran Ottoman, dan runtuhnya kekaisaran ini oleh sebab oknum-oknum yang dirasuki pemikiran Atheis dan Sekuler dalam istana dan penentangan al-Kautsari sebagai pemimpin tertinggi masyikhah islam di zamannya, berujung pada pencopotan gelar pemegang tampuk tertinggi dalam dunia keilmuan tersebut, lantas beliau diturunkan hanya sebagai anggota saja, tetapi al-Kautsari melihat perihal pencopotan tidak ada artinya jika dibanding sebab pencopotan yaitu perjuangannya menegakkan agama dan menerangi dunia dengan pemikiran dan ilmu pengetahuannya.

Ketika hidup di Turki semakin sulit, sehingga mereka yang hidup dan memegang teguh prinsip prinsip keislaman seperti memegang bara api, al-kautsari melihat masa depannya di negara kelahirannya tersebut tidak panjang lagi, dihadapkan pada pilihan antara penjara, tiang gantungan atau berpindah ke negara lain, dengan segala pertimbangan demi berlangsungnya agenda mengajar, berdakwah dan mendidik, al-Kautsari berpindah ke Mesir, Damaskus dan kemudian kembali lagi ke Mesir.

Maka dia tidak singgah pada suatu tempat kecuali setiap penuntut ilmu yang sebenarnya datang dan membuat lingkaran di hadapannya, mengaharap disirami dengan pengetahuan dan dicerahkan akal pikiran serta jiwanya. Muhammad Abu Zuhroh, salah satu petinggi dewan pengajar al Azhar pada waktu itu datang berulang kali meminta kepada al-Imam al-Kautsari untuk sedia mengajar dan menuangkan ilmunya pada para pelajar, namun berkali itu pula al-Kautsari menolaknya, baik dengan lembut atau secara gamblang, sampai pada satu ketika al-Kautsari menjelaskannya pada Abu zuhroh; "Sesungguhnya Aku menyukai mengajar dengan caraku sendiri, dan oleh sebab umurku yang semakin senja, kesehatanku terganggu, demikian juga istriku dan dia adalah satu satunya yang menemaniku selama ini, menjadikanku tidak dapat mengajar dengan cara yang aku suka".

Muhammad Abu Zuhroh berkata; "jiwa besar seperti apa yang ada dalam jasad fana seorang pengajar ini? sesungguhnya itu adalah jiwanya al-Kautsari".

Telah lama islam kehilangan sosok seperti al-Kautsari sebagai guru dan murid, senja telah terbenam, akankah fajar terbit lagi?

(disadur dari ; mukaddimah kitab ta'nib al khatib ala ma saqahu fi tarjamati abi hanifah minal akadzib, juga terdapat dalam kitab muqaddimat al-kautsari).


Tarim, 5 November 2018

Posting Komentar

0 Komentar