Fikih Modern (فقه النوازل)

Oleh: Yusuf Markawi



Setiap perkara memiliki hukum tersendiri, perkara tersebut terbagi 3 :

1. Sudah terjadi sebelumnya dan telah ada hukumnya yang termaktub dalam al Qur'an, sunnah Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam dan ijma' sahabat, yang mana ketika hal tersebut terulang, hukumnya sama seperti yang telah lewat.

2. Sudah terjadi, namun dalil yang digunakan ulama dalam menetapkan hukumnya merupakan dalil yang dapat berubah sewaktu-waktu, semisal adat dan 'uruf(kebiasaan), di sini ulama harus meninjau ulang ketika perkara yang pernah terjadi terulang kembali, karna hujjah yang digunakan dapat mengalami perubahan.

3. Belum terjadi sebelumnya, jika ulama sebelumya belum memperkirakan hal tersebut, maka ulama masa kini harus berijtihad menggunakan metode ulama salaf dengan sumber-sumber dalil yang ada dengan kaidah-kaedah fikih. Namun jika ulama terdahulu sudah pernah memperkirakan ini akan terjadi, lalu mereka memberikan hukum, ulama masa kini juga tetap harus melakukan peninjauan ulang, karna boleh jadi hukum yang diberikan ulama terdahulu ternyata tidak cocok dengan kenyataan yang terjadi dan malah bisa membawa kerugian. Salah satu sebab ketidak cocokan hukum dengan perkara bisa terjadi karna hal ini belum berlaku di masa mereka, seperti contoh real dalam masalah yaitu hukum diperbolehkannya memalsukan uang dan bahwa uang kertas tidak memiliki unsur riba, begitu pula qiyas kebolehan melihat yang bukan mahram dengan bayangan yang ada di air, hal-hal semacam ini akan membawa mudarat jika diaplikasikan terhadap orang di masa kini, oleh sebab itu ulama harus kembali meninjau hukum.

Fikih Nawazil, Dr. Mustofa bin Smith

Lembah Aidid, 2 November 2018

Post a comment

0 Comments