Dialog Imam Abu Hanifah Dengan Sekelompok Teroris

Oleh: Firdaus el-Maduri (mahasiswa tingkat tiga Universitas al-Ahgaff)



*Imam Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit adalah Imam perintis Madzhab Hanafi salah satu 4 Mazhhab yang diakui keberadaanya. Dianut oleh sepertiga umat muslim di dunia; Pakistan, India dan sebagian besar penduduk Iraq*

*******

Hari itu Sang Imam sedang duduk mengajar di masjid, menebar benih ilmu-ilmunya dan nalar berpikirnya yang laksana lautan.

Di tengah asiknya beliau mengajar tiba-tiba masuk sekelompok orang yang mengatas-namakan islam paling lurus dengan pedang terhunus memotong pembicaraan sang imam.

Siapa lagi mereka kalau bukan Aliran Khawarij/Teroris, sekelompok aliran garis keras yang mengatas-namakan Islam, dan mengklaim hanya kelompok mereka yang benar, dan yang menentang mereka adalah salah dan wajib diperangi.

Diantara keyakinan mereka orang yang melakukan dosa besar meski hanya sekali adalah kafir dan harus dibunuh, pahala surga serta bidadari-bidadari cantik adalah bayaran cash kelak bagi pembununya.

"Wahai Abu Hanifah, kami akan menanyaimu dua pertanyaan, bila kamu lulus maka kamu selamat, tapi jika gagal kamu mati".

Ucap salah-satu dari mereka dengan nada membentak, mata melotot dan dahi mengkerut serta mimik muka memanas. Sebagaimana ciri khas mereka.

"Maaf tuan-tuan, bisakah sarungkan dulu pedang-pedang tuan-tuan dulu, karena itu mengganggu pikiranku". Ucap Sang Imam dengan wajah tersenyum santai.

"Mana mungking kami menyarungkan pedang kami, sedangkan kami akan memperoleh pahala dengan menghunuskan ke lehermu". Kata mereka dengan senyuman sinis.

"Baiklah, hunuskan saja kalau begitu". Balas sang Imam dengan nada santai penuh Tawakkal.

"Di depan pintu ada dua jenazah, satunya mati karena tersedak saat minum minuman keras.
Satunya lagi mati di saat melahirkan dari hasil berzina. Keduanya belum bertaubat. Bagaimana hukum mereka berdua, apakah mereka Kafir, ataukah Mukmin?". Ujar salah seorang yang berada di barisan terdepan.

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang menjebak sang Imam, jika beliau menjawab mereka berdua Mukmin, beliau akan dibunuh.

"Dari kelompok manakah mereka berdua, apa mereka Yahudi". Tanya beliau.

"Bukan".
Jawab mereka.

"Kristen?"..
Tanya beliau lagi.

"Bukan".
Ujar mereka.

"Oh... Penyembah api?"
Tanya beliau lagi.

"Bukan"
Jawab mereka seperti jawaban sebelumnya.

"Kalau begitu dari penyembah berhala?".
Sang Imam masih mengejar mereka dengan pertanyaan.

"Bukan".
Jawab mereka masih dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya.

"Lantas siapa mereka?".
Tanya beliau lagi.

"Mereka dari umat Islam".
Ujar mereka.

"Nah... Itu sudah kalian jawab sendiri".
Kata beliau santai sambil tersenyum.

"Loh... Bagaimana bisa?".
Bentak mereka dengan raut penasaran dan dahi yang semakin mengkerut kecut.

"Kalian sendiri yang mengakui kalau mereka berdua dari umat Islam, orang yang sudah termasuk bagian dari umat islam bagaimana bisa kalian menganggapnya bagian dari golongan orang-orang kafir?". Sang Imam mencoba menjelaskan.

"Eh... Anu... Mmm... Maksud kami mereka masuk surga apa neraka?". Ujar mereka glagapan termakan pertanyaan mereka sendiri.

"Begini ya bapak-bapak. Saya menyikapi mereka berdua sebagaimana sikap Nabi Ibrahim a.s. Terhadap Orang-orag yang berbuat lebih keji dari mereka berdua:

(فمن تبعني فإنه مني، ومن عصاني فإنك غفور رحيم)

"Maka orang yang mengikutiku dia adalah dari golonganku. Orang yang mendurhakaiku maka sesunggunya Engkau adalah Dzat yang Sangat Maha Pengampun lagi  Penyayang".
(QS: Ibrahim 36.)

Atau seperti sikap Nabi 'Isa Ruhullah kepada orang yang lebih bejat dari mereka berdua:


(إن تعذبهم فإنهم عبادك، وإن تغفر لهم فإنك أنت العزيز الحكيم)

"Jika engkau akan menyiksa mereka, mereka adalah hamba-hambamu, dan bila engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya engkau adalah Dzat yang maha perkasa lagi bijaksana".
QS: Al-Ma'idah 118.

Ungkap sang Imam dengan telaten dan penuh kasih sayang mencoba menjelaskan kepada mereka.

Setelah mendengar penjelasan sang Imam mereka menyarungkan pedang mereka dan bersimpuh di kaki beliau, mereka bertaubat menangis, dan menyesali perbuatan mereka di masa lampau.

*****
Alhasil:

Demikianlah apabila Iman, Alim, Taqwa dan dan Wara' berkumpul pada diri seseorang, tidak akan gentar menghadapi masalah apapun meskipun nyawa sebagai taruhan.

Begitu pula apabila seorang Da'i, berdakwah dengan bekal ilmu yang cukup, disertai niat tulus dan kasih sayang, tidak didasari sebuah kepentingan ataupun agar semakin terpandang, pasti akan diterima oleh semua kalangan dan akan membawa ketentraman.

****

Kalau dipikir-pikir secara nalar sehat kaum teroris jauh lebih logis dari kita yang hanya ribut dalam urusan dunia. Bukankah kita yang rusuh dan saling hujat hanya karena berbeda ormas, Tokoh panutan dan pilihan politik, lebih buruk dari mereka pra teroris yang berjuang demi agama meski dengan pemahaman yang salah?!.

Kami merindukan sosok pemersatu sepertimu wahai Imam, yang bisa mengatasi problem-problem di negeri kita yang sering kali didasari fanatik buta sebuah kelompok, tokoh agama, ormas dan politik.
 رضي الله عنه ونفعنا به.

Post a comment

0 Comments