Begini Perayaan Maulid di Masjid Bermenara Tanah Liat Tertinggi di Dunia

Bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang sangat istimewa bagi seluruh umat Islam, bagaimana tidak, pada bulan itulah dilahirkannya Sang Pembawa Risalah; Nabi Muhammad SAW. Maka bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang sangat dinanti-nanti oleh muslim seantero dunia. Berbagai macam ekspresi kebahagiaan ditampakkan untuk menunjukkan kegembiraan atas kelahiran Sang Pembawa Risalah; Nabi Muhammad SAW. Tidak terkecuali di kota Tarim, tempat saya menuntut ilmu.

Warga kota yang berada di provinsi Hadhramaut, Yaman, ini juga turut serta merayakan maulid Nabi Muhammad SAW.

Kota yang terkenal dengan sebutan kota seribu wali ini tidak asing lagi dengan istilah peringatab Maulid. Karena dalam setiap minggu, tepatnya pada malam Jumat, pembacaan maulid rutin diadakan hampir diseluruh pelosok kota ini. Mulai dari pembacaan maulid Dhiya'ullami', maulid Habsy, Barzanji, Burdah, dsb.

Khusus pada bulan Rabiul Awal, acara maulid dikemas dengan perayaan yang lebih meriah. Biasanya diistilahkan dengan sebutan maulid kubro (maulid besar-besaran).

Kota Tarim juga terkenal dengan banyaknya masjid-masjid kuno di dalamnya, kota yang tidak lebih besar dari satu kecamatan di Indonesia ini memiliki masjid dengan total sekitar 360 masjid yang tersebar di seluruh pelosok.

Seperti halnya di Kota Banjarmasin, apabila bulan maulid maka acara maulid dilaksanakan di mana-mana, begitu juga dengan Kota Tarim, khusus pada bulan Rabiul Awal, perayaan maulid digilir dari masjid ke masjid.

Selasa lalu selepas sholatShubuh, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal, giliran Masjid MuhdhorTarim yang menjadi tempat perayakan maulid besar-besaran tersebut. Masjid tua yang terkenal dengan menara tanah liat tertinggi di dunia ini mengadakan maulid tepat sehabis sholatShubuh. Cuaca yang dingin tidak menyurutkan minat warga untuk menghadiri perayaan maulid tersebut. Terbukti dengan melimpahruahnya jamaah hingga keluar masjid. Tampak ekspresi kegembiraan di wajah para jamaah, baik yang anak-anak, remaja, sampai kakek-kakek. Semuanya merasakan hangat kebahagiaan, gembira dengan peringatan lahirnya Baginda Rasulullah SAW.

Dengan disuguhi wedang kopi jahe (gohwah) khas Tarim, sudah cukup bagi para jamaah untuk menghangatkan tubuh mereka dari cuaca yang lumayan sangat dingin karena bertepatan dengan permulaan musim dingin di sini.

Mereka pun bukan hanya sekedar hadir, akan tetapi peringatan maulid bagi mereka sebagai pemupuk rasa  cinta kepada Nabi Muhammad SAW, meneladani kembali sosok yang dicinta, serta sebagai penyemangat untuk terus mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW.

Turut berhadir juga dalam acara tersebut Habib Umar bin Hafiz, Habib Ali Masyhur (ketua mufti Tarim), dan para habaib (plural: Habib) lainnya, paraaMasyaikh (plural: Syeikh).

Masjid MuhdhorTarim

Masjid yang berjarak sekitar 2 km dari tempat kami kuliah (Universitas Al Ahgaff) ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu berupa bangunan dan menara tingginya yang terbuat dari tanah liat.

Tidak ada data valid yang menyebutkan tahun pendirian masjid tersebut, yang jelas masjid yang dibangun oleh syekh Umar Al Muhdlor bin Abdurrahman Assegaf ini tidak melampaui tahun 833 H/1430 M.

Jika menziarahi masjid ini, Anda pasti akan terkagum-kagum pada desain dan ornamen-ornamen yang sangat artistik. Simbol ciri khas bangunan model Yaman begitu menonjol pada setiap detail arsitektur masjid ini. Dan yang paling mempesona dari masjid Muhdlor adalah menaranya. Menaranya murni terbuat dari labin, yaitu tanah liat yang dikeringkan tanpa dibakar dengan kerangka batang pohon kurma, tanpa menggunakan besi sedikitpun.

 Menaranya berbentuk persegi empat, berdiri tegak setinggi 34 meter, dengan lima tingkatan yang semakin ke atas semakin mengecil di setiap tingkatannya.  Bercatkan kapur putih bersih membuat menara ini tampak gagah nan indah sehingga menjadi pusat pemandangan angkasa Tarim.

Hinga saat ini menara Muhdhor menjadi menara tertinggi di dunia yang terbuat dari tanah.

Ada cerita yang tersebar dari mulut ke mulut di kalangan penduduk Tarim akan menara masjid ini. Konon pada saat pembangunan menara, tukang batu yang diserahi tugas untuk membangun menara tersebut takut karna tidak lazim membuat bangunan dari tanah liat setinggi 40 meter. Kemudian Imam Muhdlor naik ke tiang seraya membawa manguk yang berisi air, lalu mangkuk dijatuhkan dari ketinggian, ajaib! Mangkuk tersebut jatuh sampai ke tanah tanpa menumpahkan isinya walau setetes pun. Lalu Beliau berkata kepada tukang batu tersebut: “Kujamin keselamatanmu seperti air yang ada di dalam mangkuk ini”. Setelah itu, barulah si tukang berani menjalankan tugasnya dengan mantap dan semangat.

Meski sudah berusia ratusan tahun, keindahan menara masjid Muhdlor tidaklah luntur, bahkan semakin di makan usia semakin menampakkan keunikannya sebagai salah satu khazanah peradaban umat Islam di kota kecil namun menjadi sumber ilmu para penuntut ilmu dari belahan dunia ini.

Menara masjid Muhdlor juga menjadi ikon lambang kota Tarim. Selain itu, Masjid Muhdlor juga merupakan salah satu tempat yang sering diadakan acara keagamaan di Kota Tarim, selain maulid seperti yang kita ceritakan di atas, masjid ini juga mengadakan acara rutinanan semacam khataman Al Quran. majlista'lim, dll.

Posting Komentar

0 Komentar