Artikel; Sosok Replikasi Zuhud Zaman Ini


Sosok Replikasi Zuhud Zaman Ini

Oleh : M. Iqbal Abdurrohman (Mahasiswa tingkat tiga, fakukltas Syariah wal Qonun, universitas al Ahgaff)

As-Syekh al-Mutawadhi' al-Alim Mufti tarim Muhammad bin Ali Ba'udhon, dosen mata kuliah Fiqih di Universitas al-Ahgaff, Tarim.

Mungkin yang terlintas di benak kita tatkala mendengar sosok bergelar seperti itu adalah sosok yang berwibawa, berjubah, berimamah dan berjenggot. Nyatanya tidak. Justru yang terlihat adalah sosok yang sederhana dan bersahaja.

Jika kita mengenal di abad ke 6 Hijriah hidup seorang Imam dengan ķesungguhannya, hanya makan satu suapan di waktu malam dan seteguk air di waktu sahur. 

Maka di zaman ini kita dapat menyaksikan sendiri sosok yang juga makan siang hanya dengan sebutir kurma dan kadang jika ada ditambah sebutir apel atau jeruk.

Jadi tak berlebihan kalau Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy berkomentar tatkala berkesempatan datang ke kota Tarim, dan duduk satu majlis dengan beliau, "Ketika duduk bersama Syekh Ba'udhon saya merasa hidup di zamannya Imam Nawawi".

Dosen pengajar mata kuliah Fiqih dengan kitab muqoror "Minhajut Tholibin wa Umdatul Muftin" karya Imam Nawawi, seperti judul kitabnya 'kitab pegangan para mufti' itu beliau ajarkan tanpa membawa kitab, karena maklumat yang ada sudah beliau hafal di dalam kepala.

Setiap kali mengajar selalu tepat waktu, bahkan selalu datang 15-30 menit sebelum dijadwalkan. Jadi sangat mustahil brliau terlambat, apalagi sampai absen tidak mengajar.

Pakaian yang beliau kenakan begitu sederhana, dan andai diperhatikan pakaiannya seolah itu-itu saja. Konon, beliau hanya mempunyai dua setelan pakaian, yang apabila satu dicuci, beliau mengenakan pakaian yang lain. Ditambah satu pakaian khusus dipakai di hari jumat dan hari raya.

Hari-harinya di isi dengan mutholaah kitab, mengajar dan ibadah. Sebuah rutinitas yang tidak bisa diganggu gugat. Bahkan katanya, hingga jadwal ke hamam (kamar mandi) nya pun terjadwal di waktu yang sama.

Tak heran juga kalau beliau mendapat julukan "abu farid" di kalangan orang sekitar, maksudnya adalah "Ijen" (sendiri), saking istimewanya beliau dan tidak ada duanya.

Dan masih banyak lagi keistimewaan lainnya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan hanya bisa dirasakan oleh hati.

Semoga Allah Swt memanjangkan umur beliau dalam kesehatan dan afiah.

=====

Terus dukung dan ikuti perkembangan kami lewat akun media sosial Ahgaff Pos di;

Facebook: facebook.com/AhgaffPos
Telegram: t.me/ahgaffpos
Instagram: instagram.com/ahgaff.pos

Posting Komentar

0 Komentar