Artikel; Profesionalisme dalam Berorganisasi


Profesionalisme dalam Berorganisasi

Oleh: Muhammad Topan Nasrun (Mahasiswa Tingkat Dua, Universitas Al-Ahgaff

Organisasi bagi para mahasiswa adalah sebuah tempat untuk melatih bakat dan keterampilan sebelum dirinya beranjak ke medan yang sesungguhnya. Demi melatih emosi dan bagaimana belajar bersikap agar tidak mudah 'baper' tatkala menghadapi sebuah masalah.

Namun, ketika organisasi ini masuk ke dalam ranah yang lebih klasik seperti pondok pesantren, seringkali ia dipandang sebelah mata dengan berbagai model. Ada yang membangun opini dengan kata "khidmah", kemudian membuat susunan secara mantiq dengan muqaddimah yang rusak: "khidmah itu harus ikhlas" "kalau nggak ikhlas ngapain khidmah". Ada juga yang membenturkannyadengan belajar: "organisasi ganggu pelajaran, jadi jangan terlalu seriuslah".

Nah, hal ini membuat para santri kadang meninggalkan profesionalisme dalam berorganisasi, bahkan ada yang sekadar "titip nama" kemudian menerima sertifikat seakan telah berafilasi penuh kepada organisasi tersebut. Padahal, bukankah didalam hadits kita diajarkan untuk menekuni pekerjaan kita? Rasulullah bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)

Dari Aisyah r.a, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional” (HR. Thabrani dan Baihaqi).

Didalam kitab "Al-Islam wal Gharb" (Islam dan Negara Barat), as-Syekh as-Syahid Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi menceritakan kekecewaan beliau kepada para dai masa kini, yang selalu mendengungkan kalimat "islam akan bangkit" tapi tak memberikan solusi dan upaya terencana dalam mengimplementasikan kalimat tersebut. Untuk tercapainya tujuan dibutuhkan profesionalisme yang tinggi dimulai dari perencanaan, manajemen yang baik, kordinasi yang akurat, hingga pengawasan yang teratur. Bukan hanya sekedar semangat yang tinggi dan teori yang berbelit belit. Sampai-sampai sering sekali kita mendengar istilah:

"الحق بلا نظام يغلبه الباطل بنظام"

Kebenaran yang tidak terorganisir akan kalah dengan kebatilan yang terorganisir.

Dalam kitab "Al-ahkam as-Shultoniyyah" karangan al-Imam al-Mawardi, "At-tibrul Masbuk fii Nasiihatil Muluk" karangan al-Imam al-Ghazali, "As-siyasah as-Syariah fii Islahil aarai Warraiyyah" karangan Ibn Taimiah menjadi saksi bahwa semua memiliki aturanya, bahkan di dalam skala yang lebih besar, seperti satu negara. 

Persoalan organisasi bukan ketakutan baru bagi kalangan santri. Tapi, yang perlu kita ketahui, bahwa organisasi dan belajar bukan suatu hal yang kontradiktif, bahkan berorganisasi juga termasuk pembelajaran, khususnya dalam organisasi yang bertujuan pendidikan. Apalagi jika dibenturkan dengan kata "yang penting ikhlas". Bukankah bekerja setengah hati bukti diri Anda juga kurang ikhlas? Waallahu 'aalam. (IN)

=====

Terus dukung dan ikuti perkembangan kami lewat akun media sosial Ahgaff Pos di;

Facebook: facebook.com/AhgaffPos
Telegram: t.me/ahgaffpos
Instagram: instagram.com/ahgaff.pos

Post a comment

0 Comments