Artikel; Menemui Nabiyullah Hud As. di Lembah Ahqaff


Menemui Nabiyullah Hud As. di Lembah Ahqaff

Oleh: Alan Maulana, Mahasiswa tingkat akhir, fakuktas syariah wal qonun, universitas Al Ahgaff

Masyarakat Hadhramaut mempunyai tradisi ziarah ke makam Nabi Hud As. setiap tahunnya, yaitu tanggal 7-10 sya’ban. Musim ziarah ini dihadiri oleh ribuan peziarah yang tidak hanya datang dari provinsi Hadhramaut saja, tetapi juga dari luar hadhramaut, bahkan dari luar Yaman, termasuk Indonesia.

Ziarah biasanya dilakukan oleh perorangan atau dengan bersama-sama yang dipimpin oleh seorang yang di tuakan dari keluarga habaib tertentu yang disebut dengan istilah munshib. Ziarah ‘ammah atau ziarah bersama-sama ini memiliki tata cara khusus yang di warisi dari apa yang dilakukan oleh para leluhur mereka, dan hal ini sudah menjadi tradisi yang turun menurun.

Tartib Ziarah

Sebelum pelaksanaannya, peziarah dipersilakan mandi atau berwudhu di sebuah sungai yang letaknya dekat dengan Syi’ib (lembah) Hud. Selesai mandi mereka menuju Hashoot syeikh Umar Muhdhar, sebuah bangunan yang sudah diwakafkan menjadi masjid. Di tempat inilah bacaan al-Fatihah, Yasin dan doa dikumandangkan bersama.

Dari Hashoot mereka berduyun-duyun menuju Bi’ru at-Taslim sambil terus menyuarakan kalimat Subhaanallah wa al-hamdulillah wa laa ilaaha illa Allahu wa Allahu Akbar. Sesampainya di Bi’ru at-Taslim, jamaah berhenti dan mengucapkan salam untuk arwah para nabi dan malaikat. Setelah itu perjalanan berlanjut menuju maqbarah Nabi Hud As. Sebelum jamaah duduk dan sang munshib memimpin pembacaan surat Fatihah dan Hud, mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw, Nabi Hud As, para nabi lain dan para malaikat sambil berdiri. Jeda Maghrib dan Isya’ digunakan untuk membaca surat Hud dan Ratib al-Imam al-Haddad secara bersama-sama kemudian mereka salat Isya’ berjamaah.

Ziarah ‘ammah yang dilakukan oleh keluarga habaib atau kabilah tertentu juga memiliki jadwal pelaksanaanya masing-masing. Pelaksanaanya di mulai pada pagi hari tanggal 8 Sya’ban oleh keluarga Al-Habsyi dari Hauthoh yang dinisbahkan kepada Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi. Lalu sorenya oleh keluarga Al-habsyi dari Seiyun yang dinisbahkan kepada Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Shohibul Maulid).

Saat ziarah tanggal 9 Sya’ban pagi, keluarga Balfaqih, yang dinisbahkan kepada Habib Abdurrahman bin Abdullah Balfaqih (المشهور بعلامة الدنيا), mendapat kehormatan untuk membuka mata acara ziarah. Setelah itu dilanjutkan oleh keluarga Al-Haddad yang dinisbahkan kepada Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad (shohib ar-ratib) dengan tertib yang sama, disusul keluarga Hamid bin Umar Hamid pada sore harinya.

Saat prosesi ziarah mencapai puncaknya, yaitu tanggal 10 sya'ban, maka giliran keluarga Bin Syihab, yang dinisbahkan kepada Habib Ahmad Syihabuddin, untuk memulai ziarah.

Dan setelah itu, diteruskan oleh keluarga Syekh Abu Bakar bin Salim sekaligus menjadi penutup dari ziarah akbar Nabiyullah Hud As. yang mana seluruh habaib dari berbagai marga - yang memiliki tartib ziarah di hari-hari tertentu seperti keterangan atas - berkumpul dan berarak-arakan mendatangi makam Nabi Hud As. dengan membawa bendera dan tongkat panjang yang ujungnya dipasang Quba’ (semacam topi berbentuk kerucut). 

Selanjutnya mereka beranjak turun menuju Naaqoh (sebuah batu besar untuk bernaung dengan duduk di sampingnya). Mereka berjalan turun dengan terus mengumandangkan dua bait qasidah :

إن قيل زُرْتم بمَا رَجَعْتُمْ * يا سيّد الرُّسْـلِ مَا نَقُـوْل
قُوْلُوْا رَجَـعْنَا بِكُلِّ خَيْر * وَاجْتمع الْفَرْع وَالْأصُوْل

Sesampai di Naaqoh, mereka duduk dan memulai jalsah dengan bacaan fatihah, sambil mendengarkan hadhrah (kumpulan shalawat dan qasidah). Saat waktu dirasa cukup, maka salah seorang da’i dari rombongan peziarah berdiri untuk memberikan ceramah kepada hadirin.

Naaqoh menjadi tempat terakhir, karena setelah dari sini mereka menuju kediaman masing-masing keluarga. Munshib bertugas menyambut tamu-tamu yang datang. Bagi yang berkenan bisa mendapatkan ilbas (seperangkat pakaian seorang ulama yang dibungkus, berbentuk kerucut sepeti topi kurcaci yang dipakaikan di kepala untuk tabarruk).

Dalam pandangan ulama Tarim, syi'ib Hud ibarat sebuah charger (ces baterai) dan para peziarah adalah baterai-baterai yang siap dices untuk mendapatkan tambahan tenaga, sehingga performanya untuk menjalani hidup dan beribadah semakin optimal, karena di tempat ini berkumpullah an-nafahaat al-ilaahiyyah wa al-asraar an-nabawiyyah (anugerah ketuhanan dan rahasia kenabian). Rasulullah Saw. menyuruh kita untuk selalu menghadirkan diri dalam setiap waktu dan tempat turunnya anugerah Ilahi. Pun pula, mereka menghadiri ziarah ini dengan harapan tergolong هم القوم لا يشقى به جليسهم. Sehingga mendapat madad (pertolongan) dari Allah Swt. 

Wallahu a’lam bi as-shawaab.

NB: Disarikan dari kitab ad-Dur al-Mandhud fi akhbar qobr wa ziyaroh an-Nabi Hud, karya Fahmi bin Ali bin Ubaidun at-tarimi al-hadhrami.

Post a comment

0 Comments