Panggung Santri dan Nasionalisme

Panggung Santri dan Nasionalisme
Oleh : Muhammad Abdur Ro'uf 

“Jika kau masih meragukan nasionalisme kami, ketika suatu saat pasukan Amerika datang kemari menjajah apa saja, maka kami adalah barisan rakyat paling depan, bertempur dalam arena siap mati. Itu adalah sejarah masa lalu dan fakta masa depan. Sedangkan para pejabat yang setiap Senin upacara bendera, akan lari terbirit-birit tunggang-langgang menyelamatkan diri dan sibuk membuat pernyataan di media”.


Kaum santri adalah pembela negara sejati. Santri memang tidak pernah setiap hari Senin pagi berbaris rapi di lapangan upacara. Santri tidak tahu bagaimana caranya memegang senjata setegap tentara. Santri juga tidak tahu protokoler keamanan kalau tiba-tiba Indonesia diserang. Namun, sejarah berkata dalam diam, santri dengan dipimpin para kiai telah melakukan perlawanan di berbagai daerah melawan penjajah. Mulai dari ujung barat Aceh dengan para Tengku dan Teuku, Jawa dengan Pangeran Diponegoro, Kiai Hasyim, Kiai Wahab dan para kiai lainnya, lalu memanjang sampai timur Indonesia dengan Sultan Hasanudin.

Pemerintah memang tidak pernah memberikan penyuluhan tentang bela negara kepada santri. Semangat patriotisme lahir dari dalam ajaran agama yang setiap hari mereka pahami. Nabi juga pernah berkata bahwa beliau adalah orang Arab dan mencintai Arab. Ini adalah bentuk nasionalisme. Maka dari itu, kaum santri sangat menjunjung tinggi semangat patriotisme dan nasionalisme. Semboyan mereka, Hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah potongan iman!


Tuduhan miring yang dipukulkan kepada santri bahwa mereka adalah kaum apatis negara adalah salah. Mereka beber kehidupan santri yang mereka gambarkan sendiri sebagai kehidupan kaum miskin yang nrimo apa adanya. Mereka juga menutup-nutupi sejarah. Jadilah sejarah terbungkam dalam diam panjang.


Tanggal 22 Oktober 1945, ketika tentara Belanda datang membonceng NICA lalu bermaksud kembali menjajah Indonesia lewat Surabaya, Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan Resolusi Jihad yang berisikan beberapa butir. Salah satunya berisi bahwa jihad hukumnya wajib ain bagi semua penduduk yang berada dalam radius dua marhalah dari zona tempur. Ketika itu, semua santri bergerak. Walau tanpa penguasaan senjata yang matang, mereka menjadi barisan lapis depan yang berani mati.


Resolusi Jihad ini juga direspon santri-santri Madura dan Jawa Timur. Akibat dari Resolusi Jihad ini, meletuslah pertempuran paling legenda sepanjang sejarah Indonesia. Pertempuran itu adalah pertempuran 10 November 1945 yang sekarang menjadi hari pahlawan.


Mulai tahun lalu (2015) pemerintahan Presiden Jokowi telah mersemikan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Hari peringatan itu diresmikan atas desakan PBNU untuk memperingati Resolusi Jihad yang merupakan andil besar dalam pergerakan patriotisme Indonesia. Dengan ini diharapkan agar sejarah perjuangan kaum santri tidak akan dilupakan bangsanya sendiri.


Habib Luthfi Pekalongan saat kecil mendapat jewer di kupingnya. Bukan sebab apa-apa. Dia begitu riang mencabuti tiang bendera sebab Agustusan sudah usai. Bendera di depan rumahnya pun tak luput dari sasarannya. Namun, ketika bendera sudah dicabut, Habib Luthfi menaruhnya di tanah. Dari belakang, ada tangan kuat yang menjewer kupingnya. Dia pun mengaduh. Ternyata itu adalah tangan abahnya (seingat penulis) atau kakeknya. “Bendera ini memang murah dan gampang dibikin, cuma kain merah sama kain putih. Tapi berapa banyak darah yang harus dibayar agar bendera ini bisa berkibar!”

Post a comment

0 Comments