Indonesia Santri Club (ISC); Club Santri Kreatif yang Menginspirasi

INDONESIA SANTRI CLUB (ISC), CLUB SANTRI KREATIF YANG MENGINSPIRASI

Perayaan Hari Santri Nasional kini menjadi isu yang hangat dibicarakan. Diresmikannya 22 Oktober sebagai Hari Kaum Sarungan tersebut ternyata memancing kontra dari beberapa pihak. Banyak yang belum mengerti dari esensi perayaan Hari Santri ini.


Berangkat dari inilah, Indonesia Santri Club (ISC) yang merupakan acara diskusi Pra Perayaan Hari Santri Nasional berhasil diselenggarakan pada Rabu malam di Auditorium fakultas syari’ah Universitas Al-Ahgaff Tarim, Hadhramaut.


Diskusi santai dengan tema “Menggelorakan Kembali Semangat Resolusi Jihad Dan Patriotisme Santri Untuk Negeri” itu dengan menghadirkan 6 pembicara yang dibagi dalam tiga grup, yaitu Perwakilan dari Organisasi Masyarakat, Kiyai Rifqi Ridho sebagai ketua PBNU didampingi Tg.Thohirin Shodiq sebagai Ketua Front Pembela Islam.


Perwakilan dari Kenegaraan, H. Sa’dun Daim Sunyotoh yang menjabat sebagai Pakar Sejarahwan dengan ditemani Bpk. Luqman Muthohar dengan jabatan Menteri Agama.


Serta perwakilan dari Cendekiawan Muda Muslim Indonesia, Prof. Imam Rahmatullah dengan Drs. Jihadul Muluk.

Masing-masing pembicara di beri kesempatan untuk memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan Perayaan hari Santri ini dengan durasi waktu 15 menit.

Dari kubu Ormas, Thohirin memaparkan secara mendetail kronologi Resolusi Jihad beserta para ulama yang turut berkecimpung dalam peristiwa ini, misalnya Kiyai Abbas Buntet yang membentuk Laskar Santri dan membentuk benteng pertahanan di Surabaya kala itu. Mahasiswa tingkat akhir ini juga menyesalkan para ahli sejarah yang tidak memasukkan resolusi jihad ini ke dalam buku-buku sejarah. Sehingga para pelajar sama sekali tidak mengetahui kejadian-kejadian seperti ini. Singkat kata, resolusi jihad merupakan sejarah yang terlupakan.

Sa’dun Daim dalam paparannya menerangkan secara panjang lebar kronologi peristiwa 10 november yang dengan semangat para pahlawan berkobar, mereka mampu mempertahankan kemerdekaan NKRI.

“9 November merupakan peperangan terbesar yang terjadi di Nusantara. Walaupun dengan personil yang sedikit, pahlawan kita mampu berperang dan meraih kemenangan atas lawannya” Ungkapnya.

Menanggapi persoalan tidak dibukukannya resolusi jihad ini ke dalam buku-buku sejarah. Perwakilan cendekiawan muslim Indonesia, Jihadul Muluk menerangkan bahwa itu tidak mesti harus dilakukan. Karena khawatir akan menimbulkan kecemburuan sosial.

Imam Rahmatullah menambahi, bahwa asumsi itu kurang tepat, karena, Negara kita telah mengakui Kiyai Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional. Dengan demikian, hal pembukuan secara mendetail itu tidak perlu dilakukan.

Alur diskusi berjalan alot. Paparan-paparan pembicara tidak serta-merta di telan mentah-mentah oleh para audiens. Sesi akhir tanya-jawab para audiens pun memanas diskusi malam itu.

Pelajaran yang bisa dipetik dari Perayaan Hari Santri adalah :

Santri yang dimarginalkan oleh sebuah kepentingan seakan mereka tidak punya pendidikan. Tapi berjalan waktu, santri menunjukkan taringnya, bisa menembus ke segala penjuru.

Hikmah dari resolusi jihad adalah memberi pesan positif kepada seluruh warga negara Indonesia bahwa kemerdekaan NKRI bukanlah diperoleh dengan cuma-cuma. Akan tetapi, melalui semangat mempertahankan kemerdekaan dengan bersatu-padu semua golongan.

Pemahaman jihad untuk saat ini adalah berjihad dengan ilmu pendidikan dan pengetahuan, memberantas kemaksiatan. Bukan lagi memakai senjata tajam.

Di akhir kata, Rifqi Ridho berpesan bahwa Hari Santri bukan hanya milik orang NU. Tapi milik semua umat islam Indonesia.

Acara yang dimoderatori Bung Karniitsbat ini berakhir ketika jam menunjukkan pukul 23.00 KSA.

Bravo Hari Santri. Wallahua’lam. (Aidil/red).

Ketua Panitia Perayaan Hari Santri Nasional : Zudine Munawwar

Post a comment

0 Comments