Al-Laa Madzhabiyyah: Anti Madzhabisme, Wajibkah bermadzhab dalam islam?


Tarim - Untuk kesekian kalinya Departemen Pendidikan AMI (Asosiasi Mahasiswa Indonesia) Al-Ahgaff kembali menyelenggarakan acara rutinannya yaitu Forum Diskusi (FORDIS) yang diselenggarakan pada Jumat malam (18/3) bertempat di Mushalla Bawah sakan Dakhil ini mengangkat tema "Al-Laa Madzhabiyyah: Anti Madzhabisme, Wajibkah bermadzhab dalam islam?".

Banyaknya peserta yang menghadiri acara diskusi ini membuat tempat yang disediakan menjadi penuh, bahkan ada yang rela mengikuti acara sampai akhir tanpa alas duduk.

Dirasakan memang penting untuk mengangkat tema yang disajikan, terlebih akhir-akhir ini banyak sekali orang yang menyerukan untuk tidak bermadzhab dengan dalih bahwa islam hanya bersumber dari Al-Qur'an dan Al-Hadist maka tidak ada jalan lain untuk beragama (baca: beribadah) dalam islam selain dengan mengikuti apa yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW,

Sungguh suatu perkataan yang tiada salah namun ternyata bila ditelaah dengan seksama, maka kita akan mengetahui bahwa perkataan tersebut ditujukan untuk sesuatu yang batil, pasalnya perkataan tersebut digunakan justru untuk menafikan amaliah bermadzhab tanpa menginsyafi bahwasannya imam-imam madzhab juga mengambil hukum hanya dari Al-quran dan hadist dengan kapabelitas dan kredibelitas yang dimilikinya.


Adapun yang tampil sebagai narasumber pada acara FORDIS kali ini adalah saudara Abdul Muhith, beliau adalah mahasiswa tingkat akhir di Universitas Al-Ahgaff juga menjabat sebagai Sekjen PPI Yaman. Sedangkan tampil sebagai pembanding adalah saudara Rifqi Ridho yang juga mahasiswa tingkat akhir di universitas yang sama.

"Anti Madzhabisme adalah bid'ah paling berbahaya dalam meruntuhkan syariat Islam" tutur Uli bahari yang menjadi moderator kali ini, mengutip perkataan DR. Muhammad Ramadhan al-buthi untuk memulai acara.

Setelah menyampaikan pembukaanya, demi menghemat waktu, moderator langsung saja memberikan kesempatan bagi narasumber untuk mempersentasikan makalahnya.

Dalam penjelasannya, Narasumber mengatakan bahwasanya menurut para ulama, seorang mukallaf ditinjau dari korelasinya dengan hukum syari'at terbagi menjadi tiga,

Pertama: mukallaf sekaligus mujtahid yang memiliki kapabelitas dalam memahami nash dan istinbat hukum.

Kedua: mukallaf sekaligus muqallid (awam) yang tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menghukumi suatu masalah berdasarkan Nash.

Ketiga: mukallaf sekaligus 'alim namun belum sampai derajat mujtahid, yang ketiga ini mengetahui dalil dan mampu mentarjih.

Dari ketiga pembagian di atas maka bagi seorang mujtahid yang memiliki kemampuan untuk menggali suatu hukum langsung dari nash, wajib mengamalkan berdasarkan hasil ijtihadnya dan tidak boleh taqlid pada orang lain.

Sedangkan bagi orang awam yang belum mampu untuk itu padahal ia dituntut untuk mengamalkan ibadah-ibadah yang diwajibkan kepadanya, maka tidak ada jalan baginya selain bertanya dan mengikuti seorang imam mujtahid yang lebih faham akan nash dari hukum ibadah tersebut. Adapun untuk yang ketiga ia boleh mengamalkan hasil tarjihnya bila itu diakui (mu'tabar).

Selain itu, narasumber juga menjelaskan kriteria apa saja sehingga seseorang bisa dikatakan mujtahid menurut madzhab Syafi'i diantaranya: harus baligh, berakal, faqihun nafsi, dan memiliki pengetahuan tentang; bahasa arab, dalil aqli, permasalahan ijma', nasik dan mansukh, asbabun nuzul, khabar mutawatir dan ahad, sohih dan dho'if juga keadaan seorang rawi, serta ada lagi beberapa syarat yang masih diperselisihkan para ulama seperti 'Al-adalah'.

Beliau juga menjelaskan sebab-sebab yang mempengaruhi perbedaan ijtihad para imam mujtahid di antaranya: perbedaan dalam qira'at, kurangnya pengetahuan tentang hadist, syak dalam tsubutnya hadist, perbedaan dalam menafsirkan nash, isytirak dalam lafadz suatu nash, adanya dalil yang saling bertentangan, tidak adanya nash dalam suatu masalah dan perbedaan dalam kaidah-kaidah ushulnya.

Namanya saja Forum Diskusi maka sudah pasti ada pertanyaan dan kompromi yang terjadi di dalamnya, seperti pertanyaan yang diajukan oleh Muhammad Abdurrauf mahasiswa tingkat dua di Universitas Al-Ahgaff, "apakah bermadzhab masih sesuai atau relevan dengan kondisi dan zaman?".


Pertanyaan tersebut kontan saja diberondong oleh berbagai jawaban yang datang dari peserta diskusi. "bermazhab masih bisa dan relevan dalam mengatasi masalah-masalah baru yang terjadi dan akan terjadi, dengan cara tahqiqul manath : mentanzil (menurunkan/menyesuaikan) hukum-hukum yang telah digali oleh imam-imam mujtahid terdahulu kepada masalah-masalah baru yang dihadapi", tutur gus Imam (Imam Rahmatullah), mengawali berondongan jawaban tersebut.

Sedangkan Ahmad Subhan mengatakan "kaidah-kaidah ushul yang telah dibangun oleh para Imam mujtahid dijadikan mujmal (global) tujuannya adalah agar terus relevan dan dan sesuai dengan perubahan zaman, sehingga bisa menjawab permasalah-permasalahan yang baru kapan pun dan di mana pun".

Menambahkan pendapat yang ada, Ra isbath (Muhammad Itsbat) mengatakan "kata relevan itu jangan digunakan untuk menghalalkan sesuatu yang haram hanya demi kesesuaian kondisi dan zaman, seperti sebagian orang yang mengatakan bahwa fiqh itu konservatif, kuno dan sudah usang, hanya karna tidak menghalalkan sesuatu yang haram yang baru datang dan dianggap modern, lalu mereka baru mengatakan bahwa fiqh itu relevan bila sesuai dengan hawa dan nafsu mereka, akan tetapi kata relevan itu berarti kemampuan kaidah-kaidah ushul yang telah dibuat dalam menjawab permasalahan-permasalah yang baru sesuai dengan dalilnya".


Di akhir-akhir acara ada pembicaraan terkait tema diskusi,yaitu seputar, Apakah seorang awam memiliki mazhab?' Pertanyaan ini dijawab oleh Rifqi Ridho sebagai pembanding dengan menukil ibaroh "Al-Aamiy laa madzhaba lahu, bal madzhabuhu madzhabu man aftaa bihi" maknanya: seorang yang awam itu tidaklah bermazdhab selain dari madzhab yang dianut mufti yang ia tanya. Beliau juga mengatakan "ketika seseorang sudah masuk kedalam lingkupan agama, maka wajib baginya untuk bertanya, sebab ia dituntut untuk melakukan amaliah-amaliah tertentu dalam agama yang ia anut".

Acara yang dimulai pukul setengah sembilan malam waktu Yaman ini harus berakhir pukul sebelas malam tepat. Diharapkan dengan diselenggarakannya Forum Diskusi ini dapat mengasah lebih tajam lagi jiwa kritis kita. Kedepan diharapkan pula acara serupa dapat terus diadakan dengan tema yang lebih menarik lagi. (Red/Daniel Fatahillah).


Post a comment

0 Comments