Meraih Kejayaan dengan Menjunjung Koeksistensi [ Reportase Diskusi Perdana, Rabu 10/10/12 ]


Tarim – Mengawali kiprah perdananya dalam menghidupkan dunia intelektual, Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) Universitas Al-Ahgaff, Yaman, melalui sayap intektualnya, Forum Diskusi (Fordis) menggelar acara bedah buku. Acara yang dihelat di Auditorum Ahgaff Center, Tarim, pada Rabu (10/10) tersebut mengangkat tema “"Liyan, Koeksistensi, dan Pluralisme". Hadir selaku pemakalah, Nawawi Muhammad, dan M. Badrut Tamam, yang berperan sebagai pembanding.


Tema ini diangkat oleh pemakalah setelah beliau bereksplorasi terhadap konsep pemikiran Dr. Hani Ahmad Faqih, - Dosen di Universitas Islam Madinah - melalui kitabnya "Khuthuwat fii Fiqh al-Ta'ayusy wa Tajdid” (Beberapa langkah dalam Fikih Koeksistensi dan Fikih Pembaharuan). Menurutnya, kitab ini menarik untuk dibahas karena dianggap relevan dengan karakter kebhinekaan Bangsa Indonesia.


Acara semakin menarik karena diskusi perdana tersebut juga dihadiri para tamu istimewa. Mereka adalah Habib Hasan al-Jufri (Mandub Universitas Al-Ahgaff untuk Indonesia), Ustadz Hamdani Abdul Qoyyim (Alumnus), Habib Ali bin Hasan al-Jufri (Pengasuh Ponpes al-Khoirot Palu), dan Bpk. Achmad Zainal Huda, selaku perwakilan dari KBRI Sana’a. Acara  launching Fordis secara resmi dibuka oleh Habib Ali bin Hasan Jufri tepat pukul 22.00 KSA. Selain itu, kehadiran beberapa pelajar dari Hudaidah dan Zabid juga turut menyempurnakan suasana.


“Saya sangat mengapresiasi semangat diskusi kawan-kawan mahasiswa Al-Ahgaff”, ujar Pak Huda dalam sambutannya. 


Selain memberi sambutan, Pak Huda juga ikut berpartisipasi hingga diskusi berakhir.


Sesi Presentasi
M. Hammam, moderator diskusi malam itu, memulai acara dengan menyebutkan sekilas tentang curriculum vitae dari masing masing pemakalah dan pembanding. Bermodalkan wajah dan watak  yang humoris, rekan Hammam mampu memulai  acara tersebut dengan mengundang sedikit gelak tawa dari kurang lebih 300 mahasiswa yang hadir.


Mengawali presentasinya, Kang Nawa – demikian narasumber akrab disapa - mengajak diskusan untuk flashback mencermati sejumlah tragedi yang mencemarkan toleransi beragama di Indonesia selama dua dekade terakhir. Tragedi Monas, konflik antar agama di Ambon, pengusiran Ahmadiyah di Cikeusik, hingga kerusuhan Sunni-Syiah di Sampang, tak luput dari uraiannya.  


Sejumlah kejadian tersebut, dalam pandangan Kang Nawa, setidaknya memberikan gambaran yang cukup terang bahwa umat beragama di tanah air masih ”tidak cukup cerdas” dalam menyikapi perbedaan. Khususnya dalam menjalankan kehidupan berdampingan antar - sekte yang beragam. Keadaan tersebut semakin mengecewakan, karena hingga saat ini, diskusi – diskusi yang menggelinding di publik, masih berkutat pada persoalan, misalnya, Apakah sekte A sesat atau tidak ?.


Kita, imbuh Kang Nawa, seakan – akan hidup dalam sebuah keadaan yang dibatasi garis demarkatif. Siapa yang berada di luar garis itu adalah ”orang lain” atau – meminjam istilah makalahnya – disebut liyan. Diskusi rumah dinding yang ekslusif tersebut, kemudian berimplikasi pada klaim bahwa siapa saja yang berbeda pemahaman dengan kita, maka bukan dari golongan kita.


Berangkat dari permasalahan itulah, pemakalah yang juga mantan Ketua Umum PPI Yaman periode 2009 – 2010 tersebut mengemukakan alasannya mengapa memilih buku karangan Dr. Hani Faqih Ahmad sebagai fokus kajian. Dalam kacamata analisisnya, buku ini dianggap mampu meluruskan persepsi serta angin segar pemahaman. Karena membawa spirit untuk menjalani kerukunanan dan kesadaran hidup bersama (koeksistensi) dengan liyan tanpa mengesampingkan perbedaan prinsip. Apalagi  perbedaan itu sendiri telah lahir dan tumbuh sejak dahulu, bahkan mendapat legalisasi dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Salam.


”Buku ini meski ditulis di Kota Madinah, tapi seakan-akan berbicara tentang Indonesia”, ungkapnya.


Selanjutnya, poin penting dari buku itu yang menarik untuk dikaji adalah bagaimana penulis mengkonsep tata cara hidup (ta’ayus) dalam bingkai multikulturalisme, keragaman (al-ta’addudiyah), atau dalam istilah ideologi Bangsa Indonesia, disebut : kebhinekaan.


Dalam menyikapi perbedaan agama misalnya, Dr. Hani menyebutkan bahwa : asas ikatan hubungan antara orang muslim dan yang lainnya adalah persaudaraan (ukhuwwah), bukan aqidah. Selama mereka (orang non – muslim) tidak melakukan penyelewengan terhadap Islam. Namun lantas muncul pertanyaan, apakah lantas Islam memberi celah kepada non-muslim untuk mengisi pos – pos strategis pemerintahan ?, bahkan lebih lanjut, akan menimbulkan disfungsi amar ma'ruf nahi munkar ?.


Dr. Hani menjawab bahwa selama kafir itu tidak melakukan tindakan penyelewengan terhadap Islam maka : No Problem.  Apalagi dalam catatan sejarah Dinasti Abbasiyah, Dinasti Mamalik, Dinasti Umayyah dan dinasti- dinasti Islam yang lain, sejumlah posisi strategis pemerintahan diisi oleh orang-orang Yahudi. Dan uniknya, supremasi kejayaan Islam Andalusia justru diraih dalam kondisi pemerintahan yang bersifat plural, dibawah pimpinan seorang sultan. Salah satu buktinya, tambah Kang Nawa, adalah prosentase buta huruf yang mencapai angka nol persen di era Islam Andalusia.  


”Sejarah telah berbicara bahwa kita mampu meraih kejayaan ketika menjunjung tinggi koeksistensi”, kata mahasiswa yang mengaku pengagum Ibnu Khaldun itu. 


 Ia lantas menambahkan, bahwa pembahasan mengenai koeksistensi tak akan pernah lengkap tanpa membincangkan satu isu krusial lainnya : egalitarianisme (al-musaawah). Dalam hal ini, teks – teks agama yang menjelaskan tentang keunggulan salah satu ras atas ras yang lain, harus diinterpretasi ulang.


Dalam pandangan Dr. Hani, semua bangsa berpredikat sama. Tidak ada yang lebih unggul atau terungguli. Adapun hadis yang mengemukakan bahwa bangsa Arab lebih utama daripada bangsa yang lain tidak bisa dijadikan hujjah bahwa bangsa Arab – dalam posisinya sebagai sebuah komunitas (al-kuliiyah) -- lebih utama dari yang lain. Argumen yang dipaparkan Dr. Hani cukup rasional : pertama, redaksi hadis hanya menunjuk anak-anak Nabi Ibrahim, bukan Bangsa Arab secara global. Dan jika hadis itu dapat diarahkan kepada keunggulan Bangsa Arab secara global atas ras yang lain, maka mestinya, ayat al-Qur’an yang menegaskan secara eksplisit atas keunggulan Bani Israil juga bisa menunjukkan bahwa Bangsa Israel adalah yang paling utama.


Kedua, Ibnu Katsir mengajukan pendapat menarik dalam menafsiri ayat tersebut : bahwa maksud diutamakannya bangsa Israel atas bangsa yang lain dalam ayat itu bersifat temporal, karena waktu itu Allah mengutus banyak sekali Nabi dan Rasul dari Israel. Menurunkan kepada mereka banyak kitab samawi, dan menjadikan dari mereka raja. Pendekatan tafsir ini mungkin bisa juga diajukan untuk menakwil Hadis di atas ; bahwa keutamaan bangsa Arab bersifat temporal di mana hadis itu ada. 



Ketiga, firman Allah bahwa yang paling mulia dari kalian adalah yang paling bertakwa kepada Allah serta sebuah hadis Nabi bahwa tak ada keistimewaan bagi Arab atas non-Arab kecuali dengan ketakwaan, bisa kita ajukan sebagai dasar proyek egalitarianisme dalam kehidupan sosial-keagamaan. Bahwa semua manusia adalah sama, punya hak-hak yang sama, punya kewajiban yang sama. Tak ada yang membedakan mereka kecuali ketakwaan mereka pada Allah Swt.


* * *
Diskusi yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa ini, semakin menambah rasa antusiasme diskusannya ketika sang pembanding, Ust. Ahmad Badrut Tamam B.Sc  menyampaikan beberapa tanggapannya tentang isi makalah yang baru dipresentasikan. Beliau menegaskan bahwa term pluralisme pada zaman sekarang telah disalah artikan oleh beberapa oknum kekinian sehingga melenceng dari makna aslinya.


Terkait masalah tersebut, mahasiswa yang baru saja mengakhiri masa khidmahnya sebagai Rais Syuriah PCI NU Yaman tersebut menyatakan ketertarikannya menanggapi pembahasan pemakalah tentang kemungkinan terjadinya disfungsi amar ma'aruf mahi munkar, ketika koeksistensi dan toleransi (al-tasaamuh) diterapkan dalam masyarakat yang plural. 


Dalam hal ini, alumnus Pesantren Raudlatul Ulum Besuk, Pasuruan ini mengajukan konsep amar makruf nahi munkar perspektif Imam al-Ghazali dalam masterpiece-nya, Ihya’ Ulumuddin. Bagi Tamam, konsep al-Ghazali tersebut hadir dalam waktu yang tepat. Amar makruf nahi munkar harus di pandang melalui spektrum pemahamannya yang lebih luas. Bahwa klasifikasi amar makruf menjadi tiga : hati, lisan, dan tangan, meniscayakan sebuah hirarki dalam ranah praksisnya.  Hati adalah tugas khalayak awam yang menitik beratkan pada akar rumput (grass root) yang tak memiliki kekuasaan. Kemudian lisan, yang menjadi simbol Ulama dan para intelek – cendiekiawan. Sedangkan tangan, sebagai manifestasi nyata dari adanya peran pemerintah.

* * *

Sesi Tanggapan  

Diskusi semakin hangat ketika memasuki sesi tanggapan. Para diskusan yang sedari tadi telah berancang-ancang mempersiapkan pertanyaannya langsung serentak mengacungkan tangan. Mereka tampaknya benar-benar ingin membuktikan semboyan Fordis yang baru : Kritis dalam Menganalisis.


Bapak Achmad Zainal Huda, selaku perwakilan KBRI Sana’a, diberi kesempatan untuk berbicara. Dalam pandangannya, apa yang ditulis Dr. Hani dalam bukunya cukup revolusioner. Hal tersebut, imbuh Pak Huda, karena Dr. Hani adalah putra Arab Saudi yang hidup dalam situasi keragaman tafsir yang cenderung ”tertutup” dibanding Indonesia. Tetapi hal itu tak membuatnya pasif dalam mewacanakan pentingnya pluralitas. Namun di sisi lain, Dr. Hani juga dinilai kurang holistik dalam melakukan kajiannya. Terbukti, saat memaparkan negara – negara Islam Asia yang sukses dalam menjunjung tinggi keberagaman, ia hanya menyebut Malaysia dan sama sekali tidak mencamtumkan Indonesia. Padahal, tambahnya, keberagaman di Indonesia jauh lebih kompleks di antara negara – negara Asia lainnya.


Yang paling menarik adalah diskusan asal Situbondo, Hasan Basri. Jauh hari sebelum diskusi dilakukan, mahasiswa Syariah wal Qonun tingkat dua ini telah menulis makalah tandingan sebanyak lima lembar. Ia mengaku keberatan dengan sejumlah pokok pikiran Dr. Hani. Selain karena banyak pendapatnya tidak sejalur dengan mainstream, menurut Hasan, Dr. Hani sering menolak hadis yang tak sesuai dengan pemikirannya dengan berdasarkan penilaian dari Ulama’ mutaakhir, seperti Nahsiruddin al-Bani.  Padahal, ahli hadis klasik menganggap hadis tersebut sebagai hadis yang valid.

Insiden Mati Lampu
Acara yang sedang memuncak ketegangannya itu menjadi tambah menarik lagi ketika dikejutkan dengan insiden mati lampu. Anehnya, percaya atau tidak, insiden ini justru tidak sedikitpun memadamkan antusiasme para diskusan untuk melanjutkan kegiatan diskusi. Pertukaran paradigma dan wacana terus berlangsung dengan bermodalkan sedikit cahaya lampu cadangan hingga pukul 00.00 KSA. Tampaknya, antusiasme diskusan tak pernah mati sebagaimana padamnya lampu – lampu gedung yang tak berdaya tanpa hamparan listrik. Sungguh malam pertama yang melankolis.

Demikianlah sekilas reportase diskusi perdana yang diselenggarakan oleh FORDIS AMI Ahgaff sekitar kurang lebih seminggu sesudah hari pelantikan Pengurus baru AMI Al-Ahgaff periode 2012 – 2013 M. Sebuah manifestasi dari kepedulian pemuda – pemuda pelajar Indonesia terhadap bangsanya, yang tengah diuji dengan krisis akhlak dan krisis sosial. Sampai jumpa di diskusi selanjutnya !!!

[Reporter : A. Rajiv Muzakky]   

Peresmian Launching Perdana Fordis oleh Habib Ali bin Hasan al-Jufri




Narasumber, Kang Nawa, sedang mempresentasikan makalahnya dengan lihai




Bpk. Achmad Zainal Huda, Perwakilan KBRI Sana'a, saat sesi tanggapan




Tetap Antusias meski Listrik Padam

Post a comment

0 Comments