Kontroversi Istihsan


 [Laporan Kajian Bulanan]

Ahad 01 April 2012

Mengawali minggu perdana di bulan April, Ushul Fiqh Community (UFC) kembali menghelat kajian kontemporer bulanan. Jika pada kajian sebelumnya diisi dengan bedah buku, maka kajian kali ini lebih diproyeksikan untuk menelaah analisis teori usul fikih klasik melalui pendekatan komparasi antar-madzhab. Dengan menghadirkan Mohammad Hafidz Anshori sebagai pemakalah, diskusi kali ini mengusung tema Istihsan sebagai objek kajian. Acara dimulai pukul 20.00 KSA dan dihelat di Auditorium Ahgaff Centre, Gedung Fakultas Syariah Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadramaut.
 Rekan Hafidz, melalui makalahnya berjudul ; “Menyibak Tabir Kontroversi antara Pengusung dan Penolak  Istihsan (Telaah-Analisis Konsep Istihsan sebagai Dalil Syariat) ”, mencoba menghadirkan ‘wajah baru’ dalam mendedah salah satu dalil syariat yang – meminjam bahasa makalahnya – masuk dalam “dimensi dalil yang diperselisihkan”. Makalah yang ditulis sebanyak 6 halaman tersebut diawali dengan mengutip perkataan Imam Syafi’i yang sudah cukup populer ‘man istahsana fa qod syarro’a’, “Siapa yang ber-istihsan, maka sungguh dia telah membuat syariat baru ! “. Dan sesuai dengan judulnya, makalah tersebut memang secara spesifik ditulis untuk ‘menyibak’ poros kontroversi antar dua kubu, pengusung dan penolak Istihsan, yang cukup penuh mewarnai literatur studi usul fikih klasik.

Mahasiswa semester 8 (tingkat IV) Fakultas Syariah asal Madura ini menjadikan beberapa kitab primer masing-masing kubu sebagai rujukan utama. Dari kubu Syafiiyyah ada kitab al-Mustashfa fii Ilmi al-Ushul karya al-Ghazali, sedangkan dari kubu pengusung (dalam hal ini kalangan Hanafiyyah), Kitab Kasyful Asraar Syarh Usul Bazdawy karya Abdul Aziz al-Bukhory, masih menjadi pilihan utama yang dianggap representatif untuk menjabarkan konsep Istihsan perspektif madzhab Hanafy. Dan tak lupa, dari kalangan pemikir kontemporer, Hafidz merujuk pada kitab Atsaru al-Adillah al-Mukhtalaf Fiiha Fil Fiqh al-Islami, karya Dr. Musthafa Dib Bugha.

Acara yang –-terbilang-- berlangsung menarik ini cukup menghadirkan paradigma-paradigma yang berbeda dari berbagai sudut pandang. Diskusan juga semakin  diperkaya dengan penyajian beberapa permasalahan partikular yang dibangun di atas pondasi Istihsan yang ’tercecer’ dalam hampir seluruh kitab fikih madzahib arba’ah. Persinggungan pendapat menjadi tak terhindarkan, terutama saat sesi dialog. Tapi selama dua setengah jam dialog, acara yang dimoderatori Hamidi Haris ini berlangsung kondusif. 

Untuk selanjutnya, UFC Ahgaff berencana akan  membedah buku Ushul al-Fiqh wa ‘Alaqotuhu bil Falsafah (Usul Fikih dan Korelasinya dengan Filsafat) karya mufti Mesir terkemuka, Prof. Dr. Ali Jum’ah. Bedah buku ini merupakan upaya awal bagi aktivis pecinta ushul fiqh Universitas Al-Ahgaff, terhadap pendedahan isu-isu kontemporer dalam studi usul fikih dari berbagai aspek epistemologi ; baik teori konseptual, sejarah, metodologi, perbandingan antar madzhab, korelasi dengan cabang ilmu lain, serta beberapa aspek kajian lainnya yang akan dibahas dalam proyek diskusi ke depan. “Dengan demikian, kajian ushul fiqh diharapkan bisa benar-benar komprehensif, menyentuh ke berbagai aspek penting yang meliputinya”, tutur Nuril Izza Muzakky, koordinator UFC. (Dzul Fahmi)



Post a comment

0 Comments